Menyedihkan.. Dua Ekor Pesut Mati Terjaring di Rokan Hilir

Dalam satu bulan terakhir dua ekor pesut mati terlilit jaring nelayan di Perairan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Hewan langka dan dilindungi ini kemudian dikubur setelah petugas mengambil sampel sirip, kulit dan gigi untuk mengetahui apakah spesies ini ada hubungannya dengan pesut di Sungai Mahakam, Kalimantan.

Sore awal pekan ini, Ali Asman Daulay, Komandan Kapal Polisi IV 1105 Satuan Polairud Polres Rokan Hilir didatangi empat nelayan yang melaporkan seekor pesut (Orcaella brevirostris) tersangkut dijaringnya. Saat dilaporkan pesut telah mati dengan kondisi sirip dada dan sirip ekor terdapat luka lecet sementara di bagian lehernya terdapat bekas lilitan jaring. Pesut betina ini panjangnya 1,5 meter dengan berat 38 kilogram.

“Ada tiga nelayan dan satu toke datang hampir jam lima sore. Dilaporkan mereka bahwa ada pesut tersangkut jaring. Di sini namanya lumba-lumba songsong arus. Itu diketahui pas mereka angkat jaring jam tiga sore. Saya suruh bawa ke kantor. Lalu kita kuburkan dekat rumah warga,” ujar Kasat Polairud  Polres Rohil Iptu Sapto Hartoyo melalui Ali Asman kepada Mongabay.

(baca : Ada Bangkai Pesut Mengambang di Sungai Mahakam, Pertanda Apakah?)

 

Petugas Polairud Rokan Hilir Riau (kiri) bersama satu nelayan (kanan) berfoto bersama pesut (Orcaella brevirostris) yang mati tersangkut jaring nelayan di Perairan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Foto : Ali Asman Daulay/Polairud Polres Rohil Riau

 

Kematian pesut pekan ini merupakan yang kedua kalinya pada tahun ini. Pada 29 Maret lalu, finless porpoises atau lumba-lumba tak bersirip juga mati tersangkut jaring nelayan di Perairan Sinaboy, Rokan Hilir. Jika pesut yang mati pekan ini terjaring nelayan di posisi 16 mil dari pesisir, lumba-lumba tak bersirip terjaring hanya berjarak 3 mil dari daratan.

“Kalau yang bulan lalu lumba-lumba. Ada siripnya sedikit. Kejadiannya diketahui pagi hari jam tujuh pas mereka (nelayan) narik jaring yang biasa dipasang malam hari. Itu juga sudah kita kuburkan,” kata Ali Asman.

Nelayan yang jaringnya tersangkut pesut dan lumba-lumba tak bersirip tersebut biasa menangkap ikan senangin. Mereka memasang jaring yang kemudian ditarik beberapa jam setelah dipasang atau ditebar. Bahkan ada jaring yang ditebar malam lalu ditarik pagi esoknya. Besaran jaringnya sekitar tiga inchi.

(baca : Begini, Kondisi Pesut Mahakam di Teluk Balikpapan)

 

Pesut (Orcaella brevirostris) yang mati tersangkut jaring nelayan di Perairan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau diukur panjang tubuhnya sebelum dikubur. Foto : Ali Asman Daulay/Polairud Polres Rohil Riau

 

Menurut Ali, pihaknya telah mensosialisasikan satwa atau mamalia laut yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Sosialisasi dilakukan karena perairan Rokan Hilir  sepanjang 9.301 kilometer garis pantainya sering ditemui pesut dan lumba-lumba.

“Berdasarkan informasi yang kita dapatkan, sebenarnya (warga) sudah ada juga  yang makan. Mungkin warga kurang disosialissikan atau kurang pengetahuan (soal satwa dilindungi). Makanya kita lagi gencar-gencarnya sosialisasi supaya jangan menangkap mamalia laut. Kalau penyu biasanya dilepaskan warga,” jelas Ali.

Sementara itu Windi Syahrian petugas dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Padang, Satuan kerja Pekanbaru mengatakan, nantinya sampel pesut tersebut akan dikirim ke LIPI untuk identifikasi lebih lanjut.

“Dahulu kita berpikir pesut cuma ada d Sungai Mahakam yang habitatnya di perairan tawar. Namun tenyata di perairan laut juga ada spesies yang sama. Nah tujuan identifikasi DNA untuk mengungkapkan tingkat kekerabatannya,” kata Syahrian kepada Mongabay.

(baca : RASI: Zonasi untuk Pelestarian Pesut Mahakam Bakal Terwujud)

 

Proses pengambilan sampel DNA pesut (Orcaella brevirostris) yang mati tersangkut jaring nelayan di Perairan Panipahan oleh petugas BKIPM Pekanbaru Satker Panipahan beserta tim Satpolair Rokan Hilir, Riau. Foto : Ali Asman Daulay/Polairud Polres Rohil Riau

 

Proses pengambilan sampel DNA pesut (Orcaella brevirostris) yang mati tersangkut jaring nelayan di Perairan Panipahan oleh petugas BKIPM Pekanbaru Satker Panipahan beserta tim Satpolair Rokan Hilir, Riau. Foto : Ali Asman Daulay/Polairud Polres Rohil Riau

 

Panjang pesut (Orcaella brevirostris) yang mati tersangkut jaring nelayan di Perairan Panipahan, Rokan Hilir, Riau. Foto : Ali Asman Daulay/Polairud Polres Rohil Riau

 

Berdasarkan data dari WWF Indonesia, pesut merupakan spesies mamalia akuatik yang terkenal di Asia Tenggara karena karakteristik habitatnya. Namun sejak beberapa tahun terakhir popularitasnya semakin tinggi karena kehancuran habitatnya telah mengancam kehidupan lumba-lumba air tawar ini.

Di Indonesia, pesut adalah satu dari 35 jenis mamalia laut yang paling sering dijumpai sebagai tangkapan sampingan atau disebut bycatch oleh nelayan jaring. Habitat penting pesut adalah air tawar, payau atau perairan dekat pesisir.

Pesut paling terkenal adalah pesut Mahakam, Kalimantan Timur. Ini adalah satu-satunya pesut air tawar di Indonesia. Namun demikian pesut juga banyak dilaporkan terlihat di sejumlah sungai di Kalimantan Barat bahkan di perairan air laut seperti di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Dalam Daftar Merah IUCN, populasi pesut Mahakam masuk dalam kategori sangat terancam punah karena kehancuran habitat pendukungnya. Kini diperkirakan jumlahnya sekitar 75-80 ekor saja di Sungai Mahakam.

 

 

Pesut (Orcaella brevirostris) yang telah dibungkus sebelum dikuburkan di Rokan Hilir, Riau. Foto : Ali Asman Daulay/Polairud Polres Rohil Riau

 

 

Proses penguburan Pesut (Orcaella brevirostris) yang mati tersangkut jaring nelayan di Rokan Hilir, Riau. Foto : Ali Asman Daulay/Polairud Polres Rohil Riau