Gajah dari Leuser Mati Mengenaskan di Perkebunan Sawit

Gajah betina ditemukan mati di aliran sungai dalam konsesi perkebunan sawit dekat TN Gunung Leuser, Langkat. Foto: Ayat S Karokaro

 

 

Kabar duka datang dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Langkat, Sumatera Utara (Sumut). Selasa sore (18/4/17), pekerja pekebunan PT Perkebunan Inti Sawit Subur (PISS) di Desa Barak Gajah, Kecamatan Sei Lepan, menemukan satu gajah Sumatera mati, di aliran sungai. Ia berjarak 500 meter dari pemukiman penduduk.

Temuan ini menghebohkan warga. Mereka berduyun-duyun datang ke lokasi.  Jarak gajah mati ini dengan hutan TNGL hanya satu hingga 1,5 kilometer.

Pekerja perkebunan langsung menghubungi petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut). Pada Rabu (19/4/17),  petugas dua lembaga ini tiba di lokasi.

Herdianto, pekerja perkebunan PISS, dan sejumlah saksi mata diwawancarai Mongabay mengatakan, Rabu pagi (19/4/17) dia dan sejumlah buruh perkebunan melihat ada anak gajah di pinggir sungai di tengah kebun sawit.

Anak gajah itu menyiram-nyiramkan air ke tubuh gajah yang lebih dewasa, namun tergeletak tak berdaya di pinggir sungai. Anak gajah itu seakan mencoba menggoyang goyangkan tubuh dewasa yang ternyata sudah mati itu. Kejadian lebih satu jam.

“Aku dan beberapa teman sedih kali lihatnya. Mau nangis kami. Mungkin yang mati itu saudara atau teman bermain. Disiram pakai belalai. Diserup lagi air dari sungai, disiram lagi sampai ada satu jamlah,” kata Herdianto.

Kala makin banyak manusia mendekat, anak gajah itu pergi menjauh.

Tim evakuasi BBTNGL, langsung olah tempat kejadian perkara (TKP). Saat mendengar informasi ada anak gajah, tim TNGL menghubungi tim CRU Tangkahan untuk membantu mencari anakan yang terpisah dari rombongan besar itu.

Pencarian selama enam jam menemukan anak gajah sudah masuk ke hutan TNGL. Ardi Andono, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, BBTNGL mengatakan, anak gajah sudah bertemu rombongan besar dan telah digiring ke TNGL.

Setelah itu, mereka menghubungi tim medis Orangutan Information Centre (OIC) dan Veterinary Society for Sumatran Wildlife Consrvation (Vesswic), guna membantu evakuasi dan otopsi gajah mati itu.

Panut Hadisiswoyo, Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), menunjuk dokter hewan Ricko Laino Jaya memimpin otopsi gajah ini.

Dengan dua mobil dan satu traktor, dibantu tim The Human Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) OIC, dan tim BKSDA serta TNGL, dilakukan evakuasi gajah dari sungai ke daratan.

Proses evakuasi cukup lama,  sekitar tujuh jam lebih karena medan cukup sulit dan hujan lebat. Jalan berlumpur hingga menganggu proses evakuasi. Magrib hampir tiba, baru penarikan gajah berhasil.

Setelah evakuasi ke daratan, tampak tubuh gajah bersih. Kala tim BKSDA dan TNGL memeriksa kaki kiri belakang, terlihat ada keretakan tulang di pangkal betis. Tampak juga luka lebar diduga kena jerat tombak pemburu.

 

Albert Aritonang dari BKSDA Sumut, memeriksa kaki gajah mati di perkebunan sawit. Foto: Ayat S Karokaro

 

Kepala Seksi Wilayah II BBKSDA Sumut, Herbert Aritonang, memeriksa kaki luka tetapi meragukan kalau akibat jerat pemburu. Sebab, bagian samping belakang kaki tak luka. Dia bersama tim coba menelusuri lebih dalam penyebab luka di kaki gajah itu.

Proses pembedahan perut dilakukan dokter Ricko tim. Mereka mengambil sampel hati, jantung, dan sejumlah potongan tubuh gajah kemudian dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Tampak hati kebiru-biruan dan mengeras. Menurut Ricko, belum bisa menyimpulkan apapun penyebab kematian gajah ini, karena masih ada pemeriksaan lebih lanjut.

Ardi Andono, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, BBTNGL, mengatakan, gajah mati ini betina, diperkirakan berusia 10 tahun.

Lokasi temuan gajah, merupakan wilayah jelajah dari TNGL sejak dulu, sebelum izin pembukaan lahan diberikan pada PISS dan jadi perkebunan sawit. “Ini gajah liar dari TNGL,” katanya.

Dia bilang, setiap dua atau tiga bulan sekali, gerombolan gajah dalam jumlah besar selalu datang ke lokasi ini, untuk makan kemudian pergi. Sebetulnya,  lokasi ini dulu hutan produksi terbatas.

Wilayah ini, katanya, sering terjadi konflik antara gajah liar dengan manusia, maka mereka fokus pengawasan melalui tim Smart Patrol. Tim fokus wilayah ini dan Bekancan, karena ada jalan baru. Sei Betung di Skoci juga ada tim Smart Patrol.

Menurut dia, gajah mati berada di sekitar alur sungai karena sudah sifat satwa ini kalau ada sesuatu aneh pada dirinya akan mencari daerah dingin atau air.

Pada Desember 2016, di wilayah ini sudah dua kali evakuasi gajah terluka kena jerat, dan mereka obati.

“Data kita ada jerat terpasang, tetapi tak banyak. Kita akan terus operasi menekan perburuan maupun menjerat satwa dilindungi.”

 

Kemungkinan diracun?

Ardi mengatakan, dilihat secara fisik bagian luar tubuh gajah bisa saja mati diracun mungkin juga kematian wajar. Yang pasti, katanya, bakal terlihat dari otopsi dan visum tim medis.

“Jika dilihat fisik luar bersih, mungkin saja gajah mati diracun. Tapi kita tunggu hasil otopsi. Kita tunggu hasilnya.”

Panut menyesalkan kejadian tragis ini. Hutan dekat gajah mati dekat dengan perambahan Damar Hitam dan Skoci. “Ia memicu konflik. Tak bisa dihindari. Tragis sekali,” katanya seraya mengatakan, OIC, fokus orangutan tetapi tetap memantau konflik satwa lain.

 

Lalat tampak mulai mengerubungi kepala gajah mati ini. Foto: Ayat S Karokaro

 

 

Konservasi lansekap

Dia mengatakan, para pihak termasuk perusahaan bertanggung jawab besar atas kematian satwa ini baik mati alami atau sengaja dibunuh karena dianggap hama. Kejadian ini, katanya,  harus jadi momentum melihat konservasi dalam satu lansekap.

Berbicara konservasi Leuser, katanya, tak bisa sepenggal-penggal, harus keseluruhan. “Apakah terpregmentasi atau tidak? Jika terjadi, perjuangan menyelamatkan spesies langka seperti orangutan, badak, gajah dan harimau akan sia-sia. Keutuhan lansekap yang dilindungi.”

Perambahan di Sekoci dan Damar Hitam mencapai 10.000-an hektar. Hingga kini, BBTNGL belum mampu menangani, karena menyangkut kepentingan nasional. Balai, katanya, sudah menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Kalau betul satwa mati karena disengaja atau diburu atau diracuni, harus dibawa ke ranah hukum. Perjelas kenapa gajah betina bisa mati, dan apa tanggungjawab perusahaan untuk ini,” katanya.

Perusahaan, katanya, harus memiliki perencanaan mitigasi konflik yang jelas. “Harus mengetahui pasti, perkebunan mereka tanami sawit ini, berbatasan dengan hutan habitat satwa.”

“Saya ingin menanyakan kepada perusahaan, apakah mereka sudah punya perencanaan dan upaya-upaya mencegah konflik. Apa yang sudah mereka lakukan, agar ada dokumentasi baik bagaimana mereka mengelola perkebunan terhadap potensi konflik dengan satwa, ” ucap Panut.

Dalam prinsip sawit berkelanjutan, katanya, kalau ada satwa dilindungi dalam konsesi, maka bagian lahan itu tak boleh jadi kebun. “Perusahaan harus punya koridor satwa, hingga bisa kembali ke hutan tanpa harus terisolasi.”

 

Kebun sawit PT PISS, masuk wilayah jelajah gajah-gajah di TNGL sejak dulu. Foto: Ayat S Karokaro