Konservasi Kupu-kupu, Upaya Daawia Suhartawan Jaga Kekayaan Alam Papua

 

 

Hari Kartini jatuh pada 21 April, dan Hari Bumi setiap 22 April. Memperingati dua hari penting ini, Mongabay, menyajikan seri tulisan mengenai perjuangan dan upaya perempuan-perempuan dalam menjaga lingkungan dan alam. Mereka bekerja tanpa pamrih. Bagi para perempuan ini, memulai berbuat sesuatu bagi alam walau kecil lebih baik daripada tidak sama sekali. Mereka sosok-sosok inspiratif.

 

Pada edisi keempat ini mengetengahkan cerita dari Daawia Suhartawan. Dia dosen di Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua.

Daawia bukan pengajar biasa. Perempuan yang sudah 30 tahunan di Papua ini, juga aktif mengkonservasi serangga Papua terutama kupu-kupu.

Kecintaan Daawia pada kupu-kupu berawal dari perjumpaan dengan alm. Bruder Henk Van Mastrigt, misionaris asal Belanda sejak 1974 di Papua.

Baca juga: Cerita Para Perempuan Penjaga Mangrove dari Papua

Bruder Henk adalah kolektor kupu-kupu. Dari Bruder Henk, Daawia kala itu dosen Biologi belajar banyak tentang kupu-kupu mulai dari identifikasi jenis hingga bagaimana menyimpan koleksi.

Mereka berdua juga aktif mendampingi mahasiswa yang penelitian tentang serangga.

Penelitian terhadap serangga seperti kupu-kupu jadi sesuatu sangat penting, karena serangga parameter dalam menentukan mutu hutan.

Tahun 2005, mulai dibentuk kelompok entomologi Papua. Daawia sebagai salah satu yang merintis terbentuknya kelompok ini. Kelompok ini terdiri dari berbagai dosen, mahasiswa mauapun para pencinta kupu-kupu, yang bertujuan meneliti fauna serangga di Papua.

Dari penelitian ini diharapkan bisa diketahui titik-titik keragaman hayati hingga memberi dukungan dan sumbangan bagi upaya perlindungan hutan hujan tropis di Papua.

Baca juga: Naomi Srikandi, Berkarya, Suarakan Para Petani Pejuang Lingkungan

Kelompok ini menerbitkan majalah sederhana bernama Sugapa ( Suara Serangga Papua). Terbit empat kali dalam setahun. Kelompok ini juga terhubung dengan berbagai peneliti dan museum serangga di berbagai negara.

Kini koleksi kupu-kupu Bruder Henk diserahkan ke Kampus Universitas Cenderawasih di Jurusan Biologi Fakultas MIPA tempat Daawia mengajar. Laboratorium ini bernama Laboratorium Henk Van Mastrigt, berisi 72.000 koleksi specimen kupu-kupu ditambah specimen serangga-serangga yang lain dari Papua.

 

Koleksi kupu-kupu Bruder Henk diserahkan ke Kampus Universitas Cenderawasih di Jurusan Biologi Fakultas MIPA . Foto: Asrida

 

Daawia bersama mantan mahasiwa Evie Warikar juga bekerja sebagai dosen di tempat sama, mengelola laboratorium ini.

Meski koleksi lengkap, laboratorium ini minim perhatian. “Di sini kemarin Dirjen Dikti penjamin mutu universitas datang berkunjung. Mereka memuji koleksi di sini mengatakan harus dijaga baik. Kami susah payah survive.

Tak hanya laboratorium, upaya Daawia bersama tim untuk membuat kebun kupu-kupu di kampus juga mengalami banyak kendala. Lokasi kebun juga menjadi tempat tinggal masyarakat menyulitkan usaha mereka mengembangkan kebun kupu-kupu, ditambah perhatian kampus minim.

Pendekatan ke pemerintah, katanya, pernah dilakukan namun tak kunjung terlaksana. Hingga 2011, Daawia memanfaatkan pekarangan seluas satu hektar untuk kebun kupu-kupu.

“Saya berpikir, kalau saya tak mulai, semua hanya akan jadi mimpi. Saya sudah terlambat. Jadi lebih baik mulai dari halaman rumah sendiri. Semoga dari sini nanti orang bisa meniru menghargai alam.”

Berbekal pengetahuan tentang kupu-kupu, Daawia menanam berbagai tanaman makanan kupu-kupu. Setelah tanaman-tanaman itu tumbuh, kupu-kupu pun datang dan menghisap madu, termasuk kupu-kupu endemik Papua. Daawia juga mengamati tumbuhan liar di kebun yang ternyata tempat hidup kupu-kupu. Ragam jenis kupu-kupu sangat bergantung jenis tanaman.

“Pada kupu-kupu, untuk species A, makanan juga species A, tidak berebutan. Untuk sekian species, harus tanam sekian jenis tanaman, terutama saat masih berbentuk ulat.”

Tiap hari, Daawia observasi di kebun ini.

Daawia sering ditanya kenapa tak menanam tanaman yang bisa dimakan. “Kalau saya bilang untuk kupu-kupu, mereka bilang untuk apa nonton kupu-kupu?”

Daawia menyadari, perlu proses bagi masyarakat memahami apa yang sedang dia lakukan. Selain di rumahnya, bersama tim dia juga berencana mengembangkan kebun kupu-kupu untuk masyarakat di Cyclop.

Kebun kupu-kupu yang sekarang diharapkan bisa sebagai sumber bibit tanaman bagi siapapun yang ingin jadikan tempat mereka habitat kupu-kupu.

Untuk mengajak masyarakat, media yang digunakan Daawia adalah Facebook. Berbagai pengetahuan tentang serangga terutama kupu-kupu dibaginya, juga ajakan-ajakan apa yang dikerjakan mulai mempengaruhi orang lain.

Daawia mulai diminta memperkenalkan kupu-kupu di sekolah-sekolah, kelompok gereja hingga kelompok ibu rumah tangga.

 

Dawia Suhartawan (berkacamata), dosen di Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih Jayapura, Papua. Foto: Asrida Elisabeth

Perbandingan

Daawia studi master di Philipina dan kini studi doctoral di Jerman. Baik tesis maupun disertasi membahas kupu-kupu Papua. Di negara-negara yang dikunjungi, penelitian tentang serangga termasuk kupu-kupu sudah lebih maju dan memasyarakat.

Di toko bunga, misal, penjual sudah punya pengetahuan jika pembeli ingin kupu-kupu jenis tertentu datang ke halaman mereka, maka bibit bunga tertentu harus ditanam.

“Semua itu bisa terjadi karena perhatian megara terhadap konservasi cukup tinggi.”

Di Leiden, ada museum di mana tersimpan koleksi serangga terjaga baik termasuk kupu-kupu dari Papua. Kebun kupu-kupu juga ada, meskipun mereka harus menyediakan biaya besar untuk menghangatkan lokasi karena harus menyesuaikan dengan iklim tropis.

Orang dengan berbagai tujuan datang mengunjungi termpat itu baik rekreasi, belajar mauapun penelitian. Menanam bunga terbatas musim, saat musim dingin, tak bisa lagi.

“Saya pikir kalau buat kebun kupu-kupu di Papua tak perlu biaya besar seperti Eropa. Rasanya terlalu malas kalau kita tak buat.”

Perhatian terhadap konservasi di Indonesia, kata Daawia, memang masih kurang. Indonesia, cenderung mengembangkan bidan-bidang yang dalam satu dua bulan langsung menghasilkan uang, namun merusak alam.

Padahal, keragaman hewan dan tumbuhan terutama di Papua, bisa mendatangkan keuntungan dan dikelola berkelanjutan.

Daawia mencontohkan, bunga sakura sebagai daya tarik kunjungan wisata ke Jepang. Wisatawan tahu kapan harus berkunjung jika ingin menyaksikan sakura.

Di Papua, ada bunga lebih indah dari Sakura. “Flame of Papua, muncul tiga kali dalam setahun. Tak pernah diperhatikan. Juga ada anggrek Papua sampai 3.000 jenis belum banyak dipelajari Kita belum belajar menghargai apa yang kita punya.”

Selain itu, konsep membangun kota di dalam hutan juga mulai dikembangkan di banyak tempat di luar negeri. Hutan tak dimusnahkan. Jumlah pohon lebih banyak dari bangunan.

Alam memiliki pengaruh penting dalam membentuk karakter manusia. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa kondisi psikologi dan fisiologi orang dekat dengan alam dan di kota yang penuh kemacetan sangat berbeda.

“Pohon-pohon mengeluarkan zat kimia yang membuat badan sehat yang menghasilkan hormon antistress.”

Ada trend masyarakat hidup sehat, orang membeli obat herbal dan lain-lain. Padahal, katanya, berinteraksi dengan alam, sudah membantu manusia sehat.

“Perlu menjaga alam, karena akan ada banyak maaf balik yang kita peroleh dari sana.”

Daawia akan mengajak masyarakat punya taman-taman bunga agar kupu-kupu banyak tempat hidup. Foto: Asrida Elisabeth

 

Harapan

Papua satu dari tiga area terakhir di dunia dengan 80% hutan masih utuh dengan kehidupan liar. Menurut Daawia penting pemerintah dan masyarakat menyadari serta mengupayakan aksi penyelamatan.

Indonesia hutan alam terus terkikis. Keragaman hayati terancam karena perusakan hutan untuk berbagai kepentingan.

“Kita bisa melihat pembangunan secara fisik, gedung tinggi, jalan dan lain-lain. Semua bisa diciptakan. Kalau alam, semut biarpun kecil tak bisa diciptakan. Mereka bisa hilang bersamaan kerusakan hutan atau pembangunan serampangan.”

Lewat peran dia sebagai dosen, peneliti, dan pegiat entomologi, Daawia berharap bisa mengajak lebih banyak orang mencintai alam Papua dan menjaga agar terus lestari.

Daawia bermimpi, suatu saat laboratorium Henk Van Mastrigt akan menjadi museum semua koleksi tersimpan baik.

“Kalau museum biasa ada ruangan khusus penyimpanan, pameran dan penelitian. Di luar, bisa dilengkapi kebun kupu-kupu.”

Desain museum ini mulai dirancang, tinggal menunggu dukungan pemerintah ataupun pihak lain untuk mewujudkan.

Dengan kekayaan budaya Papua, katanya, sangat memungkinkan membuat kebun budaya (etnobotanical garden). Tempat ini terdapat suku dan tumbuhan serta hewan hidup bersama mereka sejak nenek moyang.

“Jika itu ada, akan menjadi spot menarik dunia dan bisa menghasilkan uang.”

Meskipun begitu, Daawia sadar, sulit mewujudkan mimpi itu di negara seperti Indonesia yang beranjak berkembang. Harapannya, mungkin bukanlah prioritas. Negara, katanya, belum menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar pembangunan.

Para pejabat, katanya, tak mengerti aset apa yang dimiliki dan bisa dikembangkan. “Butuh orang bijak yang mencintai alam sebagai pelaku pembangunan,” katanya.

Bagi Daawia, sebelum mimpi-mimpi besar terwujud, ingin memulai dengan yang kecil-kecil terlebih dahulu.

“Semoga bisa mempengaruhi orang ikut mencintai alam. Saya percaya alam tak bisa kita ciptakan, hanya bisa kita pelihara.”

 

Daawia (berkaca mata) bersama rekan di depan labortorium kupu-kupu. Foto: Asrida Elisabeth

 

 

 

(Visited 1 times, 2 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, , , ,