Pertemuan Bonn Challenge Asia Pasifik, Apa Manfaatnya Buat Kita?

Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera beberapa tahun lalu, tampak dari udara. Foto: Rhett A. Butler

 

Banyak yang bertanya, mengapa provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terpilih menjadi tuan rumah pertemuan Bonn Challenge Regional se-Asia Pasifik yang akan berlangsung di Palembang tanggal 9-10 Mei 2017 mendatang. Padahal Sumsel dalam beberapa tahun belakangan lebih sering disorot dengan persoalan kabut asap kebakaran lahan dan hutan.

Jawabannya, karena Sumsel amat sadar tentang berbagai tindakan tidak lestari di masa lalu. Asap hasil kebakaran lahan gambut dan hutan pun tidak hanya terjadi di Sumsel, namun juga di berbagai provinsi lain di Sumatera.

Dalam perjalanan waktu, Gubernur Sumsel Alex Noerdin sejak 2014 telah menginisiasi pendekatan yurisdiksional lewat inisiasi visi Green South Sumatra, yaitu melalui kemitraan pengelolaan lansekap secara intersektoral. Meliputi antar aktor dan wilayah dengan prinsip Public Private People Partnership. Diharapkan, aktivitas ekonomi dapat tetap berjalan, dengan kelestarian ekologi dan budaya yang tetap terjaga.

Dengan visi tersebut, pada Maret 2015, Alex Noerdin diminta memaparkan konsepnya pada Forum High Level Meeting Bonn Challenge di Bonn, Jerman.

Selanjutnya, dalam pertemuan di Bonn Challenge Regional Amerika Latin di Panama pada Agustus 2016, Alex Noerdin kembali memaparkan kemajuan restorasi lansekap di lahan gambut pasca kebakaran di Sumatera Selatan.  Dalam pertemuan itu, Sumsel pun lalu ditetapkan sebagai tuan rumah Bonn Challenge yang pertama untuk Regional Asia Pasifik.

Lalu apa keuntungan pemerintahan Indonesia terkait Bonn Challenge?

Tidak saja untuk Sumsel, maka Indonesia dapat menginformasikan kepada publik internasional bahwa kegiatan restorasi lansekap tidak hanya dilakukan di tingkat nasional, juga dilakukan pemerintah di tingkat sub nasional yang melakukan berbagai kegiatan restorasi hutan dan upaya penurunan emisi karbon.

Artinya, bagi Indonesia dapat mengemukan pledging atau janji berapa luas hutan atau lansekap yang akan direstorasi yang perlu difasilitasi oleh Bonn Challenge untuk mendapatkan dukungan internasional untuk mencapai target National Determine Contribution (NDC) pengurangan emisi gas rumah kaca sesuai Komitmen Paris.

 

Budaya, ekologi dan ekonomi

Terkait lansekap yang akan dibicarakan pada pertemuan Bonn Challenge Regional Asia Pasifik nanti, kita harus memahami pengertian lansekap yang secara umum diartikan sebagai bentang alam.

Hal ini berarti terdiri dari berbagai kegiatan ekonomi dengan berbagai sumberdaya alam terutama hutan yang banyak memberikan manfaat bagi keberlanjutan masa depan kehidupan, seperti ketersediaan sumberdaya air, keanekaragaman hayati dan iklim yang terjaga.

Dari segi ekologi tentunya bertujuan untuk pelestarian atau konservasi, merehabiltasi lahan-lahan yang terdegradasi dan merestorasi kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi dan habitat dari hewan-hewan yang langka.

Sebagai contoh di lansekap Sumatera, dijumpai berbagai satwa liar karismatik seperti gajah, harimau, dan badak.  Dengan demikian pengelolaan lansekap harus mengintegrasikan seluruh komponen yang ada di dalamnya baik komponen hidup maupun yang tidak hidup.

Pun karena di dalam suatu lansekap pasti ditemukan hasil karya budaya manusia sejak zaman prasejarah dan sejarah, maka penting untuk mengangkat nilai-nilai penting bagi peradaban manusia, yang juga harus terjaga.

 

Spirit Talang Tuwo untuk Lansekap Asia

Kita sebagai bangsa Indonesia harus berterimakasih dengan Kerajaan Sriwijaya yang telah membuat Prasasti Talang Tuwo, sebuah prasasti yang menjelaskan sebuah lansekap yang dikembangkan kerajaan tersebut di Asia Tenggara pada masanya.

Bayangkan, di tengah alam yang masih baik di masa itu, Raja Sriwijaya sudah beramanah agar manusia menjaga hutan, mengatur irigasi, dan bertanam buah-buahan dan tanaman tertentu untuk keberlanjutan masa depan makhluk hidup.

Pemikiran dan tindakan yang dimulai 1.300 tahun yang lalu itu ternyata memang menciptakan suku bangsa di Asia Tenggara hidup makmur dengan terus menjaga bumi yang lestari selama beberapa abad, sebelum masuknya masa eksplorasi alam yang tidak lestari.

Dengan fakta ini, mungkin apa yang diamanahkan Raja Sriwijaya dalam prasasti tersebut dapat dijalankan kembali oleh bangsa di Asia Tenggara maupun di Asia, sehingga hidup makmur dengan kondisi bumi yang lestari.

Saya kira dengan adanya ikatan batin untuk melestarikan spirit Sriwijaya dalam pelestarian lansekap, maka bangsa-bangsa Asia akan penuh semangat menghidupkan kembali tradisi yang menjaga hutan, satwa, dan berkebun dan bertani dengan tanaman tertentu, yang dapat memakmurkan semua makhluk hidup tanpa membuat lingkungan menjadi rusak.

Guna mewujudkan hal tersebut, kita harus selalu mensosialisasikan filosofi dari Prasasti Talang Tuwo, dan Indonesia harus siap kali pertama membuat suatu model kegiatan pengelolan lansekap sebagai best management practice  yang mengintegrasi budaya, ekologi, dan ekonomi.

 

* Dr. Najib Asmani, penulis adalah staff Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim dan Ketua Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumsel. Artikel ini merupakan opini penulis.