Bonn Challenge Asia Pasifik, Tantangan Tidak Sebatas Restorasi Lahan

 

Lahan gambut di Sepucuk, OKI, Sumsel, yang selama ini selalu terbakar, sekarang mengalami pembasahan. Semoga tidak kering saat kemarau tahun ini. Foto: Taufik Wijaya

 

Pertemuan tingkat tinggi Bonn Challenge untuk negara-negara Asia Pasifik di Palembang, 9-10 Mei 2017, selain menghasilkan komitmen sejumlah negara terhadap upaya restorasi di Sumatera Selatan, juga adanya komitmen tiga negara di Asia Selatan dan satu negara Asia Timur untuk merestorasi lahan tergedradasi seluas 1,65 juta hektare.

Komitmen empat negara tersebut disampaikan hari kedua dalam pertemuan yang digelar di Griya Agung, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (10/05/2017).

Dari Asia Selatan yakni Bangladesh berkomitmen akan merestorasi lahan terdegradasi seluas 0,75 juta hektare, Pakistan (0,1 juta hektare), Sri Lanka (0,2 juta hektare), dan Mongolia yang akan merestorasi 0,6 juta hektare.

“Ini hasil membanggakan,” kata Malik Amin Aslam Khan, Wakil Presiden IUCN dan Ketua Prakarsa Pertumbuhan Hijau Khyber Pakhtunkhwa dan Reboisasi Tsunami Pakistan.

Penambahan komitmen empat negara tersebut membuat target 150 juta hektare terlewati. “Beberapa waktu lalu di Kongres Konservasi Dunia IUCN di Hawaii, kami melewati 100 juta hektare, dan di sini lebih dari 150 juta hektare. Ini indikasi kuat terhadap pemulihan lahan yang rusak di seluruh dunia,” kata Horst Freiberg, Kepala Divisi Konservasi Hutan dan Pengelolaan Hutan, Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim yang Berkelanjutan, Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Konservasi Alam, Bangunan dan Keselamatan Nuklir, Jerman.

“Tantangan yang dihadapi Bonn Challenge bukan sebatas merestorasi hutan, juga sebagai upaya melakukan pertumbuhan hijau, alat mitigasi perubahan iklim, serta menciptakan lapangan pekerjaan hijau,” katanya.

Dijelaskannya, dalam memulihkan 350 juta hektare lahan yang terdegradasi hingga 2030, dapat menghasilkan sekitar 170 miliar Dollar per tahun. Itu semua didapatkan dari perlindungan daerah aliran sungai (DAS), peningkatan hasil panen dan hasil hutan, serta pembangunan pedesaan daalam mengurangi kemiskinan.

Iqbal Zafar Jhagra, Gubernur Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, menyatakan pihaknya menjanjikan 0,1 juta hektare untuk Bonn Challenge dalam Program Hijau Pakistan yang sudah dipelopori Perdana Menteri Pakistan H.E. Nawaz Sharif.

Mongolia yang mengalami kekehilangan hutan hampir 467.600 hektare, menderita kerugian ekologi dan sosial ekonomi. Terhadap upaya Bonn Challenge, Mongolia berkomitmen meningkatkan tutupan hutan dari 7,9 persen menjadi 8,3 persen, yang salah satu tujuannya mengatasi kekeringan di negara tersebut. Hal ini disampaikan Tungalag Ulambayar, Penasihat Tetap Menteri Lingkungan dan Pariwisata Mongolia.

Selanjutnya Sri Lanka berjanji akan memulihkan 200.000 hektare lahan hingga tahun 2020. “Kita siap meningkatkan tutupan hutan dari 29 persen menjadi 32 persen hingga tahun 2018,” kata Hon. Anuradha Jayaratne, Wakil Menteri Pembangunan dan Lingkungan Sri Lanka.

Meskipun adanya komitmen baru dari empat negara tersebut, tapi dalam pertemuan ini Pemerintah Indonesia tidak menyampaikan komitmen secara jelas. “Saya tidak berhak menyatakan komitmen atas nama Pemerintah Indonesia,” kata Gubernur Sumsel Alex Noerdin saat ditanya wartawan dalam jumpa pers.

Sebagai informasi pertemuan Bonn Challenge di Palembang yang diikuti 12 negara Asia diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Pemerintah Sumatera Selatan dan IUCN. Pertemuan ini mengidentifikasi cara berkolaborasi merestorasi lansekap hutan (FLR) yang didukung Bonn Challenge.

 

Peserta Bonn Challenge di Palembang yang terdiri dari perwakilan pemerintahan di Asia, lembaga konservasi, NGO, dan perusahaan, melakukan penanaman pohon di Sepucuk, Kabupaten OKI, Sumsel. Foto: Taufik Wijaya

 

Target 736 ribu hektare

Sumatera Selatan sebagai tuan rumah mendapat dukungan berkelanjutan dari negara-negara yang berkomitmen merestorasi lahan gambut dan mineral yang terdegradasi. Dijelaskan Alex Noerdin, di Sumatera Selatan sekitar 736 ribu hektare lahan rusak akibat kebakaran pada 2015,  lahan gambut maupun mineral. Lahan rusak ini yang menjadi target restorasi di Sumatera Selatan.

“Bantuan yang diterima bukan dalam bentuk uang, melainkan program,” kata Alex. Program ini dengan sasaran 11 titik target, sembilan di lahan gambut dan dua di lahan mineral, tepatnya di wilayah pegunungan di Semenedo, Kabupaten Muaraenim dan Pagaralam.

Najib Asmani, staf khusus Gubernur Sumsel bidang perubahan iklim, saat menyampaikan paparan mewakili Pemerintah Sumatera Selatan, menyatakan restorasi lahan yang terdegradasi itu sejalan dengan Pemerintahan Jokowi-JK. Yakni, merestorasi lahan rusak serta meningkatkan ekonomi para petani atau masyarakat pedesaan.

“Target di Sumsel bukan sebatas mengatasi ancaman perubahan iklim, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengembangkan jasa lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati, serta konservasi ekosistem.”

Usai paparan, Najib menjelaskan hingga 2020 target Sumatera Selatan sebanyak 400 ribu hektare yang akan direstorasi, dan hingga 2030 sebanyak 736 ribu hektare. Semua pihak, baik Pemerintah Sumsel, pemerintah pusat, lembaga lokal maupun international mendukung hal ini,” ujarnya.

Damayanti Buchori, Project Director Kelola SENDANG-ZSL, mewakili lembaga kemitraan Pemerintah Sumatera Selatan dalam menjalankan program lansekap berkelanjutan, di hadapan peserta menjelaskan Pemerintah Sumatera Selatan sangat mendukung upaya pengembangan restorasi dalam skema lansekap berkelanjutan. “Ini artinya berbagai kepentingan dapat memaknai kekayaan alam sehingga lestari dan berkelanjutan, baik ekonomi, sosial dan budaya.”

Terkait proyek Kelola SENDANG, dijelaskan Damayanti, dijalankan di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin seluas 1,6 juta hektare. “Sesuai spirit Kerajaan Sriwijaya, proyek ini bukan semata upaya penyelamatan ekologi, juga ekonomi, sosial dan budaya berkelanjutan.”

Selain melakukan pertemuan, pada hari pertama (09/05/2017), para peserta juga melakukan penanaman di lokasi restorasi gambut di Sepucuk, Kayuagung, Kabupaten OKI. Lokasi restorasi berada di tengah kosensi perkebunan sawit yang hampir setiap tahun mengalami kebakaran, termasuk 2015 lalu.