Cerita Sabarya, Mengolah Limbah Sabun oleh Pengidap Gangguan Jiwa

Kreativitas daur ulang plastik dan botol kini sudah banyak dan makin beragam. Tapi di Bali, ada yang beda. Bali sebagai destinasi wisata utama dengan puluhan ribu kamar hotel berpotensi menyisakan tumpukan sisa sabun tiap harinya. Ke mana limbahnya? Limbah kimia sabun berbahaya jika dibuang sembarangan dan masuk perairan atau tanah.

Sebuah inisiatif dilakukan sebuah komunitas orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Bali. Rumah Berdaya, nama tempat beraktivitas Kelompok Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Bali ini mengolah sisa-sisa potongan sabun hotel menjadi sabun utuh lagi. Dilakukan oleh ODGJ untuk mendukung pengobatan berkelanjutan rekan mereka yang belum terakses Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), program pertanggungan kesehatan pemerintah Indonesia.

Limbah sabun sudah diterima dari jaringan hotel Accor di Bali sekitar dua karung. Sisa sabun yang dipakai sedikit oleh tamu-tamu hotel ini menunggu diolah.

 

Pembuatan sabun daur ulang dari limbah sabun hotel yang dilakukan warga Rumah Berdaya, Bali, melibatan masyarakat umum dan komunitas orang dengan ganggungan jiwa (ODGJ) sebagai interaksi dan bagian pemulihan. Foto : Luh De Suriyani

 

Caranya sederhana dan mudah diaplikasikan di rumah. Ada banyak cara membuat sabun baru dari sabun lama. Sabarya, nama sabun dari Rumah Berdaya ini menggunakan cara dan alat sederhana yang ada di sekitar.

Sisa sabun dibersihkan dengan mengikis kotoran di permukaannya. Bisa dengan pisau atau alat lain. Agar benda melekat seperti pasir, helaian rambut, atau kotoran lain hilang. Sabun yang jauh lebih bersih ini direndam beberapa menit dalam cairan desinfektan khusus untuk sterilisasi dari kuman atau bakteri yang mungkin ada.

Setelah itu sabun diparut dengan alat sederhana untuk memudahkan proses penghancuran dengan ditim.  Tahapan ini perlu cukup lama tapi tak serepot memarut kelapa karena tekstur sabun lebih lembut.

Belasan ODGJ dipandu beberapa rekannya yang lebih berpengalaman terlibat dalam proses daur ulang sabun ini. Mereka bekerja sesuai kapasitas karena tiap ODGJ memiliki kemampuan berbeda sesuai dengan tingkat kepulihannya.

Setelah diparut, mulai lah proses menjadikan bubur sabun agar mudah dibentuk. Menggunakan kompor biasa dan panci dengan air, proses ngetim ini bisa berlangsung 1-2 jam tergantung api kompor. Saat parutan sabun mulai meleleh diaduk agar rata.

Penambahan esen atau pewangi serta pewarna kimia atau alami seperti bunga dan kopi dilakukan saat sudah jadi bubur ini. Setelah itu dimasukkan cetakan, Sabarya menggunakan cetakan berbentuk persegi panjang. Kemudian didinginkan sekitar 30 menit agar mengeras.

 

Limbah sabun yang diolah menjadi sabun daur ulang batangan, kemudian dipotong dan dibungkus. Pembuatan sabun daur ulang dari limbah sabun hotel yang dilakukan warga Rumah Berdaya, Bali, melibatan masyarakat umum dan komunitas orang dengan ganggungan jiwa (ODGJ) ini bisa mengurangi limbah sabun. Foto Luh De Suriyani

 

Sabun dalam cetakan sangat mudah dilepas dan dipotong hanya dengan benda tipis dan cukup tajam. Kemudian dikemas dengan kertas berisi informasi sabun Sabarya ini. Tagline-nya unik, Turun Tangan, Bukan Cuci Tangan. Lima batang sabun buatan 100% cinta ini dengan mengolah limbah ini dibarter dengan donasi 100 ribu yang sepenuhnya diberikan pada ODGJ yang belum mendapat akses JKN subsidi pemerintah. Sementara pengobatan harus rutin. Sejak diluncurkan awal April lalu, hingga akhr April ini donasi yang dikumpulkan Rp2,1 juta.

“Kami sudah mendaftar untuk mendapat Kartu Indonesia Sehat JKN, tapi sebagian belum dapat. Kalau pengobatan terhenti bahaya,” ujar Nyoman Sudiasa, salah satu pengelola Rumah Berdaya. Pria tengah baya ini pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Bangli saat gangguan jiwanya parah. Sebagian rekannya masih menunggu proses pendaftaran oleh Dinas Sosial dan desa asal.

Tiga warga Rumah Berdaya yang mendapat bantuan iuran JKN dari donasi Sabarya produksi pertama adalah Wayan Latra dan Putu Adi Baskara. Iuran JKN oleh peserta mandiri, tidak dibayari negara berkisar Rp25-60 ribu tiap orang per bulan tergantung kelas kepesertaan. Repotnya jika dalam satu Kartu Keluarga ada banyak anggota keluarga yang harus terdaftar seluruhnya jika sebagai peserta mandiri.

Rumah Berdaya mulai dibangun KPSI Bali yang dipimpin seorang psikiatri, I Gusti Rai Putra Wiguna pada 2006 bekerja sama dengan Agung Budi Kuswara dari Ketemu Project Space menempati bangunan aset Pemerintah Kota Denpasar. “Perawatan psikososial terbaik adalah memastikan mereka produktif, bisa berkarya dan bersosialisasi,” ujar dokter jiwa yang memilih program perawatan jalan atau homecare dibanding dikurung ini. Mengurung atau hanya memberi obat tanpa melatih otak bekerja tak akan memulihkan.

 

Aneka sabun daur ulang dari limbah sabun siap ditawarkan sebagai donasi untuk subsidi akses kesehatan bagi yang belum mendapat Kartu Indonesia Sehat. Foto Luh De Suriyani

 

Tak hanya daur ulang limbah sabun, ODGJ Rumah Berdaya ini juga mengolah kain bekas seperti sprei menjadi kemeja dan aneka kerajinan daur ulang lain yang bisa dikerjakan warganya. Tak sedikit pasien yang dalam kondisi skizofrenia parah makin stabil setelah menjalani atau dikenalkan dengan psikososial ini. Misalnya Wayan Sumartana yang tahun lalu dirantai oleh keluarganya kini sudah terbiasa membuat kerajinan bahkan naik motor sendiri ke Rumah Berdaya.

Luh Ketut Suryani, psikiater pendiri Suryani Institute of Mental Health (SIMH), pernah membuat perkiraan ada 3000 pengidap gangguan jiwa berat di Bali. Masih ada yang dipasung seperti diikat, kaki dimasukkan kayu, dirantai, dikunci, dan lainnya.

Rumah Berdaya masih terus bereksplorasi mengolah limbah sabun ini agar lebih bermanfaat dan bernilai. Cara mengolah dan kemasan terus diperbaiki agar lebih ramah lingkungan dan berkualitas. Mereka juga mengundang warga untuk ikut membuat bersama sebagai medium belajar dan berinteraksi dengan masyarakat.