Surga Tersembunyi Itu Ada di Hutan Nagari Sungai Buluh

Rumah pohon di lokasi ekowisata Nagari Sungai Buluh. Foto: Elviza Diana

 

Edo, laki-laki muda ini tampak bersemangat melangkahkan kaki mendaki menuju rumah pohon. Dia yang mengantarkan saya menuju tempat wisata itu. Rumah pohon dan Air Terjun Sarasah  Kuau,  merupakan dua destinasi wisata dalam paket ekowisata di Hutan Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Sejak Oktober 2016, paket ekowisata ini sudah rilis dan didatangi banyak pengunjung. Edo bilang, selama empat bulan ini pengunjung bisa 300-400 orang setiap hari. “Ramai datang ke sini, sehari bisa sampai 400 orang. Sejak bulan Maret mulai berkurang. Astrid, penyanyi itu pernah datang ke sini, “ katanya tersenyum.

Menjelang matahari terbenam, kami tiba di rumah pohon. Perjalanan memakan waktu hingga 30 menit. Bermandikan keringat, terbayar dengan suguhan pemandangan luar biasa.

Jejeran rumah di kelilingi hamparan sawah berselimut hutan hijau, perpaduan apik dan menenangkan. Bosan menghabiskan waktu di rumah pohon, bisa melanjutkan ke Air Terjun Sarasah Kuau dan menikmati kesejukan air bersumber dari Hutan Nagari Sungai Buluh ini. Meski berjarak kurang dari dua kilometer, tetapi medan menanjak dan curam membuat deru napas berkejar-kejaran.

Paket wisata ini bisa dinikmati dengan hanya membeli tiket masuk Rp5.000, jasa pengantar Rp30.000 untuk tujuh pengunjung. Berada tepat di pinggir Kota Padang, hanya memakan waktu sekitar 15 menit dari Bandara Internasional Minangkabau, sebenarnya menjadi pilihan wisata mudah dijangkau.

Beberapa kendala, seperti belum tersedia sarana kamar mandi, cuci dan kakus membuat pengunjung enggan. Ali Azwar Datuk Batuah, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari Sungai Buluh mengatakan, mereka terkendala beberapa fasilitas dalam pengambangan ekowisata ini.

“Kita belum ada kamar mandi, di rumah pohon itu. Jadi ini merepotkan pengunjung. Dalam waktu dekat ini kita akan membangun dengan duit kas terkumpul,” katanya.

Mereka juga perlu jalan setapak untuk pengunjung. Kalau kondisi hujan, jalan yang ada becek dan susah dilalui.

 

Budidaya jamur tiram. Foto: Elviza Diana

 

Paket ekowisata ini, salah satu dari rencana kerja hutan nagari yang sudah terwujud. Ali mengatakan, sejak SK penetapan areal kerja hutan nagari melalui SK nomor  856/Menhut-II/2013 pada 2 Desember  2013, kepada masyarakat Nagari Sungai Buluh seluas 1.336 hektar, mereka gencar mengajukan rencana kerja ke dinas-dinas terkait.

Kegigihan itu berbuah hasil dengan ada program-program berjalan seperti budidaya jamur tiram, pembibitan gaharu, pengembangan madu lebah dan ekowisata. “Kita memang melakukan program pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan perekonomian. Di sini banyak pemuda tak memiliki pekerjaan tetap.”

Mak Datuk, demikian sapaan akrabnya menceritakan, tak mudah menyakinkan masyarakat akan kehadiran hutan nagari di Nagari Sungai Buluh. Namun bencana galodo (banjr bandang) pada 2013 membuat masyarakat menyakini hutan bagian ekosistem penting kehidupan.

Sejak itu, mereka bahu membahu menjaga hutan. Bahkan sejak ada SK pengukuhan hutan nagari, masyarakat bergiliran patroli.

Sungai Buluh, nagari paling timur di Batang Anai, Padang Pariaman, berintegrasi langsung dengan hutan lindung di gugus Bukit Barisan. Topografi perbukitan dan kondisi hutan sangat mempengaruhi sistem kehidupan masyarakat.

Masyarakat nagari, terdiri dari delapan korong (jorong) itu memang mengandalkan hidup dari pertanian dan perkebunan dengan pengelolaan berbasis agroforest.

Karet, buah seperti durian, jengkol petai dan buah-buah lain tumbuh baik di kebun-kebun keloaan masyarakat, di kawasan berbukit.

Hutan di bagian hulu, tak terusik.  Hutan di gugus Bukit Barisan ini daerah tangkapan air 14 anak sungai yang mengalir di Nagari Sungai Buluh, sebelum menyatu ke Batang Anai.

“Dulu kami pengelola hutan nagari dan wali nagari pernah tangkap pelaku illegal logging beserta barang bukti kayu dan chainsaw, yang diserahkan ke pihak berwajib,” katanya.

Air yang mengalir di Sungai Buluah ini, merupakan sumber pasokan PDAM untuk ribuan masyarakat Padang Pariaman, termasuk kebutuhan air bersih Bandara Internasional Minangkabau.

Potensi ekowisata amat banyak di Padang Pariaman memerlukan sentuhan dan perhatian pemerintah. Hasan Basri, anggota Komisi I DPRD Padang Pariaman, mengatakan, selama ini sektor pariwisata dipandang bukan sumber utama pendapatan daerah yang menjanjikan. “Pemerintah harus benar-benar serius memajukan potensi-potensi ekowisata ini, karena banyak sekali belum terjamah dan terkelola baik.”

 

Air Terjun Sarasah Kuau. Foto: Elviza Diana

 

Mengasuh pohon di hutan nagari

Program pohon asuh di Sumbar sudah rilis sejak tahun lalu. Ada empat nagari memiliki program pohon asuh yaitu Hutan Nagari Sungai Buluh, Sirukam dan Simanau di Solok serta Hutan Nagari Simancuang.

Program ini kelolaan kelompok pengelola hutan nagari (KPHN) di masing-masing nagari, bersama dengan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi. Pohon asuh upaya menjaga lingkungan dan mendukung pembangunan masyarakat  nagari.

Astrid, penyanyi yang berkunjung ke Hutan Nagari Sungai Buluh langsung tertarik ikut mengasuh pohon. Pelantun lagu Jadikan Aku yang Kedua ini memilih langsung pohon di pinggir Air Terjun Sarasah Kuau, yaitu pohon tarok (Arthocarpus walichianusmoraceae).

Riche Rahma Dewita, Koordinator Regional Warsi Sumbar bilang, mekanisme pengasuhan pohon satu langkah memberikan nilai tambah pada masyarakat atas upaya mereka memelihara hutan.

Pemilik pohon,  memberikan donasi Rp200.000 untuk satu pohon yang diasuh selama satu tahun.

 

Pada dataran rendah, warga memanfaatkan lahan buat bertani, seperti menanam padi. Foto: Sapariah Saturi

 

Menuju ekowisata Sungai Buluh. Foto: Elviza Diana