Dari Pelosok Bali Ini Bibit Udang Unggul, Abalon, dan Tiram Mutiara Tersedia

Jalan rusak sekitar 2 km harus dilalui untuk sampai di sebuah kompleks pembenihan dan pembesaran udang unggul vaname milik Kementerian Kelautan dan Perikanan di Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali Timur. Diresmikan 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berkendara pelan di hamburan kerikil dan batu membuat perjalanan terasa panjang. Sebuah perkampungan yang dilintasi jalur sungai. Kini musim kemarau, sungai kering hanya ada batu besar dan pasir muntahan Gunung Agung di Karangasem pada 1963.

Warga yang ditanya mengatakan lurus saja terus sampai laut. Benar saja, di perairan Bali Timur yang dikelilingi bukit dan persawahan ini terlihat komplek gedung cukup megah bernama Balai Pembibitan Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K). Singkatan yang cukup sulit disebut atau diingat.

Inilah salah satu fasilitas produksi bibit induk udang unggul, kerang abalone dan tiram mutiara yang bernilai tinggi di pasaran. Fungsinya jelas, memastikan pasokan udang vaname yang berkualitas tinggi, mencegah habisnya abalone di laut, dan bibit tiram mutiara yang bernilai.

 

Deretan bak fasilitas produksi benih dan induk di Balai Pembibitan Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali Timur. Foto : Luh De Suriyani

 

Sengaja didirikan di area terpencil karena memerlukan kualitas air laut baik, kedalaman sampai 50 meter, dan jauh dari area lingkungan pembudidaya. Untuk menghindari kontaminasi dan pencemaran.

Area terluas adalah fasilitas bak permanen kapasitas 30 dan 60 meter kubik atau bak multiplication center (MC). Sebelum masuk area pembenihan dan pembesaran, pengunjung diwajibkan menggunakan jubah putih dan sepatu bot plastik. Sebelum masuk area, melewati prosedur biosecurity untuk menghindari kontaminasi penyakit terutama virus. Misalnya bot direndam desinfektan, tangan dicuci sabun lalu disemprot alkohol.

Alasannya menjamin indukan vaname dengan sarana pengelolaan sistem produksi yang baik. Calon indukan terseleksi setelah mencapai 5-7% dari populasi awal tebar. Sebelum didistribusikan pada pembeli atau unit-unit pembudidaya, harus melalui sejumlah prosedur baku.

Pertama monitoring dengan uji air di laboratorium uji seperti bakteriologi dan kualitas air. Indukan yang didistribusikan bebas WSSV, IHNV, TSV, dan lainnya.

 

Produksi induk vaname menggunakan seleksi massal dari keturunan persilangan indukan terpilih di BPIU2K KKP di Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali Timur. Udang ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 2000 dan sekarang jadi primadona budidaya udang. Foto : Luh De Suriyani

 

Kantor utama BPIU2K di Bugbug adalah Unit Udang Bugbug sebagai pusat produksi induk dan benih udang vaname, dan pusat administrasi BPIU2K Karangasem. Juga melayani diseminasi perekayasaan, jasa lab, dan restocking. Warga yang membutuhkan bibit induk unggul bisa mengubungi BPIU2K di nomor 085100724144 atau email: bpiu2k@gmail.com

Sementara ada dua area terpisah lainnya disesuaikan dengan lingkungan yang cocok. Yakni Unit Kekerangan Tigaron, berlokasi di Kecamatan Kubu, masih di Karangasem sebagai pusat pembenihan kerang abalon dan tiram mutiara. Ketiga, Unit Kekerangan Sumberkima, Gerokgak, kabupaten Buleleng sebagai lokasi pembesaran kerang abalon dan tiram mutiara.

Fasilitas dalam komplek BPIU2K adalah gedung kantor, lab, asrama, auditorium, bak seleksi family, penetasan larva, pemeliharaan larva, nucleus center, bak pembesaran 30 dan 60 ton. Jumlah produksi menurut statistik BPIU2K terus meningkat. Misalnya benih udang vaname pada 2012 kurang dari 1 juta meningkat sampai hampir 6 juta pada 2016. Distribusinya ke pulau Jawa seperti Serang dan Pangandaran, Cilacap, Pontianak, Makassar, Jayapura, dan lainnya.

Sementara produksi bibit kerang abalon pada 2012 sekitar 10 ribu menjadi hampir 30 ribu pada 2016. Sementara kerang mutiara dari 500 ribu menjadi lebih dari 4 juta pada 2016.

 

Indukan udang vaname di BPIU2K KKP di Desa Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali Timur. Udang ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 2000 dan sekarang jadi primadona budidaya udang. Foto : Luh De Suriyani

 

Joko Sumarwan yang mengepalai produksi benih memaparkan kenapa perlu ada unit pembibitan pemerintah ini. “Mafia keras sekali, sulit untuk pembudidaya kecil. Target kami 60 ribu udang vaname. Hampir tiap hari ada yang minta benih termasuk dari Sulawesi dan Lombok,” katanya. Karena itu BPIU2K Karangasem ini akan menambah fasilitas produksi benih tahun depan, sekarang hanya untuk indukan.

Udang yang biasa dibudidayakan dan bernilai tinggi adalah jenis windu dan vaname. Udang windu berjaya sekitar era 80-90an tapi menurut Joko terjun bebas karena penyakit. “Dari dulu ada penyakit tapi kok baru nyerang?” tanyanya.

Penyakit membuat usaha udang windu gulung tikar salah satu faktornya manusia sendiri. Rata-rata budidaya dilakukan tradisional ditambah kepadatan tinggi dalam tambak. Alam jenuh dengan limbah tanpa pengolahan. “Kepadatan tinggi, pakan intensif zat kimia, sementara barier mangrove habis alih fungsi. Mangrove sangat efektif memfilter kotoran untuk diuraikan,” jelasnya. Akhirnya air tambak yang tak terfilter mangrove lari ke sungai, lalu air disedot ke tambak jadilah berisiko mudah terpapar penyakit.

Indukan vaname yang diimpor oleh pemerintah dari Amerika dibudidayakan Balai Budaya Air Payau Situbondo sekitar 2008 dan peluncuran bibit vaname 2009. Kemudian dibangun broodstock di Bali khusus penyediaan bibit unggul untuk produksi induk, inilah BPIU2K Karangasem. Indukan udang harganya sekitar Rp40 ribu per pasang, betina saja Rp25 ribu dengan subsidi pemerintah.

Menurut Joko, keunggulan vaname banyak. Misal jika windu 40 ekor per meter kepadatan kolam sudah tinggi dan sensitif penyakit, sementara vamane bisa 10x lipat. Angka kegagalannya juga relatif rendah dan pertumbuhan lebih cepat.

 

Dua gadis memotret anakan kerang abalone (Haliotis squamata) yang dilepas untuk restocking perairan Pantai Mengening, Desa Cemagi, Mengwi, Badung, Bali pada Rabu (19/04/2017). Foto : Luh De Suriyani

Untuk jadi indukan ada syaratnya melalui program pemuliaan. “Tak harus beli di sini, karena benih calon indukan disebar ke pembudidaya,” kata Joko. Jika transportasi terlalu jauh juga bisa mengakibatkan indukan stres dan konsekuensi harga angkut lebih tinggi dibanding harga udangnya sendiri.

Kepala BPIU2K Karanagsem Gemi Triastutik mengatakan kendala saat ini belum ada pasar untuk produksi abalone. Walau sudah mampu menghasilkan benih dan induk jenis kerang yang bernilai tinggi jika diolah jadi menu makanan ini. Indukan awal di BPIU2K adalah hasil pemuliaan balai riset Gondol di Buleleng. “Kendalanya belum ada pasar untuk abalon, selama ini lebih banyak digunakan untuk penelitian dan sebagian dibesarkan di daerah Singaraja maupun Kepulauan Seribu,” jelasnya.

Sementara benih tiram mutiara sudah didistribusikan ke beberapa lokasi seperti di Bali, Sumbawa, Kendari, Palu, Gorontalo, dan Trenggalek. Sebagian benih dibesarkan menjadi induk. Pasar yang dipenuhi baru sebagian. Semua produksi disalurkan untuk kebutuhan dalam negeri, bukan ekspor.

Salah satu indikator kinerja BPIU2K yang di tetapkan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya adalah restocking atau mengisi kembali ikan budidaya pesisir. Hal ini difokuskan pada komoditas benih abalon ukuran 3-4 cm karena di anggap sudah kuat dan tahan terhadap lingkungan ketika dilepas di laut. Restocking terakhir pada April lalu di perairan Badung yang dulu dikenal sebagai salah satu area kaya abalone sebelum mulai jauh berkurang karena faktor kualitas perairan dan abrasi.