Kesepakatan Orang Rimba dan Wana Perintis, Bagaimana Perkembangannya?

 

 

Temenggung Nyenong, sudah berkutat dengan sebilah pisau sadap mengitari pohon demi pohon karet jatah mereka.

Matahari masih malu memperlihatkan wujud, Temenggung Nyenong dan rombong sudah sejak pukul 04.00 dini hari mulai menyadap. Mereka mulai beraktivitas sejak satu minggu lalu.

Ada sekitar 750 mangkok terpasang di karet milik kelompoknya. Bagi Nyenong, menyadap bukan hal baru. Di hutan, mereka biasa menyadap karet, namun jenis berbeda hingga ada beberapa kesalahan.

“Kalau kami menyadap karet liar berbeda dengan jenis karet unggul ini. Dari membuat plat saja beda,” katanya.

Kalau karet liar, mereka hanya mengikuti arah condong pohon kalau untuk membuat plat. Untuk karet unggul harus sebelah kiri arah matahari terbit.

Baca juga: Akhir Konflik dengan Wana Perintis, Orang Rimba Bisa Kelola Lahan

Nota kesepakatan kemitraan disepakati antara empat Temenggung Orang Rimba, Tumenggung Menyurau, Nyenong, Ngamal dan Ngirang dengan PT Wana Perintis.

Nota ini menghasilkan 10 poin, dengan obyek kesepakatan areal seluas 114 hektar telah berisi karet berumur tiga tahun bisa dikelola Orang Rimba untuk agroforestry, silvofishfery, silvopasteur dan kegiatan lain untuk peningkatan ekonomi sesuai.

Jangka waktu pengelolaan selama 25 tahun, dan kesepakatan mulai, 25 Oktober 2016.

Diakui Orang Rimba baru seminggu ini sebagian dari mereka sudah memiliki cangkir dan peralatan mulai menyadap.

Pelaksanaan poin kesepakatan lamban, kata Ade Candra, Asisten Koordinator Program Permberdayaan Orang Rimba KKI Warsi karena masih mengurus beberapa poin saat sudah mereka penuhi dan urus ke dinas terkait.

“Kemarin ada perbedaan peta, ini sudah clear. Kita sudah melengkapi data-data nama kepala keluarga mendapatkan lahan sesuai pembagian. Kemarin kita disuruh melengkapi. Semua prosedur sudah dilakukan,” katanya.

Dalam kelompok Temenggung Nyenog ada 35 keluarga memperoleh hak pengelolaan. Masing-masing dibagi rata seluas 3,75 hektar.

Temenggung Nyenong mengatakan, ada sekitar 78.000 batang karet siap sadap. Mereka baru mulai menyadap sebagian, karena masih terkendala peralatan.

“Masing-masing keluarga memperoleh 3,75 hektar, diperkirakan bisa disadap ada 2.250 batang. Ini kasarnya, karena ada kondisi lokasi rawa dan ada juga lembah jadi tidak ditanami, “ katanya.

Berbeda dengan Temenggung Nyenong, Temenggung Ngamal dan anggota kelompok masih belum bisa menyadap. Mereka terkendala belum ada mangkok dan peralatan lain. “Kami baru selesai tahap pembersihan, cangkir hopi ado (belum ada-red)Jadi hopi mulai nyadap,” katanya.

Doni Irawan, Fasilitator lapangan KKI Wari bilang, pembangian cangkir dan peralatan sadap memang belum ke semua kelompok Orang Rimba. Dari empat kelompok, baru Temenggung Nyenong, dan Temenggung Menyurau sudah mendapatkan bantuan cangkir. “Kita melihat kelompok sudah siap baru kita berikan peralatan. Jika sembarang cara menyadap tanaman karet ini bisa mati,” katanya.

 

Anak-anak Orang Rimba di Sesundungan mereka. Foto: Elviza Diana

 

Selama hampir satu bulan, Orang Rimba sudah mendapatkan bimbingan teknis terkait tata cara menyadap karet yang benar. Dari mulai membuat plat, cara menyadap hingga waktu yang baik untuk menyadap semua dapat pelatihan.

Kata Doni, Warsi berinisiatif menggunakan guru lapangan sebanyak dua orang bertugas membantu dan mengajarkan teknik-teknik ini pada Orang Rimba.

“Kita juga dibantu dua guru lapangan keliling setiap hari di empat kelompok ini. Dia mengajarkan semua ke Orang Rimba.”

Ahdi, nama guru lapangan yang sehari-hari tinggal di Desa Jelutih sangat senang bisa mengajarkan ilmu untuk Orang Rimba.

Tiap hari keliling dari pagi ke kelompok-kelompok Orang Rimba yang sudah siap disadap. Kalau sekarang baru dua kelompok, keterbatasan cangkir juga membuat seharusnya menyadap hanya satu kali per tiga hari di lajur karet yang sama. Kalau sekarang dua hari per tiga hari,” katanya.

Mamang, sapaan akrab Ahdi di Komunitas Orang Rimba, dia melihat semangat dan rasa ingin tahu luar biasa dari mereka. “Karena cangkir dikit, mereka saking semangat mau minta nyadap tiap hari di lajur karet yang sama. Saya jelaskan itu tidak boleh. Ada juga yang melukai pohon terlalu dalam, tapi semua semangat dan mau belajar.”

Meski tak begitu paham dengan bahasa Orang Rimba, Mamang tetap mengajarkan ilmu yang dia miliki.

Menti Ngelembo mengatakan, karena terlalu bersemangat mereka bahkan mau tetap menyadap meski hujan. “Dua hari lalu hujan, adao tetap mau nyadap. Sudah dijelaskan Mamang, kami mengerti. Kami mau cepat banyak dapat getah,” katanya tertawa.

Kebun ubi cukupi pangan

Selama proses menyadap ini, semua anggota kelompok fokus belajar menyadap. Mereka tak berburu. Guna memenuhi pangan sehari-hari, mereka mengandalkan kebun ubi milik kelompok Temenggung Nyenong.

Temenggung Nyenong mengatakan, kebun ubi kurang lebih lima hektar jadi satu-satunya sumber pangan mereka. “Makan dari kebun ubi, belum ada yang berburu. Karena semua di sini nyadap,” katanya.

Temengung Nyenong, memang sudah mulai belajar berkebun. Dia menceritakan, awal 1990 mulai menanam karet liar, namun mertuanya masih kukuh berpegang adat. Seribu batang karet dia tanam semua dicabut tak bersisa.

“Semua pohon karet baru ditanam, dicabut. Kata mertua melanggar adat. Sejak itu, tak pernah lagi nanam karet hingga mertuo sudah dak ado lagi baru nanam karet liar lagi. Kalau nanam ubi memang sudah mulai biasa di kelompok kami,” katanya.

Hasil hutan dan buruan makin berkurang, membuat Orang Rimba harus beradaptasi. Temenggung Nyenong bilang, berkebun karet jika harus melangun, mereka akan bergantian dengan anggota kelompok lain.

“Kalau sudah ada karet ini, kami tetap akan melangun, jika ada anggota kelompok yang meninggal. Mungkin tidak terlalu jah dari lokasi dan dalam waktu pendek. Karena kalau lama siapa yang nyadap karet nantinya.”

Tradisi melangun, berpindah jika ada anggota kelompok Orang Rimba yang meninggal dunia masih menjadi budaya yang terus dipertahankan Orang Rimba. Terkadang hingga satu tahn lebih baru kembali ke tempat semula.

 

Orang Rimba melepas lelah setelah menyadap karet. Foto: Elviza Diana

 

Perusahaan minta bagi hasil?

Binsar Nainggolan, Manajer Lapangan PT Wana Perintis baru tahu dari pekerja lapangan bahwa Orang Rimba mulai menyadap dl areal kesepakatan kemitraan 114 hektar.

“Mereka tidak ada berkoordinasi dengan kami, tapi sudah menyadap. Karena kami merasa persoalan rundingan ini belum final, jadi seharusnya Orang Rimba belum mula sadap,” katanya.

Perusahaan masih terganjal kejelasan penetapan harga patokan hasil hutan untuk perhitungan provisi sumber daya hutan, sesuai Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.68 tahun 2014,Ganti Rugi Tegakan dan Penggantian Nilai Tegakan.

“Ini belum final. Orang Rimba harus kena biaya PSDH ini karena sebagai ganti rugi atas biaya yang sudah kami keluarkan. Ini belum ada mekanismenya seperti apa secara teknis dibicarakan lagi oleh semua pihak,” katanya.

Dulu, sempat perhitungan kasar oleh pihak ketiga melibatkan perguruan tinggi negeri di Jambi terkait nilai kerugian. “Hitungan kasarnya dulu Rp36 juta per hektar, kalikan sendiri lah seluas 114 hektar. Ini kan duitnya lumayan, jadi duduk bersama lagilah, untuk membahas itu.”

Binsar berharap, pemerintah memberikan jaminan pada pelaku usaha untuk merasa aman berinvestasi.

Menurut dia, sesuai kesepakatan, Orang Rimba harus menjual hasil getah mereka sadap ke perusahaan.

Namun, Temenggung Nyenong, akan melihat harga pasaran dulu sebelum menyerahkan getah ke perusahaan. ”Kita akan lihat harga pasarannya berapa, biar tidak ditekan perusahaan nanti. Jika perusahaan mau membali harga yang kita sepakati, kita akan jual ke mereka,” katanya.

 

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,