Susuri Hutan Lindung Untuk Bersua Air Terjun Alami Wair Horek

Air terjun Wair Horek yang berada di dalam kawasan hutan lindung Egon Illimedo. Foto: Ebed de Rosary

Masih banyak pesona potensi alam yang belum tergarap di Kabupaten Sikka, Flores. Salah satunya air terjun Wair Horek yang terletak di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete. Untuk mengunjunginya para wisatawan harus siap berjalan kaki sekitar dua kilometer menyusuri jalur setapak dalam hutan lindung.

Air terjun Wair Horek terletak sejauh sekitar 27 kilometer arah timur kota Maumere, dapat dijangkau dengan menggunakan ojek sepeda motor seharga 50 ribu rupiah, atau bis antar kota serta angkutan kota dengan membayar 15 ribu rupiah bila bertolak dari Maumere.

Konon nama Wair Horek sendiri bermakna air di dalam lingkaran. Air terjun yang berada di Hutan Lindung Egon Ilimedo ini ditemukan sejak tahun 1970-an, namun wisatawan mulai berdatangan beberapa tahun terakhir ini sejak ada pengunjung yang mempostingnya di media sosial.

Jika dilihat, air terjun dengan ketinggian sekitar 8 meter ini termasuk salah satu destinasi yang menarik, apalagi di bagian atasnya dengan jarak beberapa killometer lagi terdapat sebuah air terjun lagi yang lebih tinggi.

Tebing-tebing batu di sekitar air terjun dan pepohonan besar berusia puluhan tahun semakin menambah anggunnya hutan rimba yang ada disekitar air terjun ini.

 

Susuri Hutan

Saat menyambangi air terjun ini (11/05) Mongabay Indonesia yang bepergian bersama beberapa jurnalis di Sikka diantar beberapa warga desa agar dapat bersua dengan air terjun ini.

Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki melintasi persawahan dan kebun milik warga. Padi tampak menguning dan siap panen di hamparan persawahan seluas sekitar 10 hektar di sisi drainase menambah indah pemandangan. Jalan pun tidak terlalu terjal, hanya sedikit mendaki dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Selanjutnya, para wisatawan harus melintasi tiga kali kecil dengan berjalan di atas bebatuan besar yang bertebaran di dalam derasnya air sungai.

Mintolaus Arleti, warga yang mendampingi kami, menyebut untuk mengunjungi air terjun wisatawan memang tidak dimintai retribusi. Hal ini, katanya karena fasilitas obyek yang ada di area tersebut yang belum memadai. Perharinya sekitar belasa orang berkunjung ke air terjun ini, sedangkan dapat menjadi puluhan bahkan pernah ratusan saat hari libur.

Satu hal yang perlu diacungi jempol adalah inisiatif warga untuk menjaga kebersihan lokasi. Setiap pengunjung dihimbau untuk menjaga kebersihan. Karung-karung dan papan pengumuman dilarang membuang sampah terpampang di pohon-pohon yang ada.

Mintolaus menyebut, warga sudah meminta kepada pemerintah Desa Warterang agar bisa menata tempat wisata ini apalagi saat ini sudah banyak yang mengetahui dan menyambangi tempat ini agar bisa memberikan pendapatan bagi warga sekitar.

“Harapan kami agar Pemkab Sikka tolong bantu kami guna membuat atau menata jalan setapak yang lebih baik sehingga pengunjung pun bisa lebih mudah mendatangi lokasi air terjun,” ungkapnya.

Menurut Tovik Koban salah seorang pengunjung yang datang bersama Mongabay Indonesia,lokasi wisata ini perlu ditata lagi agar bisa lebih menarik wisatawan untuk datang. Jalan setapak menuju air terjun perlu ditata tanpa meninggalkan keasliannya dan harus ada penjaga yang selalu bersiaga di air terjun khususnya di akhir pekan atau hari libur dimana jumlah pengunjung meningkat

“Perlu dibuatkan MCK di lokasi ini agar pengunjung bisa berganti pakaian atau buang air kecil dan juga bebatuan di bawah air terjun perlu ditata agar kolamnya bisa dipakai untuk tempat berendam,” sebutnya.