Kampung di Merauke Ini Tak Ingin Terganggu Sawit

 

Dua pekan lalu, saya ikut rombongan melintasi jalur Trans Papua dengan mobil double gardan menuju tiga kampung, yakni Muting, Pachas dan Kolam di Distrik Muting, Kabupaten Merauke, Papua. Hujan lebat seakan bukan penghalang, mobil terus melaju.

Tiba, di Muting sudah malam. Kami bermalam. Rata-rata penduduk tinggal di Bantaran Danau Bian. Disebut danau, karena di Merauke, cekungan air terbesar tadah hujan. Di Danau Bian, setiap hari laki maupun perempuan menaiki perahu untuk menjaring atau memancing.

Saya ke Kampung Pachas menaiki motor temple (speedboat) bertuliskan Kampung Kindiki. Yang membawa speedboat adalah Abraham Mahuze.

Jarak Muting ke Pachas, memakan waktu sekitar satu jam. Muatan speedboat sekitar 10 orang dengan kekuatan motor temple 40 PK.

Menuju ke Kampung Pachas melewati jalan yang tertata sangat bagus di atas rawa. Lebih menarik, saat kami melewati pesisir Kali Bian, ada semacam garis melengkung tertata apik hasil dari speedboat atau ketinting yang sandar.

Sepanjang perjalanan tampak jelas, berbagai teratai, kuncup dan mekar, hidup di tepian danau. Tampak beberapa perempuan mencari ikan di rawa. Ada memancing maupun membuang jaring.

Tepian rawa rimbun dengan ribuan batang bambu. Di tengah rawa ada beberapa pohon bus dan sagu. Pandangan saya tertuju ke tengah rawa ada daun sagu muda melilit tonggak kayu.

Robertus Mahuze, pemuda Kampung Pachas bilang, lilitan itu sengaja dibuat tetua adat sebagai larangan agar tak membuka hutan lagi. Tujuan mereka, menahan laju ekspansi perusahaan sawit, PT. Agri Primina Cipta Persada.

Konsesi perusahaan ini berada hampir di seluruh petuanan Marga Mahuze dan Marga Basik-basik. Dari Atlas Sawit Papua: Di Bawah Kendali Pengusaha Modal yang disunting Y.L Franky dan Selwyn Morgan, terbitan Pusaka 2015 memperlihatkan, kebun masuk areal Cagar Alam Danau Bian. Agriprima Cipta Persada adalah anak Ganda group.

Dari hutan di Cagar Alam Danau Bian-lah, seluruh penduduk menggantungkan hidup. Kini, hutan-hutan adat terbabat hampir tak tersisa.

Warga Pachas protes karena perusahaan masih meninggalkan janji-janji sejak pembukaan. Warga Merauke menolak lahan buat sawit dengan memasang palang dan berbagai tonggak kayu.

“Barang siapa membuka sulur ini, konsekuensi denda adat. Tak boleh membuka hutan apalagi untuk sawit,” katanya.

Mereka tak ingin hutan tempat menggantung hidup hilang. Begitu juga danau yang menyediakan pasokan air sampai sumber protein seperti ikan-ikan tak ingin terganggu atas kehadiran sawit.

 

Warga penduduk Kampung Pachas. Foto: Agaptus Batbual

 

Data Kampung Pachas, jumlah keluarga 114 orang, dengan 472 jiwa. Mereka menggantungkan hidup pada hasil hutan tersisa di pinggir Kampung. Bila ke hutan, hampir tak ada kasuari, pombo, kangguru, rusa, maleo dan babi hutan. Dulu, satwa-satwa ini banyak, tetapi mulai hilang seiring hutan tergerus.

Ada rawa yang dipakai perempuan menggunakan perahu kecil memancing atau menebarkan jaring ikan. Hasil lumayan buat konsumsi sendiri.

Saat kami di Pachas, seorang perempuan menunjukkan pancingan ikan kakap hampir satu meteran. Vincent Tomi, tim sosial budaya dari Universitas Musamus mengatakan, tangkapan ikan para perempuan luar biasa.

Sebenarnya Kampung Pachas ada dua, lama dan baru. Kampung lama ada di seberang danau.

Thimoteus Basik-basik, Kepala Kampung Pachas menjelaskan, asal muasal Pachas dari perempuan. “Mereka bermusyawarah apakah boleh pindah kesini karena tempat hunian sudah tak layak lagi. Mereka namakan Kampung lama pertama dan kedua.”

Mereka sepakat bangun Kampung Pachas dengan sederhana. Awalnya, rumah papan, berdiding daun sagu. Kini, semua rumah beratapkan seng. Rata-rata rumah berkolong setinggi lutut orang dewasa.

Dua gedung saja yang menyatu dengan tanah yaitu Pustu Pachas dengan Gereja Protestan Indonesia Jemaat Mizpa, Klasis Merauke.

 

Danau (rawa) Bian, di Merauke. Foto: Agapitus Batbual

 

Tepian danau sekaligus hutan dan kebun Kampung Pachas. Foto: Agapitus Batbual

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,