Kala Penyelamatan Satwa BKSDA Sumbar Terkendala Dokter Hewan, Solusinya?

Wakil Komandan Satuan Tugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat Zulmi Gusrul memperlihatkan macan dahan yang mati di Kantor BKSDA Sumbar beberapa waktu lalu. Foto: Vinolia

 

 

Mei lalu seekor macan dahan (Neofelis nebulosa) mati di Kantor BKSDA Sumatera Barat dengan dugaan mengalami dehidrasi berat. Macan dahan ini mati beberapa saat setelah penyelamatan dari Polsek Payung Sekaki Solok ke BKSDA Padang. Ada dugaan penanganan kesehatan satwa lambat karena BKSDA Sumbar kesulitan mendapatkan dokter hewan.

Zulmi Gusrul,  Wakil Komandan Satuan Tugas BKSDA Sumbar, bilang sudah berupaya menyelamatkan macan jantan sepanjang satu meter itu, namun kondisi lemah hingga tak tertolong.

“Dehidrasi sudah parah, karena tak makan dan minum selama terjepit. Periksa ke klinik hewan di Padang, usahakan pasang inpus, namun akhirnya mati,” katanya.

Sebelumnya, macan ditemukan warga Payung Sekaki, Solok, terjepit bebatuan. Warga menggotong macan ke Polsek Payung Sekaki. Saat itu, kondisi tubuh macan sangat lemah dan kurus. Kulit tampak melekat ke tulang.

“Sampai Polsek, dimasukkan ke kadang lalu diberi makan daging ayam namun tak dimakan,” katanya.

Dari Polsek Payung Sekaki, macan dibawa ke BKSDA Sumbar di Padang untuk mendapat pertolongan lanjut. BKSDA, katanya, berusaha menyelamatkan, namun tak berhasil.

Dia mengaku, saat menerima laporan langsung merespon dengan pergi ke Payung Sekaki, tetapi jarak jauh hingga macan baru sampai di Padang, malam hari.

“Sampai malam, tak ada klinik hewan buka, pagi hari baru diperiksa. Dehidrasi sudah tinggi, karena tak makan dan minum selama terjepit. Periksa ke klinik hewan di Padang, usahakan pasang inpus, namun akhirnya mati.”

Iding Achmad Chaidir, karyasiswa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang zoology (konservasi satwaliar) di Department  Zoology,  Universitas Oxford, mengatakan,  sesuai aturan penanganan konflik satwa sudah sesuai, dari masyarakat melaporkan ke otoritas setempat (TNI/Polri). Lalu ke BKSDA. BKSDA melakukan penyelamatan satwa.

Dalam kasus ini, dia melihat ada kekurangan BKSDA karena tak menyertakan tim medis dan paramedis saat ke lokasi hingga satwa lambat mendapat pertolongan.

“Sangat disayangkan, tak ada paramedis dibawa ke lapangan, jika ada tentu satwa mendapat pertolongan cepat tanpa harus menunggu ke Padang,” katanya.

Iding menyayangkan, tak ada kerjasama antarinstansi dalam penanganan satwa. Baginya, bukan semata tanggung jawab BKSDA tetapi bersama dinas terkait seperti Dinas Peternakan. Biasa, katanya, Dinas Peternakan ada dokter hewan siap membantu setiap saat.

Dia meragukan kebenaran bahwa macan dahan ditemukan di pinggiran hutan dalam kondisi terjepit bebatuan. Dia bilang, macan dahan pemanjat ulung hingga punya keseimbangan tubuh bagus dengan kuku-kuku kuat mencengkram. “Jadi mustahil terjatuh hingga terjepit.”

Selain itu, lokasi temuan di pinggiran hutan terbilang aneh. Macan dahan, katanya, sensitif manusia dan menghindari pinggiran hutan.

“Dari kamera trap pernah kami pasang, jelajah terjauh macan dahan hanya 200 meter dari habitat asli di tengah hutan. Beda dengan kucing emas dan harimau, bisa keluar dari habitat asli satu atau dua kilometer.”

Iding menilai, perlu ada hasil visum dan penyelidikan tentang penemuan macan dahan ini. Hasil visum guna mengetahui apa ada tanda-tanda penganiayaan.

Populasi macan dahan, katanya, terus mengalami penurunan. Pada 2015, dalam kepadatan 20.000 hektar hutan hanya dua macan dahan tersebar di Sumatera mulai Aceh hingga Lampung.

Kasus lain, 17 April 2017, macan dahan berusia empat bulan ditemukan mati di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan atau Kebun Binatang Bukittinggi. Menurut pengakuan pengelola, satwa alami cidera karena jatuh saat mencoba memanjat kandang.

Meskipun sempat sehat, pada 16 April, kesehatan drop hingga dirawat medis dan meninggal dunia.

Ini bukan kali pertama macan dahan mati di TMSBK Bukittinggi. Pada 2016, dua anak macan dahan juga mati.

 

Macan dahan ini ditemukan warga Sikinjang, Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok dalam keadaan terjepit diantara batu.Foto: Vinolia

 

 

Kelemahan dan kerjasama

Tantyo Bangun, Ketua Umum Yayasan Internasional Rescue Indonesia (YIARI) menilai, ada kelemahan BKSDA Sumbar terkait upaya penyelamatan macan dahan karena tak menyertakan tim medis ke lokasi.

Dia memahami, kendala lapangan, karena penyelamatan mendadak dan lokasi juga dari ibukota. Dokter hewan dari Dinas Peternakan memiliki jam dinas terbatas, tak bisa dibawa pada kondisi darurat.

Untuk penyelamatan satwa liar, tim dokter hewan Dinas Peternakan juga kurang efektif karena penanganan tak sama dengan hewan peliharaan. Jadi, katanya, tak bisa hanya mengandalkan dokter hewan Dinas Peternakan.

Solusinya, kata Bangun, seharusnya BKSDA minta pendamping dari organisasi perlindungan satwa di kabupaten atau kota itu, misal di Sumbar, ada Yayasan Kalaweit Indonesia, lembaga konservasi untuk siamang dan owa.

Meski fokus Kalaweit ke primata sebenarnya bisa dimintai untuk satwa liar jenis lain agar penyelamatan lebih maksimal dan risiko kematian bisa diminimalisir.

Untuk jangka panjang, katanya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bisa kerjasama atau nota kesepahaman dengan asosiasi dokter hewan Indonesia. Hingga tindakan penyelamatan satwa dibantu asosiasi ini.

Asvery, GM Yayasan Kalaweit Indonesia mengatakan, meski Kalaweit siap bekerjasama dengan pihak manapun untuk penyelamatan satwa. Yayasan Kalaweit yang terletak di Nagari Supayang, Payung Sekaki, Solok ini, sering dimintai bantuan BKSDA Sumbar untuk penyelamatan satwa. “Terakhir tiga bulan lalu, Kalaweit ikut mendampingi BKSDA penyelamatan beruang madu dan siamang,” katanya.

Yayasan Kalaweit bisa membantu penyelamatan satwa dengan catatan dokter hewan sedang di tempat. Kalaweit memiliki tiga dokter hewan, satu fokus pelepasan dan dua ke rehabilitasi.

Soal upaya penyelamatan macan dahan yang gagal, dia bilang kemungkinan saat menerima laporan BKSDA langsung spontan dan tak mengetahui kondisi genting satwa itu.