Inilah yang Terjadi Saat Cacing Pipih Dibawa ke Luar Angkasa

Cacing angkasa berkepala dua, sebutan yang mirip cerita dalam film-film fiksi ilmiah dari tahun 50-an. Namun yang ini, adalah kenyataan, saat para tim peneliti dari dari Tufst University, AS mengirimkan sekelompok cacing pipih ke International Space Station (ISS), itulah yang terjadi.

Dua tahun lalu, tepatnya pada 10 Januari 2015, para peneliti memasukkan beberapa cacing pipih planaria (Dugesia japonica) ke dalam tabung yang sudah diisi dengan air dan udara dan meluncurkannya ke ISS melalui misi SpaceX.

Separuh dari cacing-cacing pipih tersebut terpotong bagian-bagian tubuhnya. Hal itu bukanlah masalah besar bagi D. japonica karena kemampuannya yang luar biasa untuk melakukan regenerasi anggota tubuhnya. Itulah mengapa, cacing ini sangat sering dipelajari oleh para ilmuwan.

 

Cacing pipih berkepala dua. Foto : Michael Levin/Tufts Center for Regenerative and Developmental Biology via newscientist.com

 

Sementara itu, sekelompok cacing pipih lain juga dimasukkan ke dalam tabung dengan air dan udara di dalamnya, bedanya, yang ini tetap berada di bumi.

Cacing-cacing yang dibawa ke angkasa di simpan selama 5 minggu dan dikembalikan ke bumi untuk dianalisa. Penemuan yang paling mengejutkan adalah satu dari cacing-cacing yang tubuhnya terpotong, menumbuhkan kembali kepalanya di keduanya sisi tubuhnya.

Saat kedua kepalanya tersebut dipotong kembali, cacing tersebut mampu kembali meregenerasi kedua kepalanya, yang berarti bahwa fisiologinya sudah berubah secara permanen.

“Sejak lima tahun lalu kami meneliti belasan ribu cacing, kami tak pernah menemukan cacing yang mampu menumbuhkan dua kepalanya, dan ketika ketika dipotong pun, keduanya masih tumbuh kembali,” kata seorang peneliti dari Tufts university.

 

Cacing pipih berkepala dua. Foto : Junji Morokuma / Allen Discovery Center at Tufts University via newsatlas.com

 

Selain menemukan adanya mutasi kepala ganda, para peneliti juga menemukan bahwa cacing-cacing ‘angkasa’ tersebut mengalami fisi spontan, dimana mereka membelah tubuhnya menjadi dua atau lebih bagian, dan belahan-belahan tersebut menjadi cacing-cacing yang identik.

Hal ini tak terjadi dengan cacing-cacing di dalam tabung yang di simpan di bumi.

Selain itu, cacing-cacing yang pulang dari ISS bereaksi secara aneh terhadap air tawar ketika para peneliti meneteskannya, mereka menjadi lumpuh sebagian, tidak bergerak dan meringkuk sebelum kembali normal dalam waktu sekitar dua jam.

Hal tersebut juga tak terjadi pada cacing-cacing yang disimpan di bumi.

Inti dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah pola regenerasi cacing berubah saat berada di luar angkasa, dan untuk melihat apakah temuan semacam itu mungkin juga berlaku pada  manusia karena kita diyakini akan banyak manusia yang bepergian di luar angkasa.

“Sebagai transisi manusia menuju menjadi spesies yang akan sering ke angkasa, penting bagi kita untuk menyimpulkan dampak terapi antariksa terhadap kesehatan regeneratif demi pengobatan dan masa depan penelitian laboratorium antariksa,” kata Junji Morokuma, penulis pertama di koran tersebut.

Para peneliti mengatakan bahwa penelitian ini memiliki beberapa masalah termasuk ukuran sampel yang kecil. Untuk satu, cacing yang tinggal di Bumi tidak mengalami fluktuasi suhu dan tekanan yang sama seperti cacing yang meroket ke ISS, jadi sulit untuk mengatakan apa sebenarnya penyebab perubahan tersebut.

Selain itu, cacing-cacing yang dibawa ke angkasa telah sebelumnya mengalami pemotongan tubuh di bumi. Para peneliti menyatakan bahwa, jika prosedur pemotongan dilakukan di angkasa, bisa jadi akan lebih banyak penemuan dan informasi yang lebih akurat.    Mereka berencana untuk memperbaiki masalah ini dalam eksperimen masa depan.

 

sumber:

http://now.tufts.edu/news-releases/biologists-induce-flatworms-grow-heads-and-brains-other-species

http://newatlas.com/two-headed-worm-from-space/49993/

https://www.newscientist.com/article/2132148-bioelectric-tweak-makes-flatworms-grow-a-head-instead-of-a-tail/