Koleksi Karang UBH Padang: Koleksi Penting yang Sekarang Terabaikan

Koleksi karang sebagian masih tersusun rapi pada lemari pada Laboratorium Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Bung Hatta, Padang. Sementara beberapa lemari lain ada di gedung berbeda. Beberapa label sudah harus diganti dikuatirkan tulisanya tidak bisa terbaca, atau label lepas. Padahal kebenaran dalam pengidentifikasiannya sudah dicek oleh Dr. Bert W. Hoeksema, seorang pakar dibidang taksonomi dari Museum Naturalis, Leiden, Belanda. Foto: Ofri Johan.

Koleksi karang penting sebagai sumber informasi dalam bidang taksonomi, ekologi, biologi ataupun sarana edukasi dalam bidang kelautan. Koleksi karang pun merupakan referensi para peneliti dan taksonom di dunia untuk menerangkan jenis karang baru. Sebagai contohnya Acropora suharsonoi, karang endemik yang hanya ditemukan di perairan Lombok.

Untuk tujuan koleksi karang,  umumnya karang dikumpulkan dalam bentuk skeleton berupa bahan kapur karang, dimana bagian kulit atau jaringan karang sudah dibersihkan dan dikeringkan.

Lewat koleksi berbagai jenis karang, kita akan dapat mempelajari sejarah berbagai jenis karang yang pernah ditemukan di alam. Juga melalui sistem database yang lengkap, maka tempat posisi karang itu diambil dapat terlacak.

Dalam sebuah tabel, maka data-data penting dapat terekam yang meliputi kode nomor spesimen, posisi GPS (Global Positioning System), nama pulau tempat karang itu diambil, warnanya karang di alam, jenis, genus, famili serta berbagai informasi lainnya yang dianggap penting. Semua database penting ini lalu dimasukkan dalam aplikasi Firefox.

Untuk spesimen sebagai jenis baru, karang ini disimpan dan dikenal sebagai holotype, yaitu spesimen satu-satunya di dunia yang dijadikan rujukan untuk mendeskripsikan spesimen. Spesimen holotype digunakan sebagai pembanding hingga ditemukan jenis karang baru, atau untuk penyamaan jenis. Tentu saja untuk penyimpanan holotype, koleksi harus terawat dan terurus, yang sesuai standard internasional.

Spesimen koleksi umumnya disimpan dalam lemari atau tempat khusus yang tertutup sehingga terhindar dari cahaya lampu ruangan yang dapat berdampak pada terjadinya perubahan warna kekuningan pada spesimen dalam kurun waktu yang panjang.

 

Koleksi Karang Universitas Bung Hatta Padang

Salah satu koleksi karang terbesar di Indonesia setelah P20 (Pusat Penelitian Oseanografi)-LIPI berada di Universitas Bung Hatta Padang (UBH). Koleksi ini berdiri sejak tahun 1994, yang merupakan kerjasama antara pemerintah Jerman dan Indonesia saat itu.

Dr. Andreas Kunzmann, seorang ahli biologi laut Jerman saat itu menjadi penanggungjawabnya, dimana  pelaksana secara teknis dilakukan oleh Liesl Jonker seorang voulenter yang telah berpengalaman dari salah satu museum di Australia. Penulis beruntung berkesempatan sebagai counterpart Liesl Jonker selama 2 tahun, sebelum penulis melanjutkan studi S2 di IPB Bogor.

Keberadaan koleksi karang di UBH ini pun memiliki peran yang sangat penting, karena spesimennya mewakili perairan Indonesia bagian barat yang dipengaruhi oleh Samudera Hindia. Jenis karang yang ada di tempat ini kemungkinan berbeda dibandingkan dengan Indonesia bagian timur atau daerah lainnya di nusantara.

Jumlah koleksi karang di UBH terdiri dari 800 spesimen. Jenis yang teridentifikasi sebanyak 163 jenis karang, terdiri atas 58 genera dari jenis karang hermatifik dan ahermatifik. Ada 11 genus yang merupakan new record, artinya belum pernah dilaporkan keberadaannya di perairan Sumatera Barat sebelumnya.

Genus tersebut adalah Palauastrea, Coscinarea, Pseudosiderastrea, Achrelia, Halomitra, Cynarina, Caulastrea, Oulastrea, Plesiastrea, Astrangia dan Culicia.

Tingkat kebenaran dalam identifikasi ini pun sudah divalidasi oleh Dr. Bert W. Hoeksema, seorang pakar taksonomi dari Museum Naturalis, Leiden, Belanda. Dr. Hoeksema telah berhasil menemukan satu jenis spesies baru dan satu lagi yang diduga jenis baru dari koleksi karang di UBH ini.

Lewat koleksi karang ini, kita dapat mengetahui jumlah keragaman jenis yang teridentifikasi di perairan Sumatera Barat. Dengan demikian kita dapat mencatat sejarah perkembangan karang di perairan.

Sebagai contoh, tiga tahun setelah koleksi karang ini berdiri, terjadi kematian karang secara massal di perairan Sumatera Barat. Pada saat itu terjadi kematian massal karang di alam bahkan pada beberapa lokasi mencapai tutupan karang hidupnya menjadi 0%.

Dengan adanya koleksi, berbagai jenis karang yang hilang distribusinya di perairan Sumatera Barat dapat diketahui. Juga, para peneliti dapat mengetahui beberapa spesies karang baru yang ditemukan seperti Podabacia kunzmanni, dua jenis Fungia sp lainnya yang terindikasi spesies baru di perairan Kota Padang (personal komunikasi penulis dengan Bert Hoeksema).

 

Karang jenis Podabacia kunzmanni teridentifikasi sebagai spesies baru. Karang ini ditemukan di Pulau Pisang, Perairan Kota Padang, Sumatera Barat. Skeletonnya ada disimpan di koleksi karang Universitas Bung Hatta. Sumber foto: Andreas Kunzmann dari tulisan Bert Hoeksema di Raffles Bulletin of Zoology Supplement No. 22:81-90, 2009.

 

Kondisi Koleksi yang Kini Memprihatinkan

Namun sayangnya, koleksi karang UBH saat ini amat memprihatinkan dan tidak terurus. Kondisi kertas label yang diikatkan ke masing-masing spesimen hampir hancur dan tulisannya sudah tidak jelas lagi karena dimakan usia.

Hal ini dikarenakan tidak ada lagi kader dan tenaga teknisi yang mumpuni (di museum dikenal dengan nama curator) yang bertanggungjawab dalam memelihara, meningkatkan jumlah koleksi dan melakukan manajemen koleksi spesimen karang kering ini. Padahal masih banyak spesimen yang memerlukan identifikasi dalam tataran genus hingga tingkat spesies.

Kegiatan ini jelas membutuhkan tenaga berkeahlian khusus yang tidak bisa tercipta dalam waktu singkat, namun harus lewat proses panjang. Juga memerlukan ketekunan dan kemampuan untuk membaca buku panduan yang umumnya berbahasa Inggris.

Juga gedung koleksi yang awalnya dibangun khusus untuk penyimpanan dan tempat kerja peneliti, saat ini juga telah beralih fungsi sebagai tempat perkantoran, yang berakibat lemari tempat spesimen dipindahkan ke tempat baru.

Pemindahan ini mengakibatkan lemari-lemari koleksi terpisah karena lokasi di tempat baru tidak cukup untuk menampung semua lemari koleksi karang. Hal ini tentunya sudah berbeda jauh dari konsep awal lemari koleksi yang seharusnya diletakkan dalam satu ruangan, tidak terpencar-pencar seperti saat ini.

Sangat disayangkan apabila potensi berskala internasional ini tidak terurus, sesuatu yang mungkin Fakultas Perikanan dan Kelautan UBH tidak sadar, bagaimana begitu besarnya manfaat dari koleksi karang tersebut.

Penulis menyarankan, jika sekiranya UBH tidak mampu mengurus koleksi ini, maka koleksi ini dapat disumbangkan ke lembaga lain yang mampu mengelolanya, salah satunya Yayasan Minang Bahari Padang, sebuah lembaga yang aktif dalam melakukan penelitian terumbu karang di perairan Sumatera Barat sejak tahun 1994 hingga sekarang.

Alternatif lain sebagian spesimen dapat digunakan sebagai tempat edukasi bagi mahasiswa magang atau sebagai media kunjungan siswa terkait program edukasi dan wisata. Seperti yang dilakukan di Museum and Art Gallery of the Northern Territory, Darwin, tempat penulis  melakukan magang selama sebulan pada tahun 1998 silam.

Jika koleksi karang ini terurus, tentunya tempat ini menjadi rujukan penting yang bakal dikunjungi para pakar biologi laut, marine scientist maupun pemerhati lingkungan pesisir internasional. Juga menjadi tempat para dosen, peneliti, mahasiswa Indonesia untuk belajar biota laut, khususnya beragam terumbu karang.

Sangat disayangkan, Indonesia yang memiliki jenis karang terbanyak di dunia, yaitu 569 jenis (mengacu pada hasil penelitian: Suharsono, peneliti senior dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI), saat ini tidak mampu mengelola koleksi yang amat berharga ini.

Mudah-mudahan dengan tulisan ini, semua pihak dapat tergugah untuk mulai memelihara dan mengaktifkan kembali koleksi karang tersebut. Sebuah harapan penulis yang pernah turut merintis koleksi karang ini selama dua tahun di awal-awal pendiriannya.

 

*Dr. Ofri Johan, M.Si, penulis merupakan peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya ikan Hias, Depok. Terlibat sebagai pengelola Fisheries Laboratories Universitas Bung Hatta (1996-1998). Artikel ini merupakan opini penulis.