Ketika Pygmy Marmoset Melawan Perusak Hutan

“My name is Kuko the Bird, I live on a tree, I live there with my happy family, Brothers, sisters, and granny. But I have to move from one tree to another different tree. Because, the tree is gone, they’re (all) gone, one by one.

Its the monsters who took our tree, They’ve cut it down, down, down, down. Now they have planted new concrete trees, They grow fast, but have no branches or leaves. I think I should move. From one sea across to another sea. To find new land, that is safe and no more monsters around. My granny said to me, One day we will fight back, We wont let them take away the trees from us anymore.”

Kisah Kuko si burung ini menjadi pembuka sandiwara radio berjudul Legenda Ksatria Kuko. Band duo dari Bali bernama primata terkecil di dunia Pygmy marmosete (Pygmos) ini menyuguhkan satu paket pendidikan lingkungan tentang pelestarian hutan melalui lagu, musik, buku, dan kisah sandiwara radio.

 

Konser album Pygmy Marmoset (Pygmos) bertajuk Kabar dari Hutan pada 2016 lalu. Foto: Luh De Suriyani

 

Pygmy marmoset adalah jenis monyet terkecil di dunia, beratnya sekitar 100 gram dan terancam punah di hutan Amerika Selatan. Band ini hendak mengingatkan kerapuhan bumi terlihat dari satwa mini penghuni hutan ini.

Kuko, dalam lagu adalah seekor burung yang kehilangan pohon-pohon untuk tinggal karena monster penebang liar. Sementara dalam sandiwara radio, Kuko diadopsi sebagai ksatria perempuan. Misinya sama, melawan perusak hutan dan mengusir mereka.

Alkisah Kuko dari Suku Sayap Baja harus berhadap-hadapan dalam sebuah perang melawan perusak hutan. Mereka mengusir pembakar lahan. Melawan balik.

Bagaimana peran perempuan dalam pelestarian alam disuguhkan dalam kisah ini. Pahlawan mereka, ksatria kuko awalnya dikira laki-laki karena menggunakan baju zirah tertutup. Mitos laki-laki yang lebih kuat, lebih berani dipatahkan dengan kenyataan bahwa pahlawan mereka adalah perempuan. Sementara pemimpin suku selalu laki-laki.

Pemilihan sandiwara radio sebagai medium adalah upaya serius Pygmos untuk membuat cara baru berkarya. Sandiwara radio ini ada dalam album dan buku naskah berjudul “Legenda Ksatria Kuko”. Belum pernah rasanya ada band, musisi yang menggabungkan lagu-lagu dengan lirik bertenaga, sandiwara radio, dan buku naskahnya dalam sebuah karya utuh. Semua karya dipresentasikan secara langsung saat konser pada akhir Mei lalu di Taman Baca Kesiman, Denpasar.

“Sandiwara radio untuk mengenang nostalgia,” seru Zenith Syahrani vokalis dan pembuat liriknya. Memori akan nenek yang gemar mendengar sandiwara radio di masa lalu. Zenith, perempuan muda yang baru menikah dan kini mukim di Jerman ini juga memainkan alat musik pianika, glockenspiel, ukulele secara bergantian dalam rekaman atau di atas panggung.

“Silakan mendeskripsikan sendiri siapa Kuko, bisa orang utan, mahluk lain,” ajak Wayan Sanjaya Adi Putra (gitar, vocal latar, ukulele) membebaskan tafsir lagunya. Karena banyak sekali yang menderita jika alam rusak.

 

Duo Pygmy Marmoset ini adalah Zenith dan Sanjay, dua anak muda yang kini mukim terpisah di Bali dan Berlin. Foto: FB Pygmos

 

Zenith dan Sanjay merasa perubahan di bumi terlalu pesat. Kadang mereka merasa terasing di rumah sendiri. Mereka mencontohkan banyak suku-suku yang mukim di hutan tropis Indonesia harus berpindah karena tergusur alih fungsi hutan atau kejahatan pembakaran dan pembalakan.

Pygmos dalam album ini bertransformasi dari yang sendu, ceria, reflektif, menjadi frontal.
“Pada satu titik, perlawanan keras tak bisa lucu-lucu halus,” kata Sanjay.

Pemilihan lirik bahasa Inggris di keseluruhan material lagu di album terakhir karena Zenith merasa lebih tepat menumpahkan energinya dalam rasa bahasa itu. Di album-album sebelumnya didominasi bahasa Indonesia. Album ini diramaikan para sahabat Pygmos, mereka berkolaborasi seperti illustrator muda Sri Rizki membuat artwork album dan ilustrasi di buku naskah sandiwara. Tambahan ketukan drum oleh Noriz Kiki dari Zat Kimia dan Fendy Rizki memetik contra bass.

Ada tiga lagu baru dalam album ini. Ketiganya terlihat saling terhubung, dimasukkan dalam album secara kronologis dengan sandiwara radio. Lagu yang muncul di menit awal sebagai pembuka adalah Kuko The Bird, mengenalkan bagaimana marahnya ketika hutan mulai gundul dan Kuko harus mencari pulau lain untuk disinggahi. Namun ia berjanji akan melawan, tak membirakan lebih banyak hutan habis.

Dilanjutkan sandiwara radio yang ditulis Agung Yudha dan dilakonkan Teater Kini Berseri, sebuah komunitas teater anak-anak muda produktif di Bali. Lagu kedua berjudul Unknown World mengalun di kisah sandiwara yang sedang turun tensi mengisahkan kepala suku, terluka usai perang. Hutan terbakar.

Unknown World

Where is the bird that used to sing,
Who wakes me up from the darkness in the morning,
Where is the air that I used to breathe in,
That keeps me alive so I can see you,
Take the place that I called home,
Take the place that I called home.

Where are the fireflies that used to dance,
That light up the way under the dark night skies.
Where are the crickets that used to sing,
sing me a lullaby that reminds me of
A place that I called home,
Of  a place that I called home,
Where is the place that I called home?

Where am I?
I am standing in the land of nowhere, Surrounded by a world somewhere,
Where am I?
My land has been sold,
Now I live in an unknown world

Where is the place that I called home?
Where is the place that I called home?

 

Satu paket karya kampanye pelestarian hutan ini adalah buku naskah dan CD berisi sandiwara radio dan tiga lagu. Foto: Pygmos

 

Sang bapak meyakinkan Kuko untuk tak hirau pada stigma perempuan tak bisa memimpin. Mulai lah Kuko dan rekannya membuat strategi mengusir penjarah hutan. Memasang perangkap, memantau posisi musuh untuk membebaskan warga yang disandera.

“100 tahun lalu kita membangun kedamaian. Namun kini kita sadar ada masanya kita memperjuangkan kembali apa yang kita miliki.Hari ini telah tiba. Semoga alam bersama kita. Ayo rebut rumah kita kembali!” Kuko memimpin penyerangan.

Lagu ketiga dilantunkan dengan intonasi berenergi oleh Zenith. Duo Pygmos membakar nyala semangat para penyelamat alam, menuruni bukit untuk melawan.

Fight Me under the Hill

Follow me down the hill,
Bring your sword and bring your shield
We are going to fight,
Fight the beast,
Fight the evil under the hill,

Their legs made of iron and steel,
Their hands are sharper than our arrows and swords,
They can see, but they cant see,
They are the evil under the hill

Set the fire into their shelter!
Let the flame come upon the sky!
Burn them down!
Burn them down!
Bring them down to the ground!

We will fight not until you give up,
We will fight until you die
And turn into dust..

Blow the horn,
We’re ready to fight,
Fight for our home,
dont let them hide,

 

Kabar dari Hutan

Zenith ketika di Bali bekerja sebagai guru sebuah play group. Ia menyanyi tak hanya di panggung atau studio rekaman, juga untuk anak-anak yang dijaganya. Ini menjawab kenapa nyaris semua karya Pygmos mujarab bagi siapa saja, termasuk anak kecil. Misalnya dari album perdana “Kabar Dari Hutan”.

“…Dibawah daunnya, manusia berlomba menulis sejarah dunia. Di bawah rantingnya, tertawa dan menyeka air mata. Dia menemani setiap musim berganti. Dia kekasih sang bumi.” Demikian petikan lagu berjudul Cerita tentang Pohon

Kisah pohon juga berkaitan dengan lagu berbahasa Inggris berjudul Those Monsters. Mereka para moster yang merusak hutan, pohon yang menjadi jejak kebudayaan.

Cerita-cerita sederhana penghargaan pada alam ini juga muncul di lagu Good Morning Zoo. Sementara kisah tentang pentingnya menjaga relasi dan komunikasi dengan manusia, seperti teman atau keluarga muncul di Little Short Conversation dan Merindu.

Konsep album yang dibuat terbatas ini juga unik dan menjadi satu kesatuan dengan lagu. Seperti sebuah amplop surat berwarna cokelat yang ditulis tangan oleh Sanjaya, untuk pembelinya. Di dalamnya berisi sekeping CD, selembar kertas A4 berisi ilustrasi dan gambar tangan oleh Zenith dan temannya menyatu dengan lirik-lirik lagu. Pygmos memang mengoptimalkan bakat lain personilnya. Sanjaya yang desainer grafis dan Zenith yang suka menggambar.

Entah kapan kisah-kisah dari hutan ini akan didendangkan duo monyet mini Pygmos ini lagi secara langsung di Indonesia. Mereka mengumumkan rehat ditandai peluncuran mini album kedua “Legenda Ksatria Kuko” ini. Untungnya narasi tentang hutan dan perlawanan ini masih bisa tiap saat bisa disimak dalam kepingan CD.