Pesona Singunung, Air Terjun Bertingkat Tiga di Konsesi Perusahaan Kayu

 

Air terjun di Mentawai ini bertingkat tiga. Ia ada di Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, masuk konsesi satu perusahaan kayu. Singunung, begitu warga menamai air terjun ini.

Untuk ke lokasi air terjun memerlukan 2,5 jam perjalanan dari ibukota kecamatan, Sikabaluan, Siberut Utara. Keberangkatan mulai dari Desa Sikabaluan, menaiki kendaraan roda dua menuju Desa Malancan, jarak tempuh sekitar 30 menit.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi suasana pedesaan nan asri dengan pepohonan tumbuh rapat. Udara begitu segar. Memasuki Desa Malancan, kami melewati gapura kayu bertuliskan, “Selamat Datang di Dusun Ukkra.”

Lingkungan bersih dengan rumah-rumah tradisional Mentawai tersusun rapi hingga ke Dusun Sibeuoncun. Setiap rumah berhias taman pagar bambu tertata apik. Sejenak kami berhenti sekadar mengabadikan momen, setelah itu lanjut perjalanan.

Setiba di ujung jalan, motor titip di rumah warga. Perjalanan lanjut berjalan kaki. Ligi Loer, warga penunjuk jalan, mengatakan, jalan rawa berlumpur hingga perlu pakai boot. Tak lupa krim anti nyamuk dan tembakau digosok-gosokkan ke seluruh badan menghindari lintah.

Derap sepatu boot saling bersahutan saat memasuki jalan setapak. Bunyi makin keras saat memasuki rawa-rawa berlumpur. Jalur berlumpur dalam diberikan titian kayu bulat sebesar betis orang dewasa oleh warga. Melewati titian ini perlu kehati-hatian ekstra kalau tidak kita bisa terpeleset dan masuk lumpur.

Sepanjang perjalanan saat melewati rawa banyak sagu–makanan pokok warga setempat—sekaligus pakan ternak ayam dan babi. Ada juga pohon buah-buahan seperti durian, langsat, manau, kakao, dan pinang.

Satu jam perjalanan kami menemukan souluk (pondok tempat pemeliharaan babi). Pondok ini punya satu kamar, dapur terbuka, beratap daun sagu. Seluruh bangunan dari kayu. Di bawah pondok, ada pagar kulit sagu sebagai kandang babi.

Babi milik warga ini dilepas ke hutan. Siang dan sore akan kembali ke pondok.

Ada lima pondok dilewati, jarak satu dengan yang lain sangat jauh. Setelah itu, baru menyeberang sungai, merupakan aliran Air Terjun Singunung selebar 10 meter. Dasar sungai banyak batu keras.

Tak lama derap langkah terhenti saat suara kerumunan bilou (primata Mentawai) memecah kesunyian. Terdengar pula suara burung sahut-menyahut. Meski lelah perjalanan cukup menyenangkan. Kamipun menyusuri sungai.

 

Kondisi hutan masih bagus di Siberut Utara. Foto: Vinolia

 

Tujuh kali kami memotong jalur sungai. Setiap sungai memiliki air jernih dan bersih. Ikan dan udang ukuran ibu jari kaki dan telapak tangan orang dewasa nampak dari permukaan sungai. “Kalau kita mengikuti jalan sungai ini akan lebih jauh, karena sungai belok-belok,” kata Ligi.

Tak terasa perjalanan kami sudah mendekati tujuan, gemericik air dari kejauhan mulai terdengar. Di hadapan kami mengalir air terjun jernih dengan aliran rendah, sebening kaca. Ini air terjun tingkat satu. Untuk menaiki air terjun tingkat dua, kami harus memanjat satu bukit, hanya akar kayu sebagai pegangan, dan pundakan tanah sebagai pijakan. Butuh kehati-hatian dan konsentrasi melintasi bukit ini. Tak kalah mengganggu adalah lintah yang menempel di dahan dan ranting pohon.

Hewan lunak ini sempat beberapa kali menempel di tubuh kami, dengan cepat lintah-lintah menghisap darah, setelah puas iapun melepaskan diri. Setelah melewati bukit ini, tampaklah Air Terjun Singunung, tingkat dua. Bulir-bulir embun dari hempasan air terjun mulai terasa, hawa sejukpun langsung menyeruak. Air terjun di kelilingi pohon-pohon besar, tepat sebelahnya berdiri gua dipenuhi kelelewar dan burung walet.

Usai melepas penat di air terjun tingkat dua, kamipun memanjat dinding air terjun pakai akar kayu yang menjuntai ke dinding tebing dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Permukaan cukup licin. Begitu ada pijakan bisa menopang kaki, setelah berupaya memanjat akhirnya sampai juga ke air terjun tingkat tiga. Suasana tingkat tiga tak jauh beda dengan tingkat dua, hanya lubuk cukup dalam.

 

Dalam konsesi perusahaan kayu

Dinas Kehutanan Kepulauan Mentawai menyurati PT. Salaki Summa Sejahtera (SSS) untuk mengidentifikasi dan evaluasi daerah aliran sungai (DAS) sumber Air Terjun Singunung di Dusun Sirilanggai—yang masuk areal mereka. SSS pemegang izin HPH. Surat dikirim sebelum Dishut Mentawai dilebur ke Dishut Sumbar.

Surat bernomor 522/364/Hut-Mtw/2016, tertanggal 16 Desember 2016, berisi tindak lanjut surat Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) kepada Dishut soal permohonan revisi rencana kerja tahunan SSS 2017. Juga memperhatikan usulan masyarakat Sikabaluan kala kunjungan Wakil Gubernur Sumbar ke Sikabaluan November 2016.

 

Aliran sungai dari air terjun Singunung. Foto: Vinolia

 

Dalam surat YCMM, lembaga ini menyampaikan kepada Dishut Mentawai untuk peninjauan kembali dan revisi RKT 2017 SSS yang masuk Desa Malancan, Siberut Utara.

Di wilayah ini ada Air Terjun Singunung yang berpotensi jadi air minum dan obyek wisata. Perlindungan air terjun penting guna mengantisipasi banjir karena Sungai Singunung berhulu di air terjun, bermuara di Dusun Sirilanggai. Jika hulu rusak, khawatir muara sungai banjir besar.

Warga Desa Sikabaluan, bersama pemerintah Siberut Utara telah menyampaikan usulan kepada Wagub Sumbar, Nasrul Abit, untuk membangun PDAM dengan sumber air dari Singunung. Juga mengusulkan bikin pembangkit listrik mikrohidro lewat APBN atau APBD.

Dishut menyarankan, SSS untuk mengidentifikasi dan evaluasi serta pemetaan DAS Air Terjun Singunung sampai hulu sungai.

Tasliatul Fuadi, Plt Kepala Dishut Mentawai membenarkan surat itu. “Kita menfasilitasi karena wewenang kita tak ada, yang kewenangan hanya provinsi dan kementerian,” katanya.

Selain Air Terjun Singunung, katanya, mereka sedang mendata air terjun lain, seperti di Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan dan masuk PT. Minas Pagai Lumber.

Rifai, Direktur YCMM, mengatakan, pengembangan air terjun sangat potensial bagi masyarakat. “Kita mau kawasan itu dilepaskan, luas sampai hulu sungai sekitar 90 hektar.”

Kepala Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Barnabas Saerejen mengaku belum menerima tembusan surat Dishut.

Barnabas bilang, bila benar Air Terjun Singunung akan lepas dari konsesi HPH, pemerintah hendaknya mengambil langkah kongkrit dengan pemanfaatan lebih baik. “Kita sambut gembira. Kita berharap air terjun tiga tingkat terjaga dan terkelola baik untuk masyarakat.”

Pemanfaatan air terjun, katanya, bisa untuk PDAM, PLTA dan tempat wisata. “Desa siap membuat perdes pengelolaan,” katanya.

Masyarakat Sirilanggai, sebagai pemilik lahan sangat mendukung pengelolaan air terjun lebih baik. “Masyarakat sudah kecewa dengan HPH yang tak mampu menyelesaikankonflik dengan masyarakat, apalagi soal pelestarian.”

 

Warga tengah mengolah sagu. Foto: Vinolia

 

Peternakan babi di Desa Malancan, SIberut Utara. Foto: Vinolia

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, ,