Hasil Penelitian: Jambul Kuning Itu Memang Nyata di Tanahjampea

 

Sepasang kakatua jampea (Cacatua sulphurea djampeana) yang berada di pohon tidurnya. Foto: Hanom Bashari

 

Kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea) merupakan salah satu kakatua tercantik di dunia. Bulu putihnya nan bersih, berhiaskan jambul dan rona pipi kuning, sungguh memikat hati. Satwa kharismatik ini banyak dijadikan simbol, logo, maupun inspirasi seni lainnya di berbagai daerah Indonesia.

Dalam sejarahnya, kakatua ini tersebar cukup luas, mulai dari Pulau Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, Kepulauan Masalembu, Nusa Penida (Bali), sepanjang jazirah Nusa Tenggara hingga ke Timor.

Namun sayang, penurunan populasi yang terindikasi akibat perburuan dan perdagangan, serta hilangnya habitat-habitat kunci, menyebabkan kakatua ini menyandang status Kritis (Critically Endangered – CR) dalam kriteria badan konservasi dunia (IUCN). Tak heran beberapa kantong populasinya ada yang lenyap, saat ini.

Sebelumnya, kakatua-kecil jambul-kuning (KKJK) hanya dikenal empat subjenis, yaitu C.s. sulphurea untuk mereka yang tersebar di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya; C. s. abotti yang tersebar di Kepulauan Masalembu; C. s. parvula yang tersebar di Kepulaun Nusa Tenggara (kecuali Pulau Sumba); serta si cantik C. s. citrinocristata yang endemis Pulau Sumba.

Namun hasil analisa terbaru yang dipublikasikan oleh N. Collar dan S. Marsden 2014 menyebutkan, ada pemisahan kembali beberapa subjenis, yaitu subjenis C. s. paulandrewi untuk yang tersebar di Kepulauan Wakatobi; C. s. djampeana untuk yang tersebar di Kepulauan Tanahjampea; dan C. s. occidentalis untuk yang tersebar dari Lombok sampai Alor (dipisahkan dari C. s. parvula yang menjadi khusus tersebar di Pulau Timor).

 

Bentang hutan alam tersisa di Pulau Jampea. Foto: Hanom Bashari

 

Walau dipisahkan menjadi beberapa subjenis baru, namun banyak tempat penyebaran KKJK ini yang tidak diketahui lagi keberadaannya, khususnya yang terebar di pulau-pulau kecil. Salah satu yang menjadi misteri adalah status KKJK yang berada di Kepulauan Tanahjampea.

Setelah laporan tua pada 1895 dan 1927, tidak ada lagi informasi yang menyatakan keberadaannya. Hingga, Guy Dutson menuliskan hasil ekspedisinya pada 1993 yang melihat “hanya” dua individu di Jampea. Sayangnya, itulah laporan terakhir kakatua di Tanahjampea. Walaupun kepulauan ini menjadi target beberapa birding tour pada 2011-2014, namun tak satu jua yang menyatakan pernah melihatnya.

Kepulauan Tanahjampea sendiri merupakan rangkaian pulau yang tersebar di Laut Flores, dengan pulau-pulau utamanya yaitu Jampea (pulau terbesar dengan luas 172 km2), Bonerate, Kalao, dan Kalaotoa. Secara administratif, kepulauan ini masuk Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

 

Pohon rao yang masih ada di Jampea, sarang potensial kakatua. Foto: Hanom Bashari

 

Penemuan kembali

Kabar baik datang untuk kakatua dari Tanahjampea. Hasil survei terkini yang dilakukan H. Bashari dan T. Arndt pada September 2015 (Jurnal Forktail edisi 32: 62 – 65, terlampir), berhasil menjumpai kakatua ini di dua pulau, yaitu Jampea dan Kalao. Selama empat hari observasi di Jampea, telah dijumpai 14 individu dalam rentang ketinggian 50 – 385 meter dari permukaan laut (mdpl). Sedangkan dua hari observasi di Kalao, hanya dijumpai 3 individu dalam rentang ketinggian 10 – 120 mdpl. Di semua lokasi, hanya 1 sampai 4 individu saja terlihat dalam satu kali perjumpaan.

Pertemuan kembali kakatua di Tanahjampea dalam survei singkat ini memang tidak dapat dijadikan dasar dalam pendugaan populasi mereka secara keseluruhan. Namun, Thomas Arndt sebagai observer survei ini menyatakan, “Populasinya tidak akan lebih dari 250 individu untuk gabungan dua pulau tersebut, Jampea dan Kalao.”

Tentu saja, terlihatnya kakatua di Tanahjampea memberi harapan signifikan untuk kelestariannya. Sebab, tak banyak kantong-kantong populasi KKJK yang masih bertahan selama ini. Sebut saja, Pulau Komodo dan Sumba sebagai benteng terbaik untuk dua subjenis yang berbeda. Untuk beberapa daerah di Pulau Timor (baik wilayah Indonesia maupun Timor Leste) hanya menyisakan petak-petak kecil hutan dengan beberapa kelompok kecil kakatua yang tersebar. Di Sulawesi, hanya di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai yang secara pasti dipisahkan keberadaannya. Sementara di Kepulauan Masalembu, dikabarkan tidak lebih dari 20 individu yang tersisa, saat ini.

 

Pembukaan kebun baru dengan sistem tebang habis, menempati lereng-lereng bukit di Jampea, sebagai salah satu ancaman serius pengurangan luasan hutan. Foto: Hanom Bashari

 

Tekanan habitat dan populasi

Tekanan habitat hutan menjadi ancaman tertinggi kelestarian populasi KKJK di Tanahjampea. Berdasarkan peta tutupan hutan 2011 yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kepulauan Tanahjampea hanya tersisa 34 persen wilayah berhutannya. Pulau Jampea dan Kalao merupakan pulau dengan persentase sisa hutan tertinggi, masing-masing 44 dan 84 persen dari luasan pulau. Bahkan Pulau Bonerate, pulau kedua terluas di kepulauan ini, sama sekali tidak tersisa hutannya.

Populasi kakatua di Tanahjampea pun sangat terasa menurun dalam pengamatan penduduk lokal. “Sekitar 15 tahun lalu, kelompok kakatua lebih dari 15 ekor, masih menyerang ladang pertanian,” menurut Makmur Sultan, petani di Jampea. Bahkan di Kalao, menurut penuturan masyarakat di sana, sepuluh tahun lalu masih mudah dilihat kawanan kakatua hingga 30 ekor menyerang kebun-kebun jagung masyarakat. Namun saat ini, hanya 4 ekor yang datang ke kebun-kebun jagung tatkala hampir panen.

Penurunan populasi yang cepat ini diperparah dengan hilangnya pohon-pohon besar sebagai pohon sarang kakatua. Pohon rao (Dracontomelon sp.) merupakan pohon sarang favorit kakatua di Jampea, karena pohon ini membentuk lubang di bagian teras saat tubuhnya membesar. Inilah yang menyebabkan beberapa pohon rao selamat dari penebangan skala lokal karena lubang yang ada tidak menguntungkan untuk dikomersilkan. NAmun begitu, ketersediaan pohon sarang yang kurang, tentu saja akan menghambat proses reproduksi kakatua untuk pulih.

Gangguan kerusakan hutan juga terjadi akibat pembukaan hutan-hutan tersisa untuk kebun masyarakat. Pembukaan hutan, bahkan terjadi di lereng-lereng bukit pada ketinggian lebih dari 300 mdpl di Jampea. Beberapa bagian di Kalao juga tak jauh berbeda. Walaupun masih tersisa hutan paling luas di seluruh kepulauan ini, namun ketinggian maksimal yang hanya 320 mdpl sangat mudah dijangkau. Selain itu, lapisan tanah yang sangat tipis di atas batu-batu karang akan berdampak pada susahnya hutan untuk pulih kembali, jika terjadi kerusakan.

Sedangkan kasus perburuan, walaupun tidak spesifik berburu kakatua, akan tetapi praktik berburu burung “apapun” masih terjadi di Jampea maupun Kalao.

 

Peta perjumpan kakatua di Tanahjampea dan Kalao. Peta: Indah Ristiana

 

Upaya konservasi

Sebagian besar penduduk Tanahjampea hidup dari bertani. Persawahan di Jampea terbentang luas karena diuntungkan oleh dataran yang cukup luas di bagian barat dan timur pulau. Persawahan menjadi kunci pendekatan untuk melakukan upaya konservasi kakatua, di sini. Sebagian persawahan pun sudah menerapkan sistem irigasi yang baik dalam pengairannya, sehingga memperoleh hasil optimal sepanjang tahun. Banyak bendungan dibangun untuk sistem irigasi di beberapa sungai besar yang hampir ada di setiap bagian pulau.

Tentunya, ketersediaan air menjadi sangat penting bagi usaha persawahan masyarakat. Sedangkan persediaan air dalam jangka panjang hanya dapat didapatkan dengan terjaganya hutan, yang tersisa di pulau ini. Sehingga, secara tidak langsung, ajakan untuk menjaga sebagai jaminan ketersediaan air jangka panjang untuk persawahan, akan membawa dampak terjaganya hutan sebagai habitat kakatua di sana.

Untuk kasus-kasus perburuan, aktivitas ini masih dapat ditekan jika permintaan untuk perdagangan tidak terjadi. Tentu saja, upaya-upaya penyadartahuan masyarakat untuk menjadikan kakatua sebagai aset kebanggaan daerah mereka akan lebih efektif ditonjolkan. Jika upaya-upaya konservasi sesegera mungkin dilakukan, harapan kakatua tetap lestari di Tanahjampea sangat berpeluang terjadi.

 

* Hanom Bashari, penulis adalah peneliti dan konservasionis burung dan ekologi di lembaga konservasi Burung Indonesia. Artikel ini merupakan rangkuman dari hasil penelitian penulis.

 

Hanom Bashari

Enhancing Protected Area System in Sulawesi (E-PASS) for Biodiversity Conservation project Bogani Nani Wartabone FCU, Jalan AKD Mongkonai, Kotamobagu, Sulawesi Utara. Email: basharihanom@gmail.com

Naskah asli:

Bashari, H. & Arndt, T. (2016) Status of the Critically Endangered Yellow-crested Cockatoo Cacatua sulphurea djampeana in the Tanahjampea islands, Flores Sea, Indonesia. Forktail 32: 62–65.

Yellow-crested-Cockatoo-Tanajampea.pdf