Asyiknya Berenang di Bekas Area Tambang Ini

 

Bebukitan kapur makin banyak dibelah jadi obyek wisata. Bahan tambang ini menghasilkan jauh lebih banyak dibanding hanya sebagai komoditas material bangunan.

Misalnya di Bali ada area Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Jimbaran, Badung yang dikembangkan jadi kompleks wisata seperti arena pertunjukkan indoor dan outdoor, restoran, dan sedang dibangun patung tertinggi (GWK) di atas bebukitan kapur.

Selain itu ada Pantai Pandawa yang makin mudah terakses setelah sejumlah bukit kapur dibelah. Menyisakan sebagian bukitnya yang diukir menjadi patung tokoh pewayangan. Pantai yang dulunya sangat sulit diakses karena tersembunyi di balik bukit kapur kini sangat mudah dan luas dengan aneka fasilitas wisata.

 

Tebing terjal di kawasan Bukit Jaddih, Bangkalan, Madura dengan puluhan kendaraan dan ratusan pengunjung saat hari liburan. Foto Luh De Suriyani/Mongabay

 

Nah di Bangkalan, Madura ada model lain pengembangan wisata bukit kapur. Namanya Bukit Jaddih, di Desa Jaddih, Kecaamatan Socah, Bangkalan, Madura. Makin terkenal setahunan ini. Ini area tambang aktif yang sangat luas, masih terlihat bebukitan kapur di sekeliling area wisata.

Di lokasi ini kita masih bisa melihat lalu lalang truk pengangkut galian kapur. Mereka perlahan naik ke atas bebukitan yang masih tinggi, meliuk-liuk di tikungannya yang tajam, atau berpapasan dengan kendaraan pengunjung saat di kaki bukit.

Lokasinya sekitar 30 menit berkendara dari Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Jadi sangat mungkin menjadi tempat wisata pertama bagi pengunjung yang menginjak pulau yang lebih dikenal sebagai asal dagang sate dan pemangkas rambut di Bali.

Ada sejumlah jalan menuju Bukit Jaddih. Pertama dari jalan bypass dari dan ke arah Suramadu. Kedua, dari pertigaan arah pusat kota Bangkalan. Serta jalur lain di Bangkalan.

Kendaraan melalui jalur yang sangat pas berpapasan dua mobil. Jika ada kendaraan di bahu jalan, harus berhenti menunggu giliran lewat. Sampai tiba di jalur jalan kapur belum diaspal memasuki pemukiman penduduk. Kendaraan tersendat saat liburan lebaran lalu karena lalu lalang padat.

Warga menjual salak di depan rumahnya. Madura juga pemasok salak. Rasanya kombinasi salak Pondoh dan Bali, ada gado-gado rasa asam, manis, kecut. Teksturnya seperti pondoh dengan daging tipis tapi warnanya kekuningan.

 

Bekas tambang yang ditata menjadi taman rekreasi di Goa Pote, Bangkalan, Madura, Jatim. Foto Luh De Suriyani/Mongabay

 

Bekas Tambang

Bebukitan terlihat ditambang di sejumlah sudut. Tak beraturan, ada beberapa potong bukit ditinggalkan penambang. Terlihat mejulang karena kanan kirinya sudah habis sampai dasar. Sejumlah kolam bekas tambang malah menjadi spot pemberhentian pengunjung. Bekas galian berisi air hujan ini memantulkan refleksi pengunjung untuk ditangkap kamera ponsel yang banyak diacungkan dengan tongsis.

Ada juga bekas kolam lebih dalam yang diratakan dan dibentuk persegi seluas kolam renang untuk perlombaan. Kolam ini dikelilingi bebukitan putih sehingga warnanya kontras dengan kolam yang hijau kebiruan.

Di sudut lain ada kolam Goa Pote, demikian dinamakan dan dibuatkan signletter. Mirip kolam renang tapi kolamnya lebih kecil. Dibagi jadi dua kolam, satu lebih dangkal berisi banyak ikan. Tempat bermain anak-anak mengejar gerombolan ikan yang sangat gesit menghindar ketika ditangkap.

Kolam lebih besar digunakan untuk lalu lalang dan sewa rakit. Petugas mendayung santai karena jaraknya kurang dari 100 meter, memutari kolam seperti gondola di Venice. Tapi rakit beratap ini bisa menampung lebih dari 10 orang.

Di sisi lain, pengunjung ada yang mendaki bukit untuk melihat kawasan ini dari ketinggian. Warna hijau hanya terlihat di puncak gunung dari sisa rumput liar dan sedikit pohon pendek. Ada yang menelusuri bekas garukan mesin ekskavator yang membuat pola garis vertikal di bebukitan. Pengunjung memanfaatkan tiap sisi yang dinilai menarik sebagai latar.

 

kolam renang bukit jaddih: Kolam bekas tambang yang diubah menjadi kolam renang di Bangkalan, Madura, Jatim. Foto: bangkalankab.goid

 

Pengelola memanfaatkan bukit sebagai toko atau los berjualan. Digali berbentuk kotak untuk toko souvenir atau makanan. Jadi mereka hanya perlu membawa barang dagangan.

Jika biasanya berada di tengah bukit kapur terasa gersang, di Bukit Jaddih bisa menyejukkan. Barangkali karena unsur air di bekas-bekas tambang yang dikelola apik.

H. Mustofa, warga desa Jaddih yang memiliki area 15 hektar di kawasan ini dan mengaku pengelola Goa Potte menyebut awalnya kawasan ini sepenuhnya tambang batu kapur. Juga ada warga yang bercocok tanam di area yang bisa diolah. Kemudian muncul air dari dalam tanah yang diduga sungai yang membuat bekas galian tergenang air di permukaannya. Muncul lah ide membuat kolam renang dan kolam di kawasan bukit Goa Potte itu.

“Seperti dipanggil oleh sumber air di bawah itu. Dimanfaatkan airnya untuk kolam renang dan kolam lain, tapi tak dalam,” ujar pria pengusaha tambang batu kapur ini.

Mustofa mengatakan ada banyak pemilik area tambang di kawasan sekitar 200 hektar ini, sehingga tiap spot ada pengelolanya berbeda. Tak heran, tiap masuk ke salah satu spot, pengunjung bayar lagi. Padahal sudah bayar tiket masuk di bagian depan. Lalu ketika belok ke area Goa Potte bayar Rp10 ribu untuk mobil dan Rp3000 per orang. Demikian juga jika ke kolam renang dan spot ramai lain.

Jika tak ingin membayar tiket terus menerus, warga bisa bersantai di tebing dan genangan yang belum ditata. Jadi masih alamiah. Sementara di area yang bertiket tebingnya sudah diratakan, dibuatkan kolam dangkal, ada atraksi rakit, penjual makanan, tangga, dan lainnya.

“Kami sedang duduk bersama dengan pemerintah daerah untuk menata,” ujarnya. Ia sendiri mengaku belum paham bagaimana aturan dan Perda-nya.

 

Pengunjung menikmati suasana di bekas tambang di Bangkalan, Madura, Jatim. Air muncul dari bawah area bekas tambang yang dimanfaatkan masyarakat untuk jadi kolam rekreasi. Foto Luh De Suriyani/Mongabay

 

Penghasilan dari wisata alam ini menurutnya bisa dimanfaatkan lebih banyak masyarakat dibanding usaha tambang. Misalnya warga bisa berjualan di jalur masuk dan sekitar area. Sebelumnya, bahan tambang dijual untuk bahan urugan saja.

Namun ada risiko dari wisata dari jejak tambang seperti ini. Perlu diperhatikan mengenai pengaturan jalur kendaraan truk dan alat berat. Pentingnya papan-papan informasi mengenai kemiringan tebing dan berapa jumlah kendaraan dan pengunjung yang bisa naik. Kemudian potensi polusinya, bagaimana warga dibekali untuk mengurangi hirupan partikel debu dan material tambang.