Terumbu Karang di Nusantara Membaik, Namun ….

 

Terumbu karang di perairan Sangalaki, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Foto: The Nature Conservancy (TNC)

Kondisi terumbu karang di wilayah perairan Indonesia secara keseluruhan terus memperlihatkan kondisi membaik. Meskipun, pada saat yang sama, ada terumbu karang yang masih terkena pemutihan (white bleaching) akibat fenomena perubahan iklim (climate change).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada bulan lalu merilis data terbaru kondisi terumbu karang tersebut. Kepada Mongabay Indonesia, Kepala Pusat Oseanografi LIPI Dirhamsyah menjelaskan, kesimpulan didapat setelah LIPI melakukan monitoring jangka panjang sejak 1993.

Selama periode pemantauan tersebut hingga tahun ini, Dirhamsyah menyebut, terjadi kecenderungan peningkatan kondisi terumbu karang ke arah yang lebih baik. Artinya, terumbu karang yang sebelumnya mengalami kerusakan atau terancam mati, pelan-pelan berhasil memulihkan kondisinya hingga kembali sehat.

“Walaupun di pengujung 2016 terjadi sedikit penurunan. Hal ini disebabkan pada 2015 dan 2016 hampir di seluruh perairan Indonesia dilaporkan terjadi pemutihan karang yang diikuti dengan infeksi penyakit dan serangan hama,” ucap dia.

Kesimpulan tentang kondisi terumbu karang tersebut, kemudian dilaporkan secara resmi dalam bentuk dokumen tertulis yang dirilis untuk publik. Dokumen terbaru itu, kata Dirhamsyah, diharapkan bisa menjadi panduan kelompok ataupun perseorangan yang memerlukan data terkini terumbu karang.

“Data status terumbu karang tahun ini diharapkan dapat digunakan semua pihak dalam penyusunan kebijakan, upaya rehabilitasi, pengelolaan dan konservasi terumbu karang nasional, serta dapat memberikan prediksi kondisinya di masa akan datang,” harap dia.

Selama pemantauan yang dilakukan jangka panjang, Dirhamsyah memaparkan, pihaknya berhasil melakukan verifikasi dan analisa data kondisi terumbu karang di perairan Indonesia. Semua data tersebut diambil dari 108 lokasi dan 1.064 stasiun di seluruh Indonesia.

Menurut Dirhamsyah, dengan dirilisnya data terbaru kondisi terumbu karang di perairan Indonesia, Program Kebijakan Satu Peta (One Map Policy) bisa semakin bagus lagi. Hal itu, pada akhirnya akan memberi kesempatan kepada masing-masing daerah di Indonesia untuk segera memetakan zonasi lautnya.

 

Terumbu karang Desa Les, Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia

 

Tinggal 6,39 Persen

Meski disimpulkan terus membaik, Dirhamsyah mengakui, dari hasil pemantauan tersebut, kondisi terumbu karang yang dinyatakan masih sangat baik, kini tinggal 6,39 persen saja. Kemudian, terumbu karang yang kondisinya baik saat ini mencapai 23,40 persen, kondisi cukup sekitar 35,06 persen, dan kondisi jelek berkisar 35,15 persen.

Pengukuran kondisi tersebut, kata dia, didasarkan pada persentase tutupan karang hidup yaitu kategori sangat baik dengan tutupan 76-100 persen, kategori baik dengan tutupan 51-75 persen, cukup dengan tutupan 26-50 persen, dan jelek dengan tutupan 0-25 persen.

Tak hanya di Indonesia saja yang mengalami penurunan tutupan terumbu karang, hal yang sama juga terjadi di negara lain seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. Demikian diungkapkan Profesor riset bidang biologi laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono.

Menurut dia, terjadinya penurunan tutupan, disebabkan karena faktor yang hampir sama. Di Indonesia, selain karena ulah manusia, penurunan bisa terjadi karena ada fenomena alam seperti perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya pemutihan masal pada terumbu karang.

Kondisi seperti itu, kata Suharsono, persis dialami terumbu karang yang ada di negara-negara disebut di atas. Terutama, di Australia yang memiliki gugusan terumbu karang indah di kawasan Great Barrier Reef, negara bagian Queensland.

“Bahkan, di Great Barrier Reef, pemutihan terumbu karang bisa mencapai dua pertiga dari total luasan yang ada,” jelas dia.

Lebih jauh Suharsono mengungkapkan, dari semua terumbu karang yang mengalami kerusakan akibat terkena pemutihan masal, sebagian besar timbul karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga biota laut tersebut. Padahal, keberadaannya sangat berharga karena pertumbuhannya sangat lamban setiap tahun.

Dijelaskan dia, kejadian pemutihan karang ini disebabkan oleh kenaikan suhu air laut akibat fenomena anomali cuaca El-Nino. Selain itu, para ahli memperkirakan pemutihan karang akan sering terjadi di masa yang akan datang akibat kombinasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global.

Di sisi lain, Suharsono menyebutkan, hasil pengamatan di lapangan pada beberapa lokasi, masih ditemukan aktivitas merusak, seperti penangkapan ikan menggunakan bom, pencemaran dan peningkatan pengembangan di wilayah pesisir.

“Pada kondisi terumbu karang sangat baik, walaupun cenderung konstan, namun pada 2016 terjadi kenaikan sebesar 1,39 persen, sebagai indikasi peningkatan luasan dan efektifitas kawasan konservasi perairan serta upaya rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang di Indonesia,” katanya.

 

Karang meja yang rentan terhadap pemutihan atau coral bleaching. Foto: Wisuda/Mongabay Indonesia

 

Sabang sampai Merauke

Suharsono kemudian menuturkan, sebaran terumbu karang yang ada di Indonesia bisa ditemukan mulai dari perairan Sabang di Provinsi Aceh hingga Merauke di Provinsi Papua. Dari sebaran tersebut, konsentrasi tertinggi berada di bagian tengah dan timur perairan Indonesia meliputi perairan Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, dan Maluku.

“Wilayah yang disebut itu, sekaligus menjadi pusat segitiga keanekaragaman karang dunia atau coral triangle,” tandas dia.

Dari hasil pengukuran terkini melalui pemetaan citra satelit, Suharsono menyebutkan, luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang dunia yang mencapai luas 284.300 km2. Luas tersebut menyumbang sekitar 34 persen dari luas terumbu karang di wilayah segitiga karang dunia yang mencapai luas 73.000 km2.

“Menjadi pusat segitiga karang dunia, Indonesia memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia,” paparnya.

Dia mencontohkan, jenis karang Acropora di Indonesia jumlahnya mencapai 94 jenis dari total 124 jenis atau mencapai 70 persen karang Acropora yang ada di dunia. Sementara, jenis karang Famili Fungiidae, ditemukan 41 jenis dari total 43 jenis yang ada di dunia atau sekitar 90% tersebar di perairan Indonesia.

Untuk jenis-jenis karang endemik yang ditemukan di perairan Indonesia, Suharsono menyebut antara lain Acropora suharsonoi, Isopora togeanensis, Acropora desalwi, Indophyllia macasserensis dan Euphyllia baliensis.

“Jenis karang dengan sebaran terbatas dan merupakan share stock dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik juga ditemukan di perairan Indonesia antara lain Acropora kasuarini, Acropora rudis dan Acropora turtuosa,” papar dia.

 

Keanekaragaman hayati laut di Pulau Mandiki, Sumbawa Barat. Foto: WCS

 

Padang Lamun

Saat kondisi terumbu karang membaik, ekosistem padang lamun di wilayah perairan Indonesia justru mengalami hal sebaliknya. Saat ini, dari hasil pemantauan yang dilakukan tim Oseanografi LIPI, ekosistem padang lamun sedang mengalami kondisi tidak bagus alias kurang sehat.

Peneliti P2O LIPI Udhi Eko Hermawan menjelaskan, status kondisi ekosistem padang lamun yang dinyatakan kurang sehat, mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004. Dalam Kepmen tersebut, disebutkan bahwa tutupan lamun pada kisaran 30 persen – 59 persen dinyatakan dalam kondisi ‘kurang sehat’.

“Saat ini, presentase secara umum, tutupan lamun di Indonesia mencapai 41,79 persen. Jika mengacu Kepmen, masuk kategori kurang sehat. Saat ini, hanya lima persen saja padang lamun yang kondisinya sehat dan itu ada di Biak, Papua, salah satunya,” jelas dia.

Terus menurunnya kondisi padang lamun, menurut Udhi, dipengaruhi aktivitas manusia baik di darat maupun laut. Semakin tinggi tekanan aktivitas manusia, risiko kerusakan yang akan ditanggung oleh habitat padang lamun akan semakin tinggi.

Di antara aktivitas manusia yang sangat rentan menurunkan kualitas ekosistem padang lamun, menurut Udhi, adalah reklamasi pantai dan pembangunan wilayah pesisir yang mencakup di dalamnya permukiman. “Aktivitas tersebut, bisa berdampak langsung pada habitat lamun.”

 

Dugong yang terpantau di wilayah perairan Kabupaten Alor, NTT. Foto: WWF-Indonesia/Tutus Wijanarko

 

Di Indonesia, Udhi mengungkapkan, terdapat paling sedikit seluas 150 ribu hektare padang lamun yang tersebar di 423 wilayah perairan Indonesia. Dengan luas seperti itu, kata dia, potensi lamun sangat besar untuk bisa bermanfaat bagi alam sekitar dan kehidupan manusia. Namun, manfaat itu sangat bergantung pada kebijaksanaan manusia yang ada di darat dan laut.

“Ekosistem ini bisa menunjang keberlangsungan sumber daya ikan, karena menjadi rumah ikan. Selain itu, lamun juga memiliki fungsi seperti hutan untuk menyerap CO2, namun dengan jumlah yang berkali lipat lebih besar. Fungsi itu bisa mengurangi laju perubahan iklim,” tutur dia.

Mengingat ancaman kerusakan sangat tinggi, Udhi menghimbau semua pihak untuk bisa menjaga keberadaan padang lamun dengan melakukan konservasi bersama dan berkesinambungan. Salah satu caranya, mencegah berbagai aktivitas yang mengancam keberlangsungan lamun.

“Pembangunan di wilayah pesisir menjadi yang paling rentan, harus ada tindakan bersama. Saat mengalami kerusakan pun, lamun sebenarnya masih bisa dipulihkan dengan dilakukan transplantasi dan menciptakan areal padang lamun baru.”

Udhi menambahkan, di Indonesia saat ini terdapat 15 spesies dari total 69 spesies lamun yang ada di seluruh dunia. Fakta tersebut, menjadikan Indonesia sebagai negara kaya biota laut di dunia. Untuk lamun sendiri, menjadi ekosistem bagi habitat sejumlah biota laut seperti mamalia duyung.

“Juga menjadi tempat mencari makan bagi penyu dan berbagai jenis ikan serta aneka hewan lunak,” pungkas dia.