Asap Riau Berpotensi sampai ke Negeri Tetangga

Pemantauan titik api di Riau oleh Jikalahari. Grafis: Jikalahari

 

 

Kebakaran hutan dan lahan kembali hampiri Riau. Ratusan personel tim pengendalian kebakaran hutan dan lahan dari berbagai instansi pemerintah berupaya memadamkan kebakaran di sejumlah titik di Riau. Termasuk mengaktifkan delapan heli dan pesawat untuk patroli dan pemadaman udara. Angin kencang bikin bara gambut kembali berkobar. BMKG memperkirakan, asap bisa sampai ke negeri tetangga kalau tak tertangani dengan sigap.

Sukisno SP Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru,  khawatir, jika titik api tak dapat diatasi cepat serta tak ada curah hujan di bagian pesisir timur Riau, asap bisa mengarah ke Semenanjung Malaka. Kini, pola arah angin dari Riau ke timur laut.

“Karena ada badai tropis di Filipina. Arah normal angin kita begitu, di bawah 15 knot. Ya, potensinya ada (asap menyebar ke Singapura), tapi saya yakin satgas kita bagus kerjanya. Mudah-mudahan tidak terjadi,” katanya kepada Mongabay, Jumat siang.

Satu minggu ke depan,  secara umum Riau masih kemarau. Setelah September, transisi ke musim hujan. Menurut dia, puncak kemarau Agustus dan tahun ini jauh lebih kering dibandingkan 2016 yang basah.

BMKG Pekanbaru melaporkan, titik api Jumat sore ada lima dengan tingkat keyakinan 50%. Tiga di Indragiri hilir, satu di Indragiri Hulu dan satu titik di Pelalawan.

Titik api di Dumai tak terpantau kemungkinan kendala saat satelit pemotretan. “Disini pantauan BMKG tak ada api, sebenarnya ada. Kita terus padamkan,” kata Jusman.

Di Sumatera ada 31 titik api dengan Sumatera Selatan paling banyak (14) diikuti Riau (5), Jambi (4), Lampung (3), Sumatara Utara dan Kepuauan Bangka Belitung masing-masing 2 titik,  serta Bengkalu satu titik.

 

Pemadaman kebakaran di Aceh. Foto: KLHK

 

 

Sulit air dan angin kencang

Lahan gambut di Kecamatan Mandau, Bengkalis terbakar selama empat hari,  pada Kamis (27/7/17) hampir padam. Hari kelima, Jumat, api kembali berkobar karena ada angin kencang. Luas kebakaran sampai 20 hektar.

“Heli pagi ini (saya minta) tuntaskan lagi di Mandau. Saya minta dituntaskan betul jangan sampai ditinggal. Di sana gambut gak dalam cuma angin kencang,” kata Edwar Sanger, Kepala Badan Penanggalangan Bencana Daerah Riau, dikutip dari Green Radio Pekanbaru.

Selain water bombing, tiga regu beranggotakan sekitar 50 petugas pemadaman terus berjuang mengendalikan sebaran api meski terkendala akses air jauh.

Kobaran api gambut di Pulau Padang, Kepulauan Meranti, katanya,  lima sampai delapan hektar mulai padam dengan pengerahan sekitar 111 personil pemadam.

Di Kota Dumai, Komandan Operasi Manggala Agni Dumai membawahi Dumai, Rokan Hilir dan Bengkalis, Jusman, kepada Mongabay mengatakan,  bahwa kini tim terdiri dari TNI, Polri dan Manggala Agni terus berjuang memadamkan api di sejumlah titik. Ada empat titik api di Kota Dumai, di Tanjung Palas seluas dua hektar, Teluk Makmur Kecamatan Medan Kampai empat hektar, Bangsal Aceh empat hektar dan Jalan Budi Arif Kota Dumai satu hektar.

“Kondisi (asap) sudah berkurang. Api sudah hilang. Di Bangsal Aceh agak lambat pemadaman karena gambut dan terkendala sumber air jauh. Kami harus mengangkat mesin sampai 400 meter, sementara air bisa satu kilometer jaraknya,” kata Jusman, Jumat sore.

Selain akses air jauh, angin kencang membuat api kembali berkobar. Tim kewalahan memadamkan api meski telah dibantu pemadaman udara. “Angin kencang. Pagi sudah mau gerimis, tapi tak mau hujan.”

Dari pengamatan di lokasi kebakaran, Jusman menilai ada unsur kesengajaan dari oknum masyarakat. Hingga sekarang, tim masih memburu oknum ini.

 

Konsesi perkebunan terbakar

Woro Supartinah, Koordiantor Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari)  menyatakan, analisa titik api menggunakan satelit Terra-Aqua Modis, terdapat 84 titik api selama 17-23 Juli. Ada 21 konsesi perusahaan HTI bertitik api.

Dari jumlah itu, konsesi PT RAPP paling banyak 12 titik, dengan tingkat keyakinan titik api 70%, satu titik api di RAPP dan PT Uni Seraya.

 

Satgas pemadaman api di Aceh. Foto: KLHK

 

Analisa juga mengungkap titik api di wilayah konservasi 10 titik, yakni Hutan Lindung Bukit Betabuh (1), dan tiga titik masing-masing di Hutan Lindung Sungai Rokan, Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Taman Nasional Tesso Nilo.

Greenpeace Indonesia merilis, dari analisa data dan metodelogi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terjadi kenaikan hampir 100% titik api dari Mei-Juli, dari 148 jadi 283 titik dengan tingkat kepercayaan lebih 80%.

Titik api itu tersebar di dalam dan luar konsesi. Bahkan sepertiga di wilayah moratorium yang seharusnya terlindungi.

KLHK telah mengakui, kebakaran di lahan gambut di Mandau, Bengkalis terjadi di wilayah moratorium.

“Ini bukti pelaksanaan moratorium masih lemah. Banyak harus dilakukan pemerintah untuk melindungi rakyat dari bencana dan melindungi hutan dan gambut. Termasuk pertanyaan bagaimana upaya penegakan hukum setelah temuan ini dan temuan-temuan sebelumnya,” kata Annisa Rahmawati, Jurukampanye Hutan Greenpeace dalam rilis.

Greenpeace sudah melihat upaya pemerintah melalui patroli, pemadaman dan modifikasi cuaca yang perlu diapresiasi. Meskipun upaya ini kurang optimal karena lebih berfokus penanggulangan daripada pencegahan.

Sementara titik panas (hotspot) berdasarkan pantauan per 28 Juli 2017 pukul 20.00, Satelit NOAA menunjukkan, ada tiga hotspot, tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Informasi dari KLHK, data Terra/Aqua (LAPAN) keyakinan level 80% menunjukkan 15 hotspot di seluruh Indonesia, data Terra/Aqua (LAPAN) level keyakinan 30-79% sebanyak 72 hotspot, dan data Terra/Aqua (LAPAN) confidence level ?29% sebanyak delapan hotspot.

Sehari sebelumnya,  per 27 Juli 2017,  terpantau empat hotspot pantauan satelit NOAA dan 47 hotspot menurut pantuan satelit Terra/Aqua.

Total titik api berdasarkan satelit NOAA per 1 Januari-28 Juli 2017, dilaporkan 976 titik, turun dibandingkan 2016 periode sama, 1.107 titik.

Total hotspot per 1 Januari-28 Juli 2017 Terra/Aqua tingkat keyakinan 80% sebanyak 157 titik. Periode sama 2016, hotspot 2.093 titik, terjadi penurunan 1.936 titik atau 92,49%.