Merauke Miliki Seratusan Sumur Air Panas, Bisakah jadi Sumber Air Bersih?

 

 

Herlina Fonataba, perempuan ini selalu mencuci dan mandi di sumur belerang di sekitar Jl. Yosafat Sudarso, dekat Pelabuhan Merauke, Papua.

Dia bilang, setiap hari perempuan dan anak-anak berendam di sumur air belerang, walaupun bau menyengat.

Sumur ini peninggalan Belanda. Berbentuk macam persegi panjang, lebar sekitar dua meteran. Kondisi sama dengan sumur lain di Merauke.

Di Kota Merauke, ada delapan titik termasuk sumur di tikungan ujung Jl. Yos Sudarso. Sumur tampak rusak, terlihat tua. Tepian bak sudah tak berbentuk lagi.

Fonataba mengatakan, dulu Belanda, telah mengebor untuk mencari minyak dimana-mana. Hasilnya, muncul air belerang ke permukaan tanah. Mereka lalu bangun tempat pemandian. Kini, bangunan kusam dan kotor.

Di belakang rumah sakit, ada bangunan dengan bagian depan tampak semacam ukiran beton berbunyi tulisan,” Pemerintah Daerah Provinsi Dati I Irian Jaya. Dinas Pariwisata Sumber Air Panas Dati II Merauke.”

Tempat ini, katanya, dulu sangat bagus, sampai pemerintah membangun tempat istirahat buat pengunjung yang datang.

Pada 2008, seng berdiri mengitari tempat ini. Sumur belerang akhirnya tak terawat. Air mengalir, dan berkarat. “Memang aset Papua, nyatanya tak terawat. Kalau di tempat lain, pasti dikunjungi manusia
lumayan banyak,”

Sumur seperti ini, katanya, tersebar di pelabuhan laut Merauke, Yosafat Sudarso. Ada delapan titik sekitar RSUD Merauke. Bahkan air sumur menggenangi kompleks seperti RSUD, Pelni, Pasar Ikan Awisay, belakang Kantor Transmigrasi, Gereja Protestan Pniel Lama, SDNegeri I Merauke.

Penduduk sekitar pun menutup hidung bila melewati jalur itu. “Bau menyengat.”

 

Herlina F, yang mencuci sehari-ahri di sumur belerang. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

 

***
Karly Imkotta, pengajar ilmu kimia SMAN III Merauke, masuk ke ruang guru menemui saya. Dia salah satu peneliti air di Merauke, khusus sumur belerang.

Baginya, ratusan titik sumur air ini tersebar di Merauke. Beberapa sumur buatan Belanda.

Merauke sendiri sulit mendapatkan air tawar dan bersih hingga sumur belerang untuk pemehunan keperluan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.

Satu-satunya sumber air tawar Merauke dari Rawa Biru. Sebuah danau tadah hujan zaman Belanda milik warga Kampung Rawa Biru dikelola PT. PDAM-Wedu, Merauke.

Imkotta memulai peneltian di dua kampung yaitu Wendu dan Wasur. Di beberapa distrik bisa ditemukan sumur belerang seperti Distrik Merauke, Jagebob, Kurik, Semangga,Tanah Miring dan daerah pedalaman seperti Taboji dan Distrik Malind.

Setelah dia menghitung, kira-kira 100-an titik sumur air panas terbangun oleh Pemerintah Belanda, sebagai sumber air bersih.

Sumur-sumur ini mengalirkan air belerang 24 jam. Penduduk sekitar sumur setiap hari, membawa pakaian untuk cuci dan mandi. Walaupun bau tajam tetapi air bersih dan agak panas. Bila musim hujan mereka kelebihan air. Kala musin panas, mereka banyak pasokan air belerang.

Melihat kesulitan penduduk Merauke kini, yang minim sumber air bersih, harus sewa mobil tangki air untuk konsumsi, Imkotta tergerak meneliti sumber lain. Bila air habis, mereka harus mencari jalan membeli air galon yang tak terkontaminasi air asin.

Imkotta, mencoba membantu warga mendapatkan air jernih dan tawar. Kebetulan dia melihat beberapa sumur belerang yang terpasang tetapi sekitar bak terlalu tinggi. Rata-rata tinggi satu hingga dua meteran.
Setiap mencuci warga biasa meletakkan cucian di tepian bak.

Dia membangun wadah dan mengalirkan air belerang ke wadah lebih rendah. Air bisa dikonsumsi warga dan tak berbau. Penduduk senang.

Diapun memasang tanda larangan mencelupkan tangan ke bak penjernihan air atau tak meletakkan bilasan pakaian sembarangan. Warga bisa tetap mandi dan mencuci di bak utama.

Air belerang ini, katanya, mengandung logam berat seperti besi, seng, aluminium, tembaga, belerang, dan nikel hingga tak baik bagi tubuh hingga bukan untuk konsumsi. Air belerang hanya bisa mandi dan mencuci. Penelitian dia sudah berlangsung 2007-2008.

“Kami sudah melaksanakan (penelitian). Mudah-mudahan beguna bagi semua orang di Merauke,” katanya.

 

Sampah berserakan di dekat sumur belerang. Sumur seakan tak terurus. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

 

Pemda bisa kelola
Keliopas Ndiken, Kelapa Kantor Pemberdayaan Kampung Kabupaten Merauke bilang, hasil penelitian ini bisa bermanfaat bagi Merauke. Pemda, katanya, bisa mengelola sumur air belerang ini.

Saat musim kering, katanya, warga transmigrasi sangat sulit mendapatkan air bersih. “Kalau kota masih bisa masyarakat beli air jernih dari mobil tangki atau jerigen.”

Dia akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Merauke. Elias Mite, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup mengatakan, belum memiliki alat uji coba air belerang untuk mengetahui layak atau tidak dikonsumsi warga. “Kami belum memiliki alat uji coba,” katanya.

Dinas ini mau menguji di laboratorium paling canggih di luar Papua, tetapi khawatir bermasalah. Dia khawatir, kala perjalanan panjang air bisa berubah warna dan bau hilang.

Sementara Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal menaruh perhatian pada penelitian ini. Ndiken bilang, kementerian ini adakan lomba inovasi daerah. “Kita sudah lakukan di beberapa distrik terjauh tahun ini,” katanya.

Mulai Distrik Malind, di lima kampung yakni Domanade, Kaiburze. Onggari, Kuprik dan Kampung Padang Rajarja.

Kampung, katanya, bisa berinovasi dengan sumber daya yang mereka miliki. Untuk teknis, nanti ada tim khusus meneliti dan mencari sumber air itu. “Jadi ini penjernihan air bersih skala kecil atau rumah tangga di beberapa kampung.”

Gerardus Anggojai, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke menjelaskan, dari sisi kesehatan, air laik minum memiliki tiga syarat yaitu tak berbau, tak berasa dan tak berwarna.

Sebenarnya, air belerang, tak layak konsumsi, apalagi berbau tajam. Namun, dengan kecanggihan teknologi, bisa meminimalisir kandungan belerang hingga layak konsumsi.

Dinas Kesehatan mulai mengubah air belerang jadi air tawar layak minum. “Jadi tak masalah asal melalui unit pelayanan terpadu satu pintu. Masalah air, kita harus berkoodinasi dengan berbaga pihak untuk mengeluarkan sertifikat layak atau tidak.”

 

Karly Imkotta, peneliti air belerang di Merauke. Foto: Agapitus Batbual/ Mongabay Indonesia

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Artikel yang diterbitkan oleh
, ,