Saputangan Ini Membantu Upaya Konservasi Lingkungan

Saputangan berwarna-warni mencolok dipajang di sebuah acara di Ubud, Bali. Hijau, merah, biru cerah dengan peta wisata seperti tempat-tempat wisata dan fasilitasnya di Ubud, Canggu, Batubolong, dan lainnya.

Peta wisata juga tercetak di tas kain yang dijual pada pengunjung yang mendatangi stannya. Paling banyak desain saputangan. Inilah alat yang digunakan untuk mengampanyekan projek sosial ini. Dari saputangan untuk mendukung sejumlah lembaga dan gerakan penyelamatan lingkungan di Indonesia.

Baru setahun dibuat TRI Handkerchief, nama gerakan ini sudah menyalurkan puluhan juta rupiah ke sejumlah lembaga lingkungan. Saputangan dibuat dari kain linen hotel atau villa, biasanya sprai. Diwarnai ulang dan dicetak desain peta-peta itu. Ada sejumlah sponsor seperti restoran dan hotel pendukung ditunjukkan dalam titik-titik peta itu.

 

Anissa mengenalkan kampanye TRI melalui penggunaan sapu tangan dan tas kain pada pengunjung di sebuah acara di Ubud, Bali. Kampanye bertujuan untuk gerakan penyelamatan lingkungan. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Saputangan juga sebagai simbol kampanye pengurangan penggunaan kertas dalam keseharian. Tak hanya pengganti tisu, tapi tim kreatif TRI membuat sejumlah informasi edukasi menarik apa yang bisa dihemat dari selembar saputangan. Misalnya wadah botol air, makanan, penutup kepala, masker, membungkus sendok dan garpu di meja makan, dan lainnya.

Annisa Fauziah, Manajer Pengembangan Bisnis TRI menjelaskan dengan ramah ke pengunjung stan. Ia menyebut lembaga yang disokong adalah yang skala kecil atau rintisan namun bekerja di akar rumput. Misalnya Ransel Buku, gerakan literasi di pedalaman Kalimantan. “Mereka edukasi lingkungan, dengan perahu bawa guru ke desa-desa,” ia menjelaskan.

Anissa adalah salah satu tim ini yang pernah melakukan internship di sekolah internasional Green School. Ia tertarik terlibat karena menarik ide dan misinya. “Fokus hutan karena paling kritis, 70% hilang dalam 12 tahun, dalam satu menit 2 lapangan,” ia fasih menjelaskan.

Para penyokong TRI mendonasikan linen bekas sprai atau ikut membeli produk jadi saputangan. Sebagai apresiasi, nama usaha para donatur dimasukkan dalam peta-peta di desain saputangan.

Kisah saputangan TRI ini lahir dari seorang laki-laki muda bernama Ben Fijal bersama orangtuanya Tim Fijal asal Kanada dan Insook Park asal Korea. Terinspirasi dari ayah Ben yang mengoleksi saputangan berisi peta hiking trails taman nasional yang dikunjunginya di Korea. Saputangan ini menggantikan peran tisu dan dibawa lebih dari 20 tahun. “Ibu meminta saya untuk memulai usaha sejenis menggunakan saputangan di Bali,” tulis Ben dalam webnya. Seperti dipaparkan melalui webnya trihandkerchiefs.com.

Misalnya membuat map wisata di saputangan untuk dijual membiayai kuliahnya suatu hari nanti.Ide ini makin dekat ketika keluarga Ben ke Nepal untuk trekking dan menemukan saputangan sejenis dengan peta gunung Himalaya.

Kebetulan Ben sedang mencari gagasan untuk proyek sosial di sekolahnya, Green School. Pada Mei 2016, ia bersama temannya ke Kalimantan untuk melihat langsung tantangan seperti bencana kebakaran di lahan gambut, hilangnya rumah Orang Utan, dan lainnya.

 

Sebuah peta di selembar saputangan menjadi ciri khas TRI, sebagai upaya mobilisasi dukungan untuk kampanye penyelamatan lingkungan di sejumlah tempat di Indonesia. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Akhirnya TRI Handkerchief lahir. Saputangan ini menurutnya tentang dua hal. Pertama, mereka berharap pengurangan penggunaan produk kertas dan mulai sadar dampak penggunaan kertas di Indonesia. Kedua, mengumpulkan dana untuk mendukung organisasi akar rumput di Kalimantan yang relevan. Misalnya mengampanyekan eko-literasi, lembaga yang bekerja mencegah kebakaran hutan, dan konservasi lahan gambut di hutan Indonesia.

Setelah setahun TRI diwujudkan, ia tak menyangka banyak orang yang tertarik dan ikut mendukung ide ini. “Banyak kesalahan dalam proses ini tapi kami juga belajar banyak,” urainya dalam blog.

Terutama kesadaran yang makin tumbuh dalam dirinya seiring apa yang dikerjakan oleh TRI. Misalnya ia ingin berusaha tidak membeli produk mengandung minyak sawit setelah berkunjung ke Kalimantan melihat keterdesakan Orang Utan dan hutannya. Juga berpikir menggunakan tisu di restoran tanpa memikirkan apa pun. Saputangan mungkin hal kecil tapi menurutnya bisa membuat perubahan berharga. Setidaknya perilaku untuk mengurangi tekanan pada lingkungan.

Nama TRI dengan berbagai pertimbangan. Selain jika dibaca mirip pengucapan “tree” bahasa Inggris pohon juga mirip dengan konsep keseimbangan alam di Bali, Tri Hita Karana. Yakni menjaga hubungan harmonis dengan alam, sesama manusia, dan pencipta.

Sejak 1 Juli lalu, keluarga Ben Fijal memulai petualangan selama 6 bulan ke sejumlah negara setelah libur kelas 9 di Green School. Misinya mengenal lebih banyak komunitas dan inisiatif pelestarian lingkungan serta mengenalkan dan menjalin jejaring terkait kampanye TRI. Saat ini keluarga TRI berperan sebagai endorser untuk TRI.

Irma Sitompoel, koordinator komunikasi TRI menyebut jumlah dana yang sudah didonasikan sampai saat ini sekitar Rp80 juta dan disalurkan bagi 5 LSM lokal di Bali, Sumatra, dan Kalimantan. Dukungan tersebut dalam bentuk pelatihan 25 pemadam kebakaran hutan juga bantuan cetak dan distribusi media yang dibuat Ranu Welum (​ranuwelum.org) adalah komunitas anak muda suku Dayak yang berusaha menjaga lingkungannya melalui media. Bantuan dam untuk Borneo Nature Foundation (borneonaturefoundation.org) melakukan upaya konservasi di lahan gambut Taman Nasional Sebangau di Kalimantan.

Berikutnya memperbaiki floating library boat untuk Ransel Buku (ranselbuku.org) yang melakukan edukasi lingkungan untuk anak-anak di pesisir sungai pelosok Kalimantan Tengah. Dengan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (haka.or.id) terlibat dalam membersihkan satu hektar kebun sawit illegal untuk restorasi hutan di ekosistem Leuser Aceh, rumah bagi sejumlah satwa liar langka. Sementara di Bali, donasi diberikan untuk mendukung Nature Conservation Forum Putri Menjangan, komunitas berbasis masyarakat yang melakukan pelestarian mangrove di Bali Barat.

 

Maskot TRI mengenakan saputangan sebagai penutup kepala untuk menarik perhatian publik. Kampanye TRI untuk penyelamatan lingkungan dengan menjual sapu tangan dan tas kain berisi informasi tempat wisata di Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Ia menjelaskan isu hutan paling banyak dikampanyekan. “Berangkat dari pernyataan ‘we speak to those who can’t speak for themselves’. Kami mengkampanyekan isu deforestasi karena isu ini sangat kurang direpresentasikan di masyarakat, padahal hutan memegang peranan yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia,” ujarnya.

Menurutnya isu mengenai deforestasi masih asing dimata publik, terutama generasi muda yang hidup di kota besar, yang jauh dari hutan. Karena itu TRI ingin menggalang kesadaran mengenai isu-isu yang terjadi di hutan kita dan juga mengajak masyarakat untuk peduli terhadap hutan dan berperan aktif untuk menjaga kelestariannya.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan seperti menjadi konsumen bijak. “Mulai peduli dengan apa yang kita konsumsi, apakah barang yang kita beli ikut menyebabkan deforestasi atau tidak?” tutup Irma.