Transformasi Pinisi, dari Kapal Dagang Legendaris Menjadi Kapal Wisata Unggulan

Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang, ombak berdebur di tepi pantai

Pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai

 

Penggalan lirik lagu berjudul ‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut’ tersebut terasa pas menggambarkan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu sebagai bangsa pelaut. Bukti otentik sejarah bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut, termaktub dalam berbagai literatur yang tersebar di Belanda maupun Indonesia.

Di Indonesia, suku bangsa yang dikenal sudah mengarungi samudera dan berkeliling Nusantara, salah satunya adalah suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Dua suku tersebut, dikenal akan keberaniannya mengawal perahu dari tanah leluhurnya di Sulsel ke berbagai pulau di Tanah Air, hingga ke mancanegara.

 

Kapal pinisi, kapal nusantara dari Sulawesi. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Armada yang digunakan untuk menjelajah ke berbagai pulau itu, salah satunya adalah kapal pinisi yang diklaim asli berasal dari Sulsel. Pinisi, sejak lama sudah menjadi armada andalan suku di Sulsel untuk mengarungi Nusantara dan mancanegara.

Sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar Abd Rahman Hamid menjelaskan, selain suku Bugis dan Makassar, sebenarnya masih ada suku lain yang juga menggunakan kapal sejenis pinisi untuk mengarungi lautan luas.

“Suku tersebut adalah Bajo, Mandar, dan Buton. Bersama Bugis dan Makassar, suku-suku tersebut dikenal sebagai suku bahari, karena lebih banyak menghabiskan waktunya di atas lautan,” ungkap dia di Makassar, Selasa (8/8/2017).

Sebelum menggunakan Pinisi, Rahman mengatakan, suku-suku tersebut diketahui biasa menggunakan kapal dagang padewakang untuk bepergian dari satu pulau ke pulau lain. Perahu tersebut, menjadi cikal bakal dari kapal pinisi yang di kemudian hari menjadi sangat dikenal karena kemampuannya bertahan di tengah laut.

Kapal padewakang sendiri, menurut Rahman, di abad ke-18 dikenal sebagai kapal dagang yang sudah dilengkapi teknologi canggih di masanya. Karenanya, kapal tersebut bagi Indonesia sekarang, diklaim sebagai kapal tertua yang sudah menggunakan teknologi canggih.

“Dan, (kapal) padewakang pada abad ke-19 sudah menggunakan peralatan dan teknologi yang lebih modern. Tentu saja, itu disesuaikan dengan masanya saat itu,” ucap dia.

 

Basri Madung, salah satu pembuat perahu di Tanahberu, Bulukumba, Sulsel, adalah generasi terakhir pembuat perahu Pinisi. Anak-anak mereka tak ada lagi yang mau mewarisi pengetahuan dan pekerjaan mereka. Foto: Wahyu Chandra/Mongabay Indonesia

 

Sebelum menggunakan kapal pinisi, Rahman menjelaskan, suku bugis dan makassar biasa menggunakan kapal padewakang sebagai kapal untuk mencari teripang ke perairan yang jauh. Dengan kapal tersebut, di masa lalu, para pelaut Bugis dan Makassar sanggup menjelajah jauh hingga ke perairan di Australia Utara.

Dari berbagai literatur yang ada, kata padewakang sendiri, bisa diartikan sebagai perahu kecil atau perahu bercadik. Ada yang berpendapat, kapal tersebut tidak lain adalah perahu berukuran kecil yang berlayar menggunakan layar persegi dan melintang.

Sementara, pendapat lain, mengemukakan bahwa padewakang tidak lain adalah perahu berukuran besar yang digunakan pada abad 19 dengan fondasi dua hingga tiga tiang layar, berlayar persegi, dan berhaluan tinggi.

 

Asal Muasal Pinisi

Pemerhati budaya maritim Indonesia Horst Liebner pada kesempatan sama mengungkapkan, keberadaan kapal pinisi yang di masa lalu sangat berjaya, ternyata tidak tercatat secara resmi di awal kemunculannya. Kata dia, tidak ada literatur di masa abad 18-19 yang mengungkap tentang kapal pinisi Indonesia.

Horst menuturkan, bukti tidak adanya data akurat di masa lalu, bisa dilihat dari naskah kuno suku Bugis: I La Galigo. Di dalam naskah setebal 6.000 halaman dengan 300 ribu baris teks itu, tak satupun teks menyebut kata pinisi sebagai padanan kata untuk kapal dagang di masa tersebut.

“Begitu juga di dalam catatan administrasi kesyahbandaran Hindia Belanda pada abad ke-19, tidak ada catatan tentang itu. Yang ada, saat itu tercatat sejumlah kapal ‘phenis’ yang ditemukan di berbagai daerah saat itu,” ucap dia.

Fakta tersebut, bagi Horst sungguh membingungkan. Mengingat, di abad ke-15 hingga 16, sudah ada catatan yang menyebut orang sulawesi sukses berlayar hingga ke Melaka di Malaysia. Namun, kepergian mereka saat itu tidak ada catatan menggunakan kapal jenis pinisi atau bukan.

Karena itu, bagis sejarawan Abd Rahman Hamid, sejarah panjang kapal pinisi, hingga kapanpun akan tetap menjadi misteri yang sulit dipecahkan. Meskipun, pinisi di masa sekarang dikenal sebagai kapal asli Indonesia yang pembuatannya banyak dilakukan di Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulsel dan Madura, Provinsi Jawa Timur.

 

Kapal pinisi, kapal nusantara dari Sulawesi. Foto : M Ambari/Mongabay Indonesia

 

Rahman menjelaskan, kapal pinisi sejak muncul sudah menggunakan dua tiang dan tujuh layar. Itu bermakna, bahwa kapal tersebut berlandaskan pada dua syahadat (dalam agama Islam) dan tujuh ayat surat Al-Fatihah dalam kitab suci Al-Quran.

Adapun, dua tiang layar utama dan tujuh buah layar itu, kata Rahman, letaknya tiga ada di ujung depan kapal, dua di depan, dan dua lagi di belakang kapal. Sementara, layar yang digunakan adalah jenis sekunar.

Selain mengambil filosofi dari Al-Quran, penggunaan dua tiang dengan tujuh layar, menurut Rahman, juga mengartikan bahwa suku Bugis di masa lalu mampu mengarungi samudera luas yang jumlahnya ada tujuh di dunia.

 

Pinisi untuk Wisata

Sebagai kapal tradisional yang sudah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, keberadaannya akan terus dipelihara sampai kapan pun. Bentuk pemeliharaannya, adalah dengan tetap memfungsikan kapal tersebut di atas perairan Nusantara masa sekarang dan akan datang.

Hal itu dikemukakan Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Indroyono Soesilo. Menurut dia, kapal pinisi selama ini hanya dikenal sebagai kapal dagang saja. Padahal, dengan kekuatannya, kapal legendaris tersebut bisa digunakan untuk pariwisata.

“Kalau kita percaya pada pinisi, kapal itu selain bisa berlayar di lautan lepas, juga bisa digunakan sebagai kapal wisata untuk wisata minat khusus seperti menyelam, memancing. Karenanya, kapal tersebut bisa juga menjadi tempat makan dan tidur,” jelas dia.

Dengan desain khas yang melambangkan budaya Nusantara, terutama Bugis dan Makassar, Indroyono yakin, akan banyak wisatawan dunia tertarik untuk berlayar bersamanya. Dan itu, kata dia, pada akhirya akan mampu menarik banyak wisatawan dunia dan menggenjot target wisatawan dunia pada 2019 sebanyak 4 juta orang.

Untuk mendorong percepatan penggunaan pinisi sebagai kapal wisata umum, mantan Menteri Koordinator Kemaritiman itu mengatakan, pada September mendatang akan dimulai pembangunan pelabuhan khusus untuk kapal pesiar di Pelabuhan Benoa, Bali. Diharapkan, pada 2018 mendatang pelabuhan tersebut sudah bisa beroperasi.

“Jadi, kalau sudah ada marina khusus, kapal pinisi untuk wisata bisa berlabuh di sana,” ungkap dia.

 

Kampung Tanaberu, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dikenal sebagai salah satu pusat pembuatan perahu tradisional Pinisi. Beragam jenis perahu diproduksi di kawasan ini, yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam dan diwariskan secara turun temurun. Foto: Wahyu Chandra

 

Agar kapal pinisi bisa menjadi kapal wisata, Indroyono menyebutkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh Pemerintah Indonesia maupun pihak terkait lainnya. Syarat tersebut adalah:

  1. Pinisi adalah kapal penumpang khusus wisata, berdasarkan Non convention vessel standar (NCVS). Namun, harus ada standardisasi berkaitan dengan asuransi, dan lain-lain.
  2. Perlu kejelasan tentang pengklasifikasian kapal penumpang khusus wisata pinisi ini.
  3. Pengawakannya harus memiliki: certificate of competency (COC), dan juga certification of proficiency (COF) dari STCW amandement manila 2010.
  4. Definisi live on board masih belum dituangkan dalam peraturan yang ada (yang mencakup wisata cruisediveeatsleep).
  5. Perlu lebih banyak paket wisata dengan pinisi.
  6. Promosikan via website dan hotline, pinisi pasar bagus untuk pariwisata.
  7. Diperlukan pedoman tentang ketenagakerjaan yang bekerja di atas kapal.

Pernyatan dari Indroyono di atas mendapat dukungan dari Ketua Asosiasi Jaringan Kapal Rekreasi Indonesia (Jangkar) Suryani Mile. Menurut dia, sebelum Pemerintah Indonesia mengembangkan kapal pinisi sebagai kapal wisata, pihak swasta sudah sejak lama melakukannya di kawasan wisata bahari yang ada di Indonesia Timur, seperti Nusa Tengara dan Papua Barat.

“Model pinisi disukai dalam wisata live on board, karena diyakini sebagai budaya asli Indonesia. Sekarang ini sudah banyak kapal untuk wisata tersebut menggunakan pinisi. Dari 35 anggota kami, 31 sudah menggunakan pinisi dengan bobot 200 hingga 500 GT (gros ton),” jelas dia.

Dengan adanya keseriusan dari Pemerintah, Suryani meyakini, kapal wisata pinisi akan semakin banyak lagi, dan tak terbatas di wilayah Indonesia Timur saja. Hal itu, karena biaya pembuatan kapal tersebut tidak berbeda jauh dengan kapal biasa yang menggunakan material non kayu.