Tingkatkan Pengelolaan Kawasan, Rimbang Baling Uji Coba Sistem Canggih

Tim riset harimau di Rimbang Baling. Foto: WWF Central Sumatera

 

Lanskap Rimbang Baling sedang jadi perhatian, terlebih setelah belum lama ini tertangkap kamera perkawinan sepasang harimau Sumatera. Ini kabar gembira di tengah populasi harimau terus melosot. Untuk meningkatkan pengelolaan kawasan ini, digunakan perangkat baru, bernama Conservation Assured Tiger Standard (CATS).

Uji coba perangkat canggih ini diawali di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling oleh BBKSDA Riau dan stakeholders melalui serangkaian seminar dan workshop pada Juni 2017. Acara dihadiri perwakilan perusahaan yang bersinggungan dengan Rimbang Baling, Forum HarimauKita , Konsorsium Imbau terdiri dari WWF, Yapeka dan Indecon, serta Forum Masyarakat Subayang.

Perangkat ini telah diterapkan di beberapa negara pemilik harimau, di Indonesia, masih uji coba. “CATS untuk membantu mengidentifikasi potensi, ancaman dan respon yang telah, sedang maupun perlu dilakukan,”kata Sunarto, National Tiger Species Cordinator WWF Indonesia, di Riau, baru-baru ini.

Baca juga: Setelah 12 Tahun Berhasil Dipotret Harimau Bermesraan di Lanskap Rimbang Baling

Populasi harimau, katanya, menurun tajam dan mencapai titik kritis. Keberadaan harimau dalam satu abad terakhir di dunia berkurang dari 100.000 tinggal hanya 3.200 di alam.

Pada 2010,  telah diselenggarakan pertemuan puncak pemimpin dunia di Rusia. Saat itu, negara-negara pemilik harimau menyepakati untuk menyelamatkan harimau melalui peningkatkan populasi dua kali lipat dari kondisi 2010.

Di Rimbang Baling sendiri, kata Sunarto, diperkirakan ada 20 harimau dewasa harimau. Jumlah ini dapat ditingkatkan, bila perburuan dan gangguan bisa ditekan.

Untuk mencapai target itu, banyak hal perlu dilakukan, antara lain mengendalikan perburuan, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.

Dengan perangkat CATS, bisa tahu kawasan penting bagi harimau itu sudah mencapai standar minimum pengelolaan atau belum. Caranya, melalui proses penilaian dan peninjauan terpercaya dan independen.

CATS juga memiliki manfaat bagi masing-masing pihak, seperti untuk sistem kawasan lindung nasional membantu penetapan garis dasar, memfasilitasi pengelolaan adaptif dan perbaikan terus menerus suatu pelaksanaan.

Bagi manajer atau bagian kawasan lindung nasional, bisa jadi alat pendemonstrasian kepentingan dan peran kawasan dalam usaha global melipat gandakan harimau.

Untuk manajer kawasan konservasi harimau, sangat membantu dalam mobilisasi dukungan dalam penyediaan sumber daya dan kapasitas penting.

Bagi penjaga hutan (ranger) kawasan lindung, mampu memberikan mereka indikasi jelas dan standar profesional tinggi, meningkatkan prospek karir dan moral.

Buat pemerintahan negara daerah jelajah harimau, menunjukkan komitmen konservasi harimau global dan menyediakan informasi.

Sebelumnya, pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia mengadopsi Management Effectiveness Tracking Tool (METT). Ia  sebagai perangkat melacak dan mengukur tingkat efektivitas pengelolaan.

BBKSDA Riau sebagai UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menilai rutin pengelolaan kawasan konservasi di Riau pakai METT.

Perangkat ini telah direkomendasi Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) dalam meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi.  Penilaian METT melalui kuesioner yang diisi pengelola kawasan.

“CATS merupakan pengembangan METT dan perangkat lain. Ini untuk mendukung pemulihan harimau secara akuntabel mengedepankan peran multipihak,” kata Khalid Pasha, management CATS.

Rimbang Baling, selain penting bagi masyarakat sebagai daerah tangkapan air dan fungsi ekosistem lain, juga habitat harimau Sumatera.

Sunarto mengatakan, meskipun penting untuk harimau dan memiliki banyak nilai strategis lain, pengelolaan kawasan Rimbang Baling selama ini masih sangat minim.

Dengan CATS, dia yakin dapat jadi perangkat untuk meningkatkan pengelolaan Rimbang Baling. “Tentu mendukung populasi harimau mengedepankan peran masyarakat sekitar dan pihak-pihak terkait agar target tercapai.”

Di lanskap mencakup Riau dan Sumatera Barat ini kaya keragaman hayati. Bagi beberapa universitas, Suaka Margasatwa Rimbang Baling dianggap laboratorium alam yang menyediakan banyak hal untuk diteliti.

Karena terletak di tengah Sumatera, kawasan ini jadi kunci keberlanjutan ekosistem Riau dan Sumatera.

“Rimbang adalah menara air yang akan menyelamatkan kehidupan ekosistem,  masyarakat Riau dan sekitar jika terus terjaga”, kata Ujang Holisudin, Kasi Perencanaan BBKSDA Riau.