Upaya Selundupkan Cenderawasih lewat Pesawat Udara Terbongkar di Kualanamu

 

Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan, Seksi Karantina Hewan, Kamis (10/8/17), berhasil menggagalkan penyelundupan satwa dilindungi dan terancam punah berupa burung cenderawasih, yang dikirim dari Surabaya menuju Sumatera Utara, lewat jalur udara.

Ada empat cenderawasih, dua jantan dan dua betina ini, diamankan di area Bandara Kualanamu International Airport (KNIA), Deli Serdang.

Hafni Zahra, Kepala Balai karantina Pertanian Kelas II Medan, Jumat sore (11/8/17) kepada Mongabay mengatakan, petugas Karantina mencurigai barang bawaan maskapai penerbangan Lion Air JT 979 tujuan Surabaya–Medan berisi satu kotak tak dilengkapi dokumen dipersyaratkan karantina.

Saat kotak diteliti, petugas menemukan empat cenderawasih, diselipkan diantara puluhan ayam. Kondisi satwa begitu menghawatirkan diletakkan dalam kotak ukuran tak sesuai dan tak layak untuk transportasi satwa hidup.

“Jadi empat cenderawasih kita amankan di lini I terminal kargo. Pengirim di Surabaya bernama Ar dan penerima di Bandara Kualanamu bernama Aw dan hanya ditulis alamat Medan,“ katanya.

Guna mengetahui siapa penerima empat cenderawasih ini, dia membawa barang bukti ke Kantor Karantina Pertanian Kelas II Medan. Hingga Jumat malam, si pemilik tak datang mengambil barang.

Akhirnya, disaksikan maskapai penerbangan dan petugas AVSEC, Karantina membongkar kotak berisi cenderawasih.

Dokter hewan Wagimin, Kepala Seksi Karantina Hewan, Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan, mengatakan, untuk memastikan kondisi keempat cenderawasih, langsung memeriksa medis dan uji laboratorium.

“Ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah cenderawasih sehat, atau ada penyakit ataupun virus serta bakteri yang diderita.”

Setelah pemeriksaan, kondisi satwa cukup sehat dan lincah meskipun ada dugaan satwa-satwa ini sudah lama dipelihara. Pengambilan sampel lebih lanjut, katanya, dari kotoran, untuk pemeriksaan kondisi kesehatan lebih mendalam.

“Awalnya kita khawatir terjangkit virus flu burung, setelah pemeriksaan laboratorium ternyata tak ada yang menghawatirkan,” katanya.

Saat baru evakuasi dari kandang, cenderawasih sempat stress. “Sekarang sudah lincah kembali.”

 

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan menitipkan empat cenderawasih ke BKSDA Sumut. Foto? Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

 

Irzal Azhar, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), mengatakan, setelah menerima penitipan empat cenderawasih mereka menempatkan di penitipan satwa Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, Deli Serdang.

Disana, satwa akan menjalani karantina dan rehabilitasi serta pemeriksaan kondisi kesehatan.

Berdasarkan Peraturan Oemerintah Nomor 7/1999 soal pengawetan tumbuhan dan satwa, serta peraturan pemerintah Nomor 8/1999 mengenai pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa, pada Pasal 34, disebutkan cenderawasih merupakan salah satu satwa liar hanya dapat dipertukarkan atas persetujuan presiden.

Selain itu, katanya, mereka akan berkoordinasi dengan BKSDA Papua, untuk proses pemulangan satwa ini.

Sementara waktu, di TWA Sibolangit, mereka akan berupaya mengembalikan sifat liar agar siap rilis ke alam.

Dia bilang, ada dugaan satwa ini akan diselundupkan ke luar negeri melalui jalur laut Sumut yang memiliki jalan tikus dan sangat sulit terdeteksi. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Malaysia, Thailand dan Singapura.

Satwa-satwa ini memiliki nilai tinggi hingga pedagang satwa berupaya keras menyelundupkan ke luar negeri, seperti ke Manila, Malaysia, Myanmar, hingga Australia.

 

 

 

 

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , ,