Potret Kehidupan Orang Bajo di Negeri Seribu Pulau

Anak-anak Suku Bajo Sangkuang, bermain di perahu. Foto: Faris Bobero/ Mongabay Indonesia

 

Bagan ikan bergoyang pelan. Pemilik bagan, Romi, menatap cemas ke kaki langit. Di batas cakrawala, awan hitam pekat datang. Hembusan angin laut dingin datang tiba-tiba, disertai gelombang kian membesar.

Sejak keluar dari Bajo Sangkuang, desa nelayan milik Suku Laut Bajo di Maluku Utara ini, cuaca sudah tak bersahabat. Selasa (8 /8/17), sore, ketika melaut, tak terlihat bagan nelayan lain.

“Minggu ini bulan terang, tak ada bagan keluar mencari umpan. Hanya kita,” kata Romi, pelan sambil menatap awan.

“Ah, biar sudah. Ini kali terakhir bagan ini melaut,”  kata juragan (pemilik perahu-red) bagan itu seraya menatap sisi kanan kiri rangka bagan yang mulai melapuk.

Bagan terus melaju, didorong perahu kayu berukuran panjang 6×1 meter bermesin engkol  berbahan bakar solar dikemudikan salah satu ABK, Kifli. Kifli sudah berpengalaman di laut.

Perjalanan ke lokasi penangkapan ikan teri sekitar 40 menit. Endri, ABK mulai memasang enam lampu berkapasitas 36 watt di depan badan. Empat berjejer di samping badan bagan. Lampu itu untuk memancing teri yang berkerumun di bawah bagan sebelum terjaring pukul 05.00.

Senja sudah turun dari tadi. Endri mulai menghidupkan generator berkapasitas 650 watt, berbahan bakar bensin untuk aliran lampu listrik. Bola lampu menerangi bagan, dan sinar menembus gelap malam. Endri tamatan SMA, bercita-cita kuliah di fakultas hukum. Berhubung penghasilan laut belum menjanjikan, dia terpaksa mengais rezeki di bagan. “Saya ingin lanjut kuliah hukum,” katanya.

Beberapa menit angin laut berhembus kencang. Hujan lebat turun disertai gelombang besar. Di dalam bagan, juragan Romi, dan para ABK yakni Endri, Kifli, dan Hendri berteduh di kamar berukuran 2 x 4 meter, tinggi atap sekitar 1,8 meter. Arul, di belakang kamar mulai menyalakan kompor memanaskan air dan menyediakan kopi panas.

Sekira pukul 23.00, hujan berhenti. Endri, Kifli, dan Hendri, meyiapkan alat pancing. Mereka memancing malalugis (Decapterus kurroides).

Malam itu, belasan sampan milik nelayan Suku Galela-Tobelo dari Desa Belang-Belang dan Indomut, Bacan, mulai mendekati bagan.

Mereka memancing malalugis. Selain nelayan, salah satu pengepul malalugis pakai longboat 6×1 meter muncul menunggu tangkapan nelayan.

Pukul 02.00, dini hari, nelayan malalugis Tobelo-Galela mulai mendayung sampan pulang setelah menjual hasil tangkapan di longboat pengumpul, sambil bawa sedikit ikan untuk lauk di rumah. “Malalugis mahal di pasar. Kita jual 10 Rp15.000. Lumayan buat kebutuhan di rumah,” ucap Arul.

Hari menunjukkan pukul 5.00 pagi. Teri mulai berkerumun. ABK bagan bersiap menjulurkan jaring segi empat yang diberi pemberat batu. Jaring berukuran lebar bagan itu masuk ke laut kedalaman sekitar delapan meter.

Kifli mengarahkan lampu ke kerumunan teri di tengah bagan. Satu persatu lampu dia matikan hingga tesisa satu menyala di samping rangka. ABK lain bersiap di samping kiri kanan bagan untuk mengangkat jaring. Sekitar 30 menit jaring terangkat. Hasil tangkapan tak banyak.

Beberapa saat pengepul pakai longboat mendekat. Mereka membawa dua kotak ikan. Satu kotak berkapasitas 75 liter.

Romi dan ABK bagan hanya mampu menjual hasil satu kotak ikan penuh, Rp250.000.

Setelah menjual hasil, Romi dan ABK menuju ke Teluk Pulau Desa Bajo Sangkuang, tempat bagan parkir. Setibanya di teluk dangkal, ABK terjun ke laut, memasang palang berukuran tiga hasta untuk menyangga bagan ikan. “Bagan mulai lapuk, butuh biaya tak sedikit untuk perbaiki,” kata Romi.

Hujan turun lebat iringi  bagan naik ke i tiang penyangga. Para ABK naik ke kapal, bergerak pelan mengemasi barang sebelum bergegas pulang. Sekira pukul 07.50, hujan mulai gerimis, Romi dan ABK pulang pakai longboat.  Mereka membawa sedikit teri dan malalugis sisa tangkapan untuk lauk. “Sudah saya bilang jangan keluar (melaut).”

Orang-Orang laut ini tak menunjukkan rasa kecewa. Bagi mereka, apa yang diberikan laut harus disyukuri, meski masih harus berpikir melunasi utang Rp250.000 untuk membayar harga solar yang diambil di kios.

 

Para perempuan Bajo saat membuat kerupuk kamplang yang terbuat dari bahan utama, sagu dan ikan. Foto: Faris Bobero/ Mongabay Indonesia

 

***

Luas Kecamatan Batang Lomang, Halmahera Selatan, Malut, 55,8 kilometer persegi terdiri dari delapan desa yakni Bajo Sangkuang, Kampung Baru, Batutaga, Prapakanda, Tanjung Obit, Pasimbaos, Sawanakar, dan Desa Toin.

Sekitar 20% nelayan dari Desa Bajo dengan penduduk 2.350 jiwa, atau 548 keluarga. Ini jumlah penduduk terbanyak di kecamatan itu dengan hampir keseluruhan sebagai nelayan.

Desa Bajo Sangkoang dengan mayoritas Suku Bajo itu berada di tengah dan bagian utara desa tempat bermukim mayoritas Suku Makean Dalam, dan selatan mayoritas Suku Makean Luar. Meskipun satu suku, antarMakean Luar dan Makean Dalam memiliki bahasa berbeda.

Pada 1990-an, nelayan di Pulau Bajo berjaya di laut. Saat itu, sekitar 40 bagan ikan dan motor cakalang berkapasitas 40 gross ton (GT). Nelayan Bajo masa itu, sekali melaut pendapatan bisa Rp2 juta per orang.

Mohdar Daeng Pagala (66) mengisahkan, sebelum konflik horizontal di Maluku Utara, dia sempat memiliki tiga kapal cakalang dan satu bagan ikan. Masing-masing kapal berkapasitas 40 GT. Dengan hasil melaut, dia dapat menyekolahkan delapan anak sampai ke perguruan tinggi.

Dua anak bergelar master dan tinggal di Jakarta. Ada pula bekerja di Bandara Sutan Babullah Ternate, dan satu lagi di perbankan. “Anak perempuan saya bidan, kembali mengabdi di desa,” katanya.

Dia menuturkan, pada 90-an,  nelayan Bajo bisa berjaya karena tak kesulitan bahan bakar, biaya operasional melaut, bahkan akses untuk jual hasil tangkapan. “Saat itu, masih ada usaha mina. Perusahaan ini menyediakan es untuk ikan, bahan bakar, bahkan operasional untuk kami melaut,” katanya.

Pasca konflik sosial, sekitar 2004, usaha mereka kian redup. Bahan bakar minyak makin mahal. Operasional untuk konsumsi di laut dicari nelayan sendiri.

“Kini tak ada lagi perusahaan yang melihat nelayan Bajo. Kita cari biaya operasional sendiri,”kata mantan Kepala Desa Bajo ini. Mohdar pun terpaksa menjual tiga kapal cakalang bahkan bagan ikannya.

 

Nelayan Bajo Sangkuang saat menarik ikan. Foto: Faris Bobero/ Mongabay Indonesia

 

 

Bekerja di kapal asing

Kemampuan orang laut di Negeri Seribu Pulau ini membawa mereka hingga bekerja di kapal asing yang juga beroperasi di perairan Indonesia. Tak sedikit memilih berhenti setelah merasakan bagaimana kapal asing mengeruk kekayaan laut.

Burhan Ahmad, Kepala Desa Bajo Sangkuang mengisahkan, pada 1993 bekerja di kapal asing Hong Kong yang bekerja sama dengan Pusat Koperasi Angkatan Laut (Poskopal) Indonesia. Kapal ikan ini menangkap ikan napoleon wrasse (Cheilinus undulatus) dengan sistem bius.

“Saat itu, dari 18 nelayan, 10 orang Indonesia, termasuk saya. Dari 10 orang itu 9 asal Buton, saya orang Bajo,” katanya.

Dia bilang, tak tahu kalau pakai sistem bius masuk kategori bahaya dan dilarang. Wilayah operasi mereka meliputi Perairan Morotai hingga Sorong, Papua. Sekitar satu bulan, mereka bisa mendapatkan 40 ton napoleon dikirim ke Hong Kong.

“Kami menyelam sampai kedalamanan 30 meter untuk membius ikan, dan pakai mesin kompresor bernafas melalui selang,” katanya.

Setahun bekerja di kapal asing, Burhan dan teman-temannya pernah ditangkap polisi di Perairan Morotai. Dia sempat kaget karena bekerja melalui jalur legal. “Mulai dari tertangkapnya kami, saya memilih berhenti bekerja di kapal asing dan kembali ke Bajo,” ucap Burhan.

Penghasilan bekerja di kapal asing memang menggiurkan. “Namun melemahkan sumber daya Indonesia.”

Dalam melaut, nelayan Indonesia cukup tangguh. Hanya keterbatasan fasilitas dan alat tangkap yang sederhana, jauh tertinggal dengan alat kapal asing yang canggih.

“Seandainya pemerintah Indonesia mampu menyediakan fasilitas cukup baik untuk nelayan seperti kami, sudah tentu nelayan Indonesia berjaya di laut,” katanya.

Dia setuju langkah Menteri Susi Pudjiastuti memberantas illegal, unreported, unregulated (IUU) fishing dan menenggelamkan kapal asing.

Berita Mongabay sebelumnya, menyebutkan, tim Satgas Anti Ilegal Unreported and Unregulated (IUU) Fishing pada akhir 2014, sudah evaluasi dan audit kepatuhan  terhadap seluruh kapal perikanan di atas 30 gross tonnage (GT) yang beroperasi di perairan Indonesia.

Hasilnya, menemukan, ribuan kapal melanggar peraturan, seperti satu izin dipakai tiga atau empat kapal.  Artinya, jika 1.132 kapal terdaftar dikalikan tiga, ada lebih 3.000 izin kapal eks asing harus diperiksa kembali. Temuan lain, ada 3.000–4.000 kapal eks asing mencuri ikan di perairan Indonesia.

Meskipun sudah ada tindakan hukum sampai penenggelaman kapal, sampai kini, kapal asing masih beroperasi di perairan Malut. Sekarang, katanya, kapal asing masuk dengan berbagai modus.

“Mereka buat kapal penampung ikan, padahal di balik itu, menangkap ikan bahkan pakai jaring harimau,” katanya seraya bilang pernah punya kapal Inka Mina berkapasitas 33 GT. “Jadi, saya tahu kalau kapal asing masih masuk perairan Malut.”

 

Menjemur sagu, bahan utama kerupuk kamplang. Foto: Faris Bobero/ Mongabay Indonesia

 

 

***

Di Depan Desa Bajo Sangkuang, ada dua pulau dengan nama Mamboat, terletak di utara, yakni Mamboat Kecil dan Mamboat Besar. Hanya sekitar delapan menit sampai ke Pulau Mamboat dengan perahu sampan bermesin ketinting.

Di Mamboat Besar ada kebun milik Suku Bajo Sangkuang dan Suku Makeang. Mereka menanam sagu, kelapa, dan umbi-umbian lain. Di Mamboat Kecil sebagai pemakaman.

Tata kelola kebun di Mambuat Besar ,sangat berbeda dengan sistem ekonomi pasar. Satu kebun milik satu marga bisa dipakai marga lain untuk menanam umbi-umbian.

“Lahan milik satu marga bisa dipakai orang dari marga lain. Asalkan jangan menanam tanaman tahunan,” kata Mohdar, juga tetua Kampung Desa Bajo Sangkuang.

Kegiatan memangkur sagu lebih banyak dari Suku Makeang. Sagu yang dipangkur dibawa ke Desa Bajo Sangkuang dijual pada perempuan Suku Bajo untuk kerupuk kamplang.

Tak sedikit pedagang dari luar datang ke Bajo Sangkuang, membeli kerupuk ini. Hampir sebagian di Pasar Labuha Bacan menjual kamplang buatan tangan perempuan Bajo Sangkuang. Bahan dasar kerupuk dari ikan dan sagu. Ada juga campur rempah-rempah.

“Bahkan, para pedagang dari luar Halmahera Selatan datang ke sini membeli kamplang untuk jual di Ternate,”katanya.

Sagu yang tumbuh di Puncak Desa Bajo Sangkuang, tak ditebang. Puluhan tahun lahan sagu jadi lokasi sumber air bersih dialiri ke rumah warga pakai bambu.

Pada 2016, baru ada perhatian pemerintah mengadakan pipa untuk mengaliri air bersih dari puncak Desa Bajo Sangkuang.

 

Kampung Bajo Sangkuang . Foto: Faris Bobero/ Mongabay Indonesia