Foto: 12 Ribu Lebih Penari Saman Kampanye Hutan Leuser

 

Lebih dari 12 ribu penari Saman mengkampanyekan penyelamatan Hutan Leuser, pada pagelaran 13 Agustus 2017 di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Tarian tradisional tidak hanya berfungsi menjaga kelestarian budaya, tetapi juga bermanfaat untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Termasuk, mengkampanyekan penyelamatan lingkungan. Masyarakat Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, pada 13 Agustus 2017, menunjukkan kombinasi tersebut.

Dengan melibatkan 12.262 penari Saman, tarian tradisional daerah ini, mereka berkampanye untuk menjaga kelestarian hutan Leuser yang merupakan salah satu hutan hujan terbesar di Asia dan Dunia.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gayo Lues Syafruddin, mengatakan kegiatan Tari Saman Massal yang melibatkan 12.262 orang penari, digelar dengan tema Saman Mengawal Leuser. Penari berasal dari 145 desa, satuan kerja pemerintah kabupaten (SKPK), anggota TNI, anggota Kepolisian Gayo Lues, dan ditambah sejumlah penari dari kabupaten tetangga.

“Tari Saman merupakan warisan dunia tak benda yang terdaftar di UNESCO pada 2011. Dalam penampilan ini, melalui syair, kita mengajak semua orang untuk menjaga hutan Leuser yang juga warisan dunia dan terdaftar di UNESCO,” terang Syafruddin.

 

 

Saman Mengawal Leuser, tema yang diangkat pada pagelaran massal ini. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Berikut cuplikan syairnya:

Selamat datang kepada undangan

“Selamat datang kepada undangan”

Menyaksikan Saman di Gayo Luesni di Gayo Luesni

“Menyaksikan Saman di Gayo Lues ini di Gayo Lues ini”

 

Nge lime taun Saman isahan UNESCO

“Sudah lima tahun Saman disahkan UNESCO”

Ari Tanoh Gayo jadi warisen dunie warisen dunie

“Dari Tanah Gayo menjadi warisan dunia warisan dunia”

 

Uten si lues enti itebangi

“Hutan yang luas jangan ditebang”

Buge Gayoni renah ari emisi ku renah emisi

“Semoga Gayo ini rendah emisi, rendah emisi”

 

Hoya  tir pantas tir, hoya tir pantas tir

“Ayo segera cepat segera, ayo segera cepat segera”

Enti mulo enti mulo

“Sebentar sebentar”

Cacak dang dang sige, cacak dang dang sige

“Berkemas sambil-sambil bersiap, berkemas sambil-sambil bersiap”

Entah renye entah renye

“Ayolah ayolah”

 

Gayo Luesni hawae sejuk

“Gayo Lues ini hawanya sejuk”

Uyem mutumpuk nge lagu si seme, o nge lagu si seme

“Pinus bertumpuk bagikan disemai, o bagikan disemai”

 

Sayang Gunung Leuser enti ikekunah

“Sayang Gunung Leuser jangan diganggu”

Oya anugerah ari Ilahi o ari Ilahi

“Itu anugerah dari Ilahi, o dari Ilahi”

 

Ike Gunung Leuser turah kite jege

“Kalau Gunung Leuser harus kita jaga”

Paru-Paru Dunie si nge terang nyata, o si nge terang nyata

“Paru-Paru Dunia sudahlah pasti, o sudahlah pasti”

 

Flora dan fauna bermacam teridah

“Flora dan fauna bermacam terlihat”

Mawas urum gajah anggrek si lemi o anggrek si lemi

“Orangutan dan gajah anggrek yang indah, o anggrek yang indah”

 

Tokoh masyarakat Gayo Lues, Aman Jarum menyebutkan, dirinya sangat senang pada pesan menjaga hutan Leuser dimasukkan dalam syair tarian Saman yang digelar secara massal itu.

“Semua pihak harus diingatkan bahwa menjaga hutan Leuser sangat penting, apalagi hutan Leuser di Gayo Lues merupakan hulu sebagian besar sungai di Aceh. Kalau hutan ini rusak, yang akan merasakan bencana tidak hanya masyarakat Gayo Lues, tapi sebagian besar masyarakat Aceh dan Sumatera Utara,” sebut Aman Jarum yang telah menjaga hutan Leuser belasan tahun.

 

 

Penari Saman ini berasal dari 145 desa, satuan kerja pemerintah kabupaten, anggota TNI, Kepolisian, dan masyarakat dari luar Gayo Lues. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Dukungan

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sangat setuju dan mendukung tarian Saman beserta tarian tradisional Aceh lainnya dimanfaatkan untuk mengkampanyekan penyelamatan lingkungan dan Leuser.

“Mengkampanye penyelamatan lingkungan melalui seni budaya termasuk Saman merupakan hal yang sangat bagus. Hal ini harus dilakukan berulang sehingga masyarakat sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan,” tuturnya.

Irwandi menambahkan, hutan di Aceh khususnya Leuser sangat penting dijaga karena kondisi Aceh yang berbukit, berlembah, dan tanahnya yang rawan. “Hutan di Aceh sangat penting karena Aceh rawan bencana, struktur tanahnya labil. Jika hutan di pinggir sungai ditebang, maka banjir dan longsor sangat mudah terjadi,” ujar Irwandi.

 

 

Tari Saman merupakan warisan dunia tak benda yang terdaftar di UNESCO pada 2011. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Communication and Advocacy Specialist USAID LESTARI Aceh, Cut Meurah Intan, sebelumnya pada 5 Agustus 2017 mengatakan, selain mendukung pemerintah, USAID LESTARI juga menggelar berbagai kegiatan kampanye untuk menyelamatkan hutan Leuser. Berbagai kegiatan telah dilakukan seperti  250 pelajar di Banda Aceh melakukan tarian Saman massal di Taman Sari, Banda Aceh, yang merupakan bagian dari pagelaran tari saman massal yang digelar di Gayo Lues tersebut.

“Tari Saman massal ini digelar untuk mengajak generasi muda Aceh untuk mengekspresikan kepeduliannya terhadap kawasan Ekosistem Leuser. Kita sedang mengkampanyekan Saman Pengawal Leuser: Mengawal Tradisi Melalui Konservasi. Selain itu, kita juga ingin mempromosikan Kabupaten Gayo Lues yang kaya akan potensi wisata alam,” jelasnya.

Cut Meurah Intan juga mengatakan, proyek USAID LESTARI sangat mendukung upaya pemerintah menjaga dan melestarikan hutan Leuser, menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), serta melestarikan keanekaragaman hayati.

“Pendekatan lanskap atau bentang alam digunakan untuk menurunkan emisi GRK, mengintegrasikan aksi konservasi hutan dan lahan gambut, serta pembangunan rendah emisi di lahan lain yang sudah terdegradasi,” ungkapnya.

 

 

Menjaga Hutan Leuser berarti menjaga kehidupan manusia beserta tatanan ekosistem alamnya. Foto atas dan bawah: Junaidi Hanafia/Mongabay Indonesia

 

Kawasan Ekosistem Leuser merupakan hutan hujan alami yang membanggakan Indonesia dan dunia. Wilayahnya membentang seluas 2,6 juta hektare di dua provinsi. Di Aceh, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan, sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), No.190/Kpts-II/2001, luasnya sekitar 2.255.577 hektare. Sedangkan di Sumatera Utara, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.10193/Kpts-II/2002, luas kawasan hutan dan areal penggunaan lainnya sekitar 384.292 hektare.

Ekosistem Leuser dilindungi Keputusan Presiden No.33 Tahun 1998 tentang Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser. Sementara Taman Nasional Gunung Leuser seluas 792.672 hektare, yang berada di dalam Ekosistem Leuser, ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan pada 23 Mei 1997 (KepMenHut No.276/Kpts-VI/1997).