Melihat Penggaraman Tradisional yang Memperindah Pesisir. Seperti Apa?

Indonesia dinilai kalah di industri dan mekanisasi pembuatan garam. Tak ayal, walau pemilik garis pantai terpanjang selalu tergantung garam impor. Itu jika targetnya adalah garam industri.

Namun jika fokusnya garam konsumsi, Indonesia memiliki peluang besar memproduksi garam laut sehat dari cara pengolahan alami sekaligus mempercantik pesisir. Juga beri dampak pada konservasi.

(baca : Dulu Indonesia Swasembada Garam, Kini Jadi Importir Garam, Ada Apa Sebenarnya?)

Mari kita lihat pengalaman dua petani melestarikan cara pembuatan garam secara tradisional. Dengan dua jenis bahan baku berbeda, air payau dan air laut. Di sebuah pesisir Jawa dan Bali.

Garam rakyat identik dengan tradisional. Dan cara tradisional yang cenderung alami memiliki keistimewaan unik. Mereka menerapkan teknologi ramah lingkungan.

 

Maulani, petani garam sedang mengayunkan mboran, alat tradisional pengolah garam untuk memindahkan air tua di lahannya di Desa Sedayulawas, Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Foto : Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

 

Maulani dari Desa Sedayulawas, Brondong, Lamongan, Jawa Timur bekerja sendiri di sekitar 30 petak lahannya. Mentari sedang terik, ia baru mulai mempersiapkan tambak yang bahan bakunya mengalir ke sungai dari pantai utara Lamongan. Ada sodetan Sungai Bengawan Solo di sebelah barat dan sungai kecil di timur.

Lahan tambak yang luasnya sekitar satu hektar ini dialiri air bahan baku garam atau air tua dengan mboran. Terbuat dari batang bambu panjang dengan ember di ujungnya. Di sepertiga bagian bawah ada tuas yang meringankan beban petani, menghemat tenaga petani garam. Tangan memegang kait kemudian arahkan bambu ke tempat air matang menuju bak penampung.

Dari sini, kitiran atau kincir bambu digerakkan angin menarik air yang mengalirkan air ke tambak-tambak. Sebelum mengairi tambak, tanah diratakan dan dipadatkan dengan slender kayu. Benda unik ini dari batang kayu bulat yang dipasang tangkai kayu. Digelindingkan ke lahan-lahan sehingga tambak padat, air tak mudah meresap habis ke tanah.

Tiga jenis benda tradisional itu, mboran, slender, dan kitiran bisa dibuat sendiri, tak tergantung pabrik. Jadi, jika alat-alat ini rusak bisa diperbaiki sendiri. Tak perlu berhenti bekerja hanya gara-gara alat rusak.

Bahan bakunya juga mudah didapat, kayu dan bambu. Estetik, alami, dan mudah dimodifikasi sesuai kebutuhan.

(baca : Ketika Garam dan Bakau Bersatu, Siasat Pelestariannya di Pesisir Utara Lamongan )

“Tidak semua petak bisa jadi garam. Kualitasnya kurang kalau tak bisa mengembang,” seru Maulani sambil terus menimba air dengan garukan. Gerakannya perlahan, garukan naik turun di tuas penyangga yang berbentuk seperti kayu ketapel. Garam hasil tambak ini biasanya dibeli pengepul atau pengolah garam krosok untuk digodok atau dimasak sebelum dijual ke pasar.

 

Slender, semacam roda kayu untuk memadatkan tanah, agar air tua yang diolah untuk menjadi garam tak mudah merembes di Desa Sedayulawas, Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

 

Maulani sudah menjadi petani garam sejak remaja, kini ia 55 tahun. Harga garam saat ini cukup tinggi sekitar Rp3000 per kilogram, ia makin semangat mengolah tambaknya. Ia tak punya stok, semua panen sudah diborong.

Petak-petak yang sudah dialiri air tua selama beberapa hari dipantau kadar garamnya, Maulani menyebutnya timbangan. Ia tidak tahu persisnya. Air dalam tambak dimasukkan tabung bambu yang berisi baumeter untuk melihat berat jenis air. Lalu dicek berapa angkanya di strip meterannya.

Jika browsing soal alat ukur salinitas atau keasinan air, akan banyak produk-produk alat ukur digital yang dijual. Misalnya salinity meter yang seperti thermometer elektrik, cara kerjanya dengan hantaran listrik pada air.

Namun Maulani setia dengan alat yang disebutnya timbangan itu. “Kalau sudah matang garis di angka 20,” kata pria ramah ini. Usia kematangan air berpengaruh pada hasil panen. Satu petak menurutnya bisa menghasilkan 500 kg-1 ton. Jadi produksi garamnya sekitar 50-70 ton per 3-5 bulan tergantung cuaca.

Ia mendapat bantuan pemerintah terpal plastik sebagai alas tanah. “Katanya hasil lebih putih dan lebih cepat matang,” jelas Maulani.

(baca : Benarkah Teknologi Pengolahan Garam Sudah Dikuasai Indonesia? )

Tambak garam Maulani memperindah bebukitan sekitarnya. Refleksi bukit terlihat di tambak berisi air tua.

Tetangga tambak garam Maulani adalah Arifin. Lelaki ini menambahkan detail tambahan di tambaknya. Atap plastik bening bentuk prisma sejak 2013. Bekerjasama dengan perusahaan penjual plastik, usahanya diklaim lebih menghasilkan karena bisa berproduksi sepanjang tahun termasuk saat musim hujan karena dijemur dengan tutupan plastik geo membrane di atas dan di bawah mengalasi tanah.

Tengah tahun ini, prismanya bertambah menjadi 40 unit. Berderet menonjol di tengah hamparan tambak garam. Ia mengaku bisa produksi lebih banyak, sekitar tiga kali lipat dari tambak biasa tanpa atap. Per hektar 120 ton per hektar, dengan prisma bisa 400 ton per hektar. Syaratnya memiliki bunker penyimpan air tua untuk produksi saat musim hujan.

 

Bentuk palungan yaitu bilah batang pohon kelapa untuk menjemur air tua menjadi garam kristal di Kusamba, Klungkung, Bali. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Keberagaman cara pembuatan garam dan alat-alat tradisional yang digunakan adalah kekayaan pesisir Indonesia. Bisa jadi penggunaan alat tradisional dan alami tidak sebanyak tambak garam dengan mekanisasi namun ada dampak yang lebih besar, yakni ekowisata.

Hal ini dirasakan sedikitnya tiga keluarga yang membuat garam di sekitar pantai Kusamba, pesisir Kabupaten Klungkung, Bali. Tempat produksi garam di dekat objek wisata Goa Lawah ini nyaris tiap hari didatangi turis.

Salah satunya pasangan I Nyoman Bawa. Mereka membuat pondok untuk tempat tinggal di samping usaha garamnya. “Kalau pagi-pagi sekali ada telepon rombongan tamu dating, saya bisa mengurus karena tinggal di sini,” ujarnya.

Kedatangan rombongan turis pagi-pabi buta sudah biasa, bisa jadi mereka akan tur jarak jauh dan juga mencari matahari terbit saat memotret keluarga petani ini beraksi.

Matahari akan menyembul balik bebukitan lokasi penggaramannya. Kemudian turis bisa meminta Bawa menyontohkan cara mengambil air dari laut dengan timba tradisional. Kemudian menuangkan air laut ke pasir yang sudah diratakan.

Setelah dijemur dan kering, pasir ini diangkut lalu dimasukkan bak yang akan menjadi filter menjadikan air tua. Air tua inilah bahan baku yang akan dijemur di bilah-bilah batang kelapa tua bernama palungan.

Turis juga senang melihat proses penuangan air tua ke palungan-palungan yang ditata berderet rapi. Air dalam palungan tak banyak, namun dampak penggunaan palungan sebagai alas jemur dinilai memberi khasiat tambahan pada garam hasil panen. Asinnya tak terlalu pekat dan tak ada kandungan logam berat.

Atraksi ini mudah ditemukan dengan petunjuk papan di pinggir jalan bertuliskan sea salt farmer. Menjadi petani garam yang lebih banyak bercerita melayani pengunjung bukan target mereka. Tetapi berada di pesisir jalan raya menuju Bali Timur dan pelabuhan Padangbai memberi berkah tambahan yaitu kunjungan turis di saat penghasilan dari penjualan garam ke pengepul tak cukup.

 

Petani garam memanen garam dalam palungan yaitu bilah batang pohon kelapa untuk menjemur air tua menjadi garam kristal di Kusamba, Klungkung, Bali. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Kini mereka bisa menjual garam dengan harga tinggi ke pengunjung atau turis yang mampir. Misalnya satu kilogram bisa laku Rp25-50 ribu juga kadang donasi sukarela. Dalam pondokan pabrik tradisional garamnya pasangan lanjut usia ini memajang topi-topi anyaman dan souvenir kipas atau gelang untuk ditawarkan ke pengunjung. Bawa menyebut produksi sedikit sekitar 50 kg saja sebulan, untuk pasar sekitar dan pengunjung.

Keluarga ini menghidupkan pesisir, secara tak langsung membersihkan dan merawat area sekitar penggaraman.