Bukan Kandang Rehabilitasi, Orangutan Butuh Hutan Sebagai Tempat Hidupnya

 

Orangutan membutuhkan hutan sebagai tempat hidupnya. Menyelamatkan orangutan berarti menyelamatkan kehidupan manusia, karena hutan sebagai sumber kehidupan terjaga. Foto: Indrayana/Borneo Orangutan Survival Foundation

 

Tahun 2017 merupakan tahun kebebasan orangutan. Slogan tersebut dicanangkan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) atau Yayasan Borneo Orangutan Survival, meski di lembaga tersebut masih ada ratusan orangutan yang hidup di kandang rehabilitasi.

“Apa yang menyebabkan orangutan tersebut harus dikandangkan? Jawabannya cuma satu, karena kita tidak punya hutan. Mau tidak mau, mereka harus menunggu hingga waktu pelepasliaran tiba,” kata Jamartin Sihite, CEO BOSF.

Tidak hanya di Samboja Lestari (Kalimantan Timur), di Nyaru Menteng (Kalimantan Tengah) juga masih ada puluhan orangutan yang terpaksa hidup di kandang. Usia mereka bahkan ada yang puluhan tahun. Namun, pelepasliaran tidak bisa dilakukan terburu lantaran kondisi hutan yang terus berkurang.

“Siapa sih yang tahan menatap mata-mata orangutan dalam kandang. Mereka kalau bisa bicara akan berkata, kapan saya dilepasliarkan. Tapi mau gimana lagi, selagi saya berjuang mencari hutan, mereka harus menunggu di kandang,” sebutnya.

 

Baca: Naik Status, Perlindungan orangutan Kalimantan dan Habitatnya Harus Serius

 

September 2017 mendatang, Jamartin akan mengambil langkah nekat. Dia berencana menghancurkan satu blok kandang orangutan di Samboja Lestari guna melepasliarkan primata itu ke hutan. “Saya sudah dapat hutan pinjaman, statusnya hutan perusahaan sawit. Kami akan jadikan itu hutan transit, selama lima tahun orangutan bisa tinggal di sana sebelum kembali ke hutan lindung.”

Banyak yang menyayangkan sikap tersebut, namun Jamartin menegaskan pihaknya ingin menjadi yayasan konservasi orangutan terkecil di Indonesia. “Kalau tidak dihancurkan, orang akan melihat BOSF tidak perlu hutan. Tidak ada istilahnya orangutan hidup di kandang, namanya juga orangutan ya harus di hutan,” jelasnya.

 

 

 

Sempat terhenti

Jamartin berkisah, sebelum memiliki Hutan Kehje Sewen di Kutai Timur (Kulimantan Timur), program pelepasliaran BOSF sempat terhenti 10 tahun. Kala itu, hutan di pusat rehabilitasi sudah tidak tersedia, tapi yayasan harus menampung orangutan yatim piatu yang terus berdatangan. Akibatnya fatal, ratusan orangutan menumpuk di hutan rehabilitasi, menanti waktu pelepasliaran.

“10 tahun kami berusaha, akhirnya dapat di Kutai Timur. Tapi ternyata, hutan untuk orangutan tidak mudah dipinjam. Kami harus bayar, dan itu tidak murah. Sekarang kalau ada yang tanya, kenapa orangutan dikembalikan ke hutan tapi harus bayar? Jangan tanya saya,” katanya.

 

Baca: Meresahkan, Hutan yang Dirambah Itu Sudah di Depan Sekolah Orangutan

 

Pelan tapi pasti, BOSF berhasil mengatasi masalah tersebut. Namun hutan di Kalimantan Timur yang kami kelola saat ini, Hutan Kehje Sewen, ternyata masih belum dapat menampung 100 individu orangutan. “Terus terang, kami butuh dukungan untuk mendapatkan hutan lain. Kita masih butuh jasa lingkungan dari hutan seperti air bersih, udara bersih, dan keseimbangan iklim. Artinya, kita butuh orangutan hidup di hutan, karena mereka meningkatkan dan menjaga kualitas hutan. Untuk bisa menjaga mereka lestari di hutan, kita butuh menjaga hutan agar tidak dirusak.”

Untuk membebaskan semua orangutan dari dalam kandang BOSF membuat sejumlah pulau di Samboja Lestari yang dibentuk seperti hutan. Ruang geraknya memang terbatas, tapi setidaknya orangutan tersebut tidak terpenjara sebagaimana di kandang. Bila berhasil, rencananya akan dipulangkan ke Kehje Sewen.

 

Baca juga: Puluhan Pulau Buatan Disiapkan untuk Orangutan, Tujuannya?

 

Menurut Jamartin, pulau pra-pelepasliaran itu, tujuh pulau kecil dan empat pulau besar. Kapasitas total tujuh pulau tersebut sekitar 30 individu. Setiap orangutan yang telah lulus Sekolah Hutan, ditempatkan di salah satu pulau ini sebelum dilepasliarkan di hutan. Di sanai mereka hidup di udara terbuka sementara teknisi memantau kemajuan dan adaptasinya. Pulau-pulau ini juga dipergunakan sebagai wilayah transisi orangutan yang telah lama mendekam di kompleks kandang untuk sebelum dilepasliarkan.

“2017, bagi kami tahun #OrangutanFreedom, dan tahun ini kami telah melepasliarkan 13 orangutan ke Hutan Kehje Sewen di Kutai Timur. Cita-cita kami menjadi yayasan konservasi orangutan terkecil di Indonesia, walau faktanya hingga hari ini kami masih menjadi yayasan konservasi orangutan terbesar di dunia,” kata dia.

 

Peta Distribusi Orangutan di Indonesia. Sumber: www.forina.or.id

 

Penghargaan Dunia

Beberapa waktu lalu, Jamartin Sihite mewakili BOSF menerima penghargaan dunia untuk nominasi konservasi terbaik. BOSF mengalahkan 800 organisasi nominasi animal category.

“Saya juga tidak menyangka. Ini penghargaan terbaik, untuk yayasan terbaik di seluruh dunia yang berada di Indonesia,” sebutnya.

BOSF memenangkan award karena kebebasan orangutan dari dalam kandang. BOSF bekerja dalam misi penyelamatan orangutan dari hulu sampai hilir, rehabilitasi hingga pelepasliaran di alam bebas. “Mereka melihat kita bekerja sebagai organisasi, bukan individu. Jumlah orangutan yang kita urus banyak tapi kita utamakan animal welfare. Kita membebaskan orangutan ke habitat aslinya.”

Jamartin menegaskan, rehabilitasi bukan solusi untuk konservasi orangutan. Kehidupan orangutan yang benar itu di hutan dan hutannya harus kita lestarikan. “Kita kembalikan semua kebebasan orangutan, di hutan. Untuk itu, konservasi orangutan harus pada tempatnya, hutan,” pungkasnya.

Selamat Hari Orangutan Sedunia!