Mayu Fentami, Perawat Luar Biasa yang Peduli Sungai Kapuas

 

Mayu Fentami, perawat hebat yang menunjukkan kepeduliannya pada kebersihan lingkungan masyarakat dan kelestarian Sungai Kapuas. Foto: Putri Hadrian/Mongabay Indonesia

 

Bulan lalu, nama Mayu Fentami sama sekali asing. Sepak terjangnya di hulu Kalimantan Barat pun, tidak tercium media arus utama. Hingga kemudian dia memenangi SK Trimurti Award. Tadinya, Mayu hanya dikenal sebagai perawat di Puskesmas Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat di sebelas desa itu, akrab dengan sosoknya yang ramah dan senang bermain dengan anak-anak.

“Rumah saya selalu digedor anak-anak untuk meminjam buku,” tutur dara kelahiran Sintang, 17 Juni 1987 ini. Mayu mengelola rumah baca di tempatnya bertugas ini tiga tahun terakhir. Dia juga aktif menyuluh masyarakat melalui Radio Komunitas Surasuta. Materi yang disampaikan seputar kesehatan. Pendengarnya cukup banyak. Terbukti saat program pemeriksaan kesehatan reproduksi di daerah itu, lebih dari 170 perempuan yang sudah menikah memeriksakan diri.

“Penyuluhan kesehatan masyarakat, tidak terlepas dari kesehatan lingkungan. Daerah tempat saya bertugas ini, sebagian besar dilalui perahu,” ujarnya. Dengan berperahu, Mayu melayani sebelas desa di Bunut Hilir. Untuk desa-desa yang harus ditempuh berjalan kaki, pelayanan kesehatan dipusatkan di desa terdekat. Pengumuman pelayanan, dilakukan melalui siaran radio.

 

Baca: Danau-danau Keramat di Bunut Hilir

 

Bertugas di daerah sempadan sungai, awalnya membuat nyali Mayu ciut. Pasalnya, dia tidak bisa berenang. Seiring bergulirnya waktu, ketakutan itu hilang. Mayu tak ragu lagi mengarungi sungai untuk menjemput pasien. Muntaber dan diare adalah penyakit yang paling sering menyerang warga. Mayu melihat, sedikit banyak hal ini datang dari kebiasaan masyarakat memperlakukan sungai.

Masyarakat sangat bergantung Sungai Kapuas. Berada di paling hulu sungai, tidak berarti warga menikmati air bersih. Sungai Kapuas merupakan sungai besar utama di Kalimantan Barat, termasuk sungai terpanjang di Indonesia sekitar 1.178 kilometer, yang 942 kilometer dapat dilayari. Sungai ini merupakan moda transportasi utama saat jalur transportasi darat belum ada. Warga pun berdiam di sempadannya.

“Saya berupaya mengubah kebiasaan. Tidak serta merta memang, butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat bahwa menjaga sungai sama dengan menjaga penghidupan,” tambahnya. Kecamatan Bunut Hilir merupakan daerah yang masuk program Desa Open Defecation Free (ODF). Desa ODF adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. Seperti kebanyakan kampung di atas air, rata-rata warga membangun jamban di atas sungai. Ada WC, tapi tanpa septic tank.

“Pembuangan tinja sembarangan sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan. Untuk memutuskan rantai penularan, kebiasaan ini harus diubah,” kata Mayu. Upaya Mayu tidak bisa dibilang mulus. Di masa awal kampanye, banyak yang resisten. Mayu sadar, perlu pendekatan khusus untuk mendapatkan ‘hati’ masyarakat. Komunikasi dibangun melalui radio, diselingi lagu-lagu kesukaan warga. Talkshow kerap dilakukan, dengan topik sehari-hari. Jika kesulitan narasumber, tak jarang Mayu bertugas sebagai operator, penyiar radio, sekaligus narasumber.

 

Sungai Kapuas tempo dulu yang sudah digunakan sebagai jalur transportasi air. Sumber: Wikimedia Commons/Tropenmuseum/Roeiwedstrijden met prauwen op de river Kapuas

 

Aboh meh kite gaok Sungai Kapuas,” sapa Mayu, kepada para pendengarnya. Kalimat itu sudah akrab di ruang dengar warga Desa Bunut Hilir, saban malam. Arinya, seruan untuk menjaga Sungai Kapuas. Tekadnya untuk menyuarakan kebaikan, mengalahkan rasa letih yang mendera usai menjalankan tugas keseharian. Terkadang, untuk menempuh desa yang jauh memerlukan waktu lebih dari dua jam. Di Bunut Hilir, wilayahnya terpisah oleh sungai dan kawasan hutan. Radio merupakan salah satu penyebar informasi, memperpendek senjangnya jarak antardesa.

Mayu dan rekannya pernah menguji PH sungai itu. “Ini pengujian tidak resmi, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu,” katanya. Hasilnya, Sungai Kapuas mempunyai tingkat keasaman yang tinggi, kondisi ideal bakteri berkembang biak. Kegiatan mandi, cuci, kasus salah satu faktor pencemar. Di lain sisi, ada aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang ikut mencemari dengan logam beratnya.

Masyarakat Bunut Hilir rata-rata merupakan nelayan, petani karet, budidaya daun puri untuk obat herbal, serta tambak ikan air tawar. Salah satu hambatan warga untuk membangun jamban di rumah adalah soal uang. Menggunakan air sungai adalah hal yang relatif instan. “Berbekal pipa atau selang dan mesin air, sudah bisa mandi cuci kakus. Sedangkan membangun jamban yang memenuhi standar kesehatan, bisa mencapai satu juta rupiah,” katanya.

Mayu tak putus asa. Dia menekankan pentingnya menjaga kesehatan sebagai investasi berharga. Mayu rela melakoni tugas ganda. Selain merawat pasien, dia berupaya keras menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan. “Kadang saya membagi waktu memberikan penyuluhan gratis kepada warga di luar jam kerja,” jelasnya.

 

 

Program siaran

Program siaran yang diasuh Mayu di Radio Komunitas Surasuta adalah ‘Bunut Sehat’. Siarannya bertema seputar dunia kesehatan dan ajakan untuk menjaga Sungai Kapuas. Cara penyajian beritanya dikemas dalam bahasa sederhana, mudah dipahami masyarakat. Untuk menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan pada pelajar dan masyarakat, Mayu mengajak anak muda setempat menjadi relawan dan membuat Program KaCa (Kapuas Membaca).

Program Kaca ini merupakan upaya meningkatkan budaya literasi mayarakat. Program ini terus berjalan hingga sekarang. Bahkan, menjangkau wilayah/desa terpencil dan terisolir. “Kami memerlukan buku-buku bacaan pembentuk karakter anak-anak. Sebagian besar buku sudah dibaca habis,” katanya. Mayu juga tak jarang ikut mendongeng yang diselipi penyadartahuan kesehatan. Dari mulai mencuci tangan hingga tidak membuang sampah ke sungai.

Pelan tapi pasti, upaya Mayu membuahkan hasil. Warga makin membutuhkan materi kesehatan lingkungan melalui lisan, dan media sosial yang disampaikan ke radio komunitas. Tak hanya itu, warga pun sedikit banyak berupaya menjaga sungai. “Mereka tidak lagi membuang sampah ke sungai. Karena tidak ada tempat pembuangan akhir, otomatis sampah plastik harus dibakar. Begitu juga sampah popok bayi,” katanya. Kawasan sungai pun jauh lebih bersih kini.

Radio Komunitas Surasuta merupakan kerja sama WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat dengan Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS AIR). Koordinator Komunikasi WWF-Indonesia Program Kalbar, Jimmy Syahirsyah, mengatakan, radio komunitas ini adalah rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah dilakukan sebelumnya lewat program Panda Click.

Menurut dia, Panda Click dimaksudkan untuk mendorong masyarakat berperan aktif dalam pembangunan. “Harus diakui, masyarakat kita masih terkendala alat komunikasi. Bukan karena tak diajak pemerintah, atau diberi kesempatan berperan aktif dalam pembangunan,” ucapnya.

Selain melalui foto, masyarakat juga dinilai membutuhkan media lain untuk interaksi. Radio komunitas pilihannya. “Dengan radio komunitas, masyarakat dapat berinteraksi langsung mendorong perubahan. Isu-isu tentang budaya dan potensi desa dijadikan bahas diskusi,” kata Jimmy.

Radio Surasuta diresmikan penggunaannya oleh Bupati Kapuas Hulu AM Nasir, pada 6 Februari 2014. Dalam siaran perdananya yang dipancarkan melalui gelombang FM 107Mhz, Nasir mengajak warga Bunut Hilir untuk menyampaikan informasi di kampungnya masing-masing melalui radio milik warga itu.

 

Ikan arwana merah yang hidup di perairan Sungai Kapuas. Foto: Wasol/WWF Indonesia-Panda Click

 

Trimurti Award

Mayu tidak pernah bermimpi mendapatkan penghargaan bergengsi dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 7 Agustus 2017 lalu. Penghargaan yang diberikan bertepatan dengan hari jadi AJI ke-23. Penghargaan ini diberikan kepada perempuan yang dianggap memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dan hak kaum tertindas.

Upaya Mayu agar masyarakat Bunut Hilir mendapatkan informasi dan bahan literasi dengan mengembangkan radio komunitas dan taman bacaan, mendapat ganjaran manis. “Saya tidak menyangka. Sungguh sangat bahagia mendapatkan kehormatan ini. Tujuan utama saya hanya mengabdi pada masyarakat,” katanya.

Penghargaan tersebut merupakan kenang-kenangan terindah dari Bunut Hilir. Akhir bulan ini, Mayu tidak lagi bertugas di daerah tersebut. Dia pindah ke Putusibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu. Mayu berharap, apa yang telah dirintisnya tidak berhenti sepeninggalannya.

Apa yang dilakukan Mayu Fentami sungguh menarik dewan juri. Sulitnya medan yang dilalui dalam perjuangannya, dan dedikasinya yang tinggi untuk membuka akses masyarakat Bunut Hilir – Kalimantan Barat terhadap informasi, membuat dewan juri menjatuhkan pilihan ke Mayu.

Dalam pandangan dewan juri, Mayu telah berbuat lebih dari apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang perawat yang ditempatkan di desa terpencil. Mayu bisa saja hanya menjadi perawat, selebihnya beristirahat. Namun, Mayu melakukan tugas lain yang tidak kalah penting, mengembangkan radio komunitas dan mengelola taman bacaan.

Calon nominasi penghargaan SK Trimurti dilakukan secara terbuka, dengan menerima masukan dari masyarakat. Para juri yang terdiri dari Azriana (Ketua Komnas Perempuan), Wahyu Susilo (Dir. Eksekutif Migrant Care), dan Endah Lismartini (AJI Indonesia) telah melakukan seleksi terhadap 18 nama yang masuk, termasuk dari luar Indonesia.

Tidak mudah bagi dewan juri membuat keputusan ini, karena tidak satupun dari mereka yang mengenal Mayu. “Kerja-kerja penting Mayu sepi dari publikasi,” kata Azriana, dalam siaran pers AJI Indonesia. Namun, setelah mencari informasi lebih lanjut dan melakukan sejumlah verifikasi, lewat perdebatan yang mencerahkan, dewan juri memutuskan, memilih Mayu Fentami sebagai Penerima SK Trimurti Award 2017.

Mayu meyakini media sebagai sarana efektif, mengantarkan informasi positif kepada masyarakat Bunut Hilir yang memiliki sejumlah keterbatasan.“Inisiatif dan dedikasi inilah yang menurut dewan juri layak diapresiasi,” ujar Azriana. Penghargaan SK Trimurti diadakan untuk mengenang dan menghormati sosok Soerastri Karma Trimurti sebagai aktivis, pahlawan nasional, dan jurnalis perempuan tiga zaman kelahiran Boyolli, 11 Mei 1912.