Film Negeri Dongeng, Cerita Ironi Negeri yang Kaya Warisan Alam

 

Pesona lanskap tujuh puncak tertinggi di Indonesia tersaji dalam film Negeri Dongeng, garapan sutradara Anggi Frisca. Tak hanya keindahan alam, film ini pun berbagi pengalaman tentang produk-produk asli Indonesia dan interaksi dengan masyarakat lokal.

”Film ini informatif menyajikan lanskap Indonesia, dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Maluku hingga Papua,” puji Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan usai menonton special screening, di Jakarta, tepat di Hari Kemerdekaan RI ke-72.

Film dokumenter ini produksi Komunitas Aksa 7. Ia menceritakan perjalanan tujuh pendakian pada tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia, yakni Gunung Kerinci (Sumatera Barat), Semeru (Jawa Timur), Bukit Raya (Kalimantan Barat), Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Latimojong (Sulawesi Selatan), Binaiya (Maluku) dan Jayawijaya (Papua).

Alam di tujuh gunung tertinggi ini coba jadi perwakilan kekayaan negeri lewat keragamanhayati, baik tumbuhan dan satwa. Sayangnya, alam itu merana karena tutupan lahan kian terdegradasi dan menjadi tugas berat bagi generasi kini untuk menjaganya.

Siti mengatakan, generasi kini harus sadar kalau sedang meminjam alam generasi mendatang.

”Melihat tutupan lahan yang tebal, di Kalimantan, Papua, kita betul-betul harus hati-hati dalam kebijakan alokasi hutan.”

Meski demikian, dia tak memungkiri sebelumnya ada izin-izin maupun investasi ‘ketelanjuran’ yang menghilangkan hutan. Diapun kini meminta beberapa daerah teliti ulang izin-izin yang menimbulkan dampak lingkungan.

Khusus Papua, yang memiliki UU Otonomi Khusus dalam pengelolaan sumber daya alam, ternyata tak mudah. KLHK, katanya, sedang mempelajari dengan tepat standar lingkungan yang perlu dilakukan sesuai dengan karakter sosial masyarakat.

 

 

Dari harga teh sampai tambang emas

Film itu juga bercerita tentang Indonesia, yang tak mampu membeli kekayaan alam sendiri sampai rekaman-rekaman kerusakan alam yang terjadi.

”Kita tidak mampu membeli kekayaan kita sendiri,” kutipan dalam film itu saat mengunjungi kaki Gunung Kerinci.

Mengapa begitu? Satu fakta, produksi teh Indonesia, pasar nasional hanya membeli kualitas kelas III, dan kelas I-II untuk ekspor. Ia kontras dengan kesejahteraan bagi petani yang sangat rendah. Serupa dengan petani kentang di kaki Gunung Semeru, harga beli sangat timpang dengan harga jual.

Potret perjalanan Aksa 7 ini menampilkan kenyataan masyarakat sekitar hutan dengan kehidupan jauh dari sebuah kata sejahtera. Dalam film itu terlihat, masyarakat di sekitar hutan Gunung Bukit Raya, Kalimantan, mulai berpindah dari petani ke menambang emas.

Kerusakan alam dengan penebangan pohon ditampilkan dalam film, tergantikan penambang rakyat. Alasannya, mereka mengetahui ada kekayaan alam yang lebih menjanjikan meski merusak.

Pemerintah pun belum bisa memberikan solusi agar masyarakat meninggalkan pekerjaan sebagai tambang emas dan tetap punya mata pencarian mencukupi.

Penggarapan film dokumenter ini selama dua tahun. Dengan personil, Anggi Frisca sebagai sutradara, Chandra Sembiring sebagai produser, Teguh Rahmadi, Jogie KM Nadeak, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, Yohanes Patiassina. Ikutan beberapa artis sebagai guest expeditor, yakni Nadine Chandrawinata, Media Kamil, Darius Sinatria dan Matthew Tandioputra, sebagai pendaki termuda.

Aksa, merupakan bahasa sansekerta, berarti mata, dalam hal ini mata kamera. Harapannya, film ini jadi alat komunikasi yang mempersatukan antara masyarakat dan pemerintah.

Pendanaan film ini dilakukan secara “gotong royong” alias tak bernaung pada rumah produksi film besar. Mereka melalui pendanaan mandiri, sponsor dan donatur, serta penjualan merchandise film.

Nilai itu pun disampaikan melalui film itu, dimana sebagai masyarakat diharapkan gotong royong dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik, dengan tak merusak alam. Masyarakat yang membangun dengan memperhatikan lingkungan dan wisata alam sebagai tulang punggung negeri.

”Empati, toleransi dan gotong royong, sepertinya sudah luntur di kehidupan kota, padahal itu adalah budaya negeri. Harapannya, film ini mampu meningkatkan nilai-nilai tersebut terhadap lingkungan kita,” kata Anggi Frisca, sutradara Film Negeri Dongeng.

 

Teh, salah satu komoditas Indonesia, yang kualias prima malah banyak ekspor. Foto: dari video trailer film

 

Kenapa berjudul Negeri Dongeng? “Indonesia itu seperti negeri dongeng, dimana sering menjadi buah bibir banyak orang di dunia, namun kita masyarakat sendiri tidak tahu kisah yang sebenarnya apa dan apa yang perlu dilakukan untuk Indonesia.”

Untuk itu, katanya, perlu mengeluarkan rasa cinta tanah air dengan berjalan dan melihat kondisi sesungguhnya.

Dalam film ini, Komunitas Aksa7 mencoba mengedukasi para pendaki ataupun masyarakat untuk tetap menjaga lingkungan. Pasalnya, banyak kegelisahan soal sampah muncul ketika alam dikunjungi banyak wisatawan.

Dialog dalam film mencoba mengedukasi agar setiap pendaki memiliki wawasan terkait pendakian. “Mendaki itu tidak mudah.”

Medina Kamil, aktor film ini mengatakan, pohon semacam ibu. Ia diam, mengamati dan mengikuti apa yang terjadi di alam, sesekali memberikan peringatan. Makin besar, pohon akan mengayomi dan jadi tempat berlindung binatang dan tumbuhan sekitar.

”Tanpa disadari pohon menjadi sistem penyangga ekosistem kita. Jika tidak ada, mungkin lingkungan sekitarnya akan hancur, sama seperti saat kehilangan ibu kita,” katanya.

Begitupula, edukasi terhadap sampah. Para pendaki perlu bijak dan meminimalkan pakai pembungkus saat naik gunung serta membawa kembali sampah saat berwisata. Tak hanya menikmati keindahan, tetapi perlu bijak dan bertanggung jawab merawat alam demi generasi mendatang.

”Kita perlu tetap menjaga keseimbangan alam ini agar salju tetap ada disini,” kata Nadine Chandrawinata dalam film saat mendaki Puncak Cartenz.

Penutupan film ini dengan pengibaran bendera Merah Putih sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya menggema dalam bioskop.

 

Hutan terbabat…Foto: dari video trailer film

 

Pemutaran film Negeri DOngeng dan nonton bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. Foto: Lusia Arumingtyas/ Mongabay Indonesia

 

 

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,