Ketika Hutan Hilang, Begini Upaya Suku Anak Dalam Bertahan Hidup

 

 

Sinar matahari mulai menghangat, berbayang di celah-celah jejeran pohon karet. Anjing-anjing berkeliaran mengitari lelaki ini. Di belakang dia, seorang perempuan rambut tergelung ke atas dengan penjepit warna-warni terlihat menghalau gerombolan kambing.

Laki-laki itu, Ngilo (41), Ketua Rombong Suku Anak Dalam di pemukiman SPA, Desa Pauh Menang, Kecamatan Pemenang, Merangin, Jambi. Sedang perempuan yang menemani dia, sang istri, Induk Rima. Induk tampak mengikat kambing-kambing di pohon karet yang ditumbuhi rerumputan.

Setiap hari, kambing-kambing ini keluar kandang. “Kalau pagi sekali, tak boleh kambing dikeluarkan. Kambing boleh keluar kalau embunnya sudah hilang,” kata Induk.

Selama hampir tiga tahun beternak, mereka punya 25 kambing, sebagian sudah dijual dan sumbangkan kepada saudara.

Awalnya, Ngilo hanya punya satu kambing pemberian SSS Pundi Sumatera. Ada 15 keluarga, masing-masing dapat satu kambing betina dan satu pejantan.

Mereka memulai belajar beternak. Beternak hal baru bagi mereka. Dulu, buat hidup mereka hanya mengumpul berbagai hasil hutan dan berburu.

Kala hutan berubah jadi kebun kayu skala besar, transmigrasi maupun perkebunan masyarakat, mereka harus berjuang agar bisa memenuhi kebutuhan perut.

Beternak tak mudah. Malapetaka datang, kambing jantan bantuan milik bersama, mati mendadak. Mereka bingung, bagaimana kambing betina berkembang biak tanpa pejantan.

Atas inisiatif bersama, rombongan iuran membeli kambing pejantan. Meskipun begitu, tak semua anggota rombong memiliki minat dan kesungguhan beternak kambing. Sebagian kambing mati, ada juga dijual.

Ngilo dan tujuh teman fokus dan bersabar belajar beternak. Selain mengikuti pelatihan SSS Pundi Sumatera, Ngilo juga rajin bertukar pengalaman dengan orang desa yang juga berternak kambing.

Kesabaran, kerja keras dan ketekunan Ngilo berbuah hasil, enam bulan kemudian kambing betina dia beranak kali pertama.

 

Anak-anak SAD yang ikut orangtua ke kebun menyadap karet. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia

 

Momen itu, sangat dia tunggu dan mengharukan bagi Induk, yang setiap hari tekun menjaga kambing-kambing ini.

Kata Ngilo, Induk semalaman menunggu kambing itu beranak dengan bantuan senter. “Induk yang paling bersemangat, ditunggu semalaman. Sibuk mencari daun nangka untuk dimakan kambing betina yang baru melahirkan,” katanya.

Induk hanya tersenyum kala Ngilo bercerita kala kambing pertama lahir. “Daun nangko, supaya kambing dak sakit perut,” sambung Induk.

Ramuan tradisional selain daun nangka, mereka mengenal jahe merah untuk mengobati kembung kambing dan menambah nafsu makan.

Berbicara soal penambah nafsu makan, Ngilo punya cerita lucu. Dulu saat pelatihan, dia mendapatkan pemahaman untuk menambahkan sedikit karat (garam) pada makanan kambing atau bisa juga diminumkan agar kambing makan dengan lahap.

Dia pun berinsiatif mengencingi rumput yang dimakan kambing. Hasilnya, kambing bersemangat makan rumput yang dikencingi. Ngilo tersenyum menceritakan pengalaman dia beternak.

Ngilo dan Induk, sudah hampir seminggu bertahan di kebun karet milik kelompok untuk menyadap. Selain beternak, kebun karet seluas 15 hektar ini sumber kehidupan bagi 47 keluarga Komunitas SAD yang tersebar di Satuan Pemukiman (SP)) A, SPC, dan SPD.

Ngilo bercerita, mereka menyadap karet bergantian, hingga semua keluarga menerima hasil dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Pembagiannya, satu hektar kebun karet diurus empat keluarga.

Pendapatan dari menyadap karet jauh dari cukup. “Paling banyak satu minggu dapat 60 kg. Harga Rp7.000 dari toke. Tak bisa cukup karena dibagi lagi dengan empat keluarga.”

 

Nusai, beternak kambing. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia

 

Buruan kian langka

Nusai, duduk di balai-balai depan pondok. Pandangan jauh menerawang. Nyusai, orang tua Ngilo. Dia masih bersemangat belajar beternak.

Ngilo memberikan sepasang kambing buat Nusai. Sesekali dia menyeka keringat yang bercucuran. Dia baru selesai menyadap, biasa mulai pukul 05.30 berakhir pukul 9.00.

Nyusai sedih hutan hilang hingga komunitas SAD harus kehilangan sumber hidup. “Kalau dulu hutan masih ado. Apo-apo tinggal ambil. Mau daging berburu, makan buah tinggal petik,” katanya.

Kini, jika berburu mereka harus ke kabupaten tetangga, perlu waktu seharian. Hasilnya, juga belum pasti, terkadang ada seringkali pulang tangan hampa.

Sikap, sepupu Nusai, membenarkan kesulitan mereka karena kehilangan hutan. “Sekarang cuaca panas, hewan buruan sulit didapat. Lihat pohon tampoi dan durian tak pernah lagi berbunga. Ini sudah tahun kedua tanpa panen buah,” katanya sembari menunjuk beberapa pohon durian yang tersebar di kebun karet komunal.

Kebun karet seluas 15 hektar ini harta yang masih tersisa bagi kelompok mereka. Awalnya, ini memang wilayah jelajah nenek moyang mereka dengan tradisi hidup berpindah-pindah. Kini, hutan-hutan itu berubah jadi perkebunan hingga mereka harus membeli tanah dengan warga agar bisa mengelola.

Karet yang mereka tanam belum sesuai standar budidaya seperti jarak tanam dan cara penyadapan. Meskipun telah coba belajar berternak dan bercocok tanam, namun Nusai dan kelompok sepakat tak akan meninggalkan tradisi berburu.

“Berburu itu bagian budaya dan kesenangan kami. Bukan saja sumber pendapatan. Berburu itu seni kami bisa saling berbagi dengan semua anggota kelompok. Di pepatah kami ada istilah makan sikok, makan segalonye. Itu berlaku pada hewan buruan.”

 

***

Kehilangan hutan dan kekayaan alam membuat kondisi SAD terjepit. Sejak awal 1980-an, gencar pembukaan hutan untuk perkebunan skala besar, transmigrasi dan lain-lain hingga makin mempersempit wilayah jelajah mereka.

Hidup menumpang di kebun kayu maupun kebun-kebun sawit, membuat kehidupan SAD makin termarginalkan.

Sejak 2013 , SSS Pundi Sumatera melalui program Sudung,’ merupakan strategi mendukung kehidupan dan sumber daya alam SAD di sepanjang Jalan Lintas Tengah Sumatera.

Direktur Pundi Sumatera M. Sutono mengatakan, sudah mendampingi sembilan rombong SAD sebanyak 93 keluarga sekitar 332 jiwa di Sarolangun, Merangin, Bungo dan Dharmasraya, Sumbar.

Langkah penyiapan dan penerimaan masyarakat luar terhadap komunitas SAD, katanya, dilakukan dalam berbagai upaya seperti, penguatan ekonomi, pendidikan dan pelayanan kesehatan.

 

Empat keluarga SAD yang mendapat giliran sadap karet, biasa tinggal di kebun sampai seminggu lebih. Foto: Elviza Diana/ Mongabay Indonesia

 

Tono menilai, SAD perlu menghadapi perubahan, seperti penerimaan masyarakat dan mendorong pengakuan negara terhadap hak-hak mereka.

“Program ini bukan mengubah peradaban SAD dari berburu dan meramu ke budidaya. Perubahan itu harus mereka alami untuk bertahan hidup,” katanya.

Administrasi kependudukan jadi pintu masuk akan pengakuan hak-hak SAD mendapat pelayanan dari pemerintah. Hingga ini, Pundi Sumatera membantu mendampingi pengurusan dokumen kependudukan. Telah terbit dokumen kependudukan berupa 68 kartu keluarga, 135 KTP dan 85 akta kelahiran bagi 93 keluarga, sekitar 332 jiwa.

Kendala dalam mengurus dokumen kependudukan, katanya, komunitas dituntut mengisi kolom agama. Pundi Sumatera menyayangkan itu. “Sebelum kami mengurus dokumen ini, rata-rata SAD sudah memilih beragama. Bagi yang belum juga jadi kendala, kami juga mendorong kalau bisa pemerintah memberikan persyaratan khusus untuk SAD dalam pengisian dokumen kependudukan.”

Dalam UU jelas tertulis bagi penganut agama maupun kepercayaan yang belum diakui dalam perundang-undangan tetap dilayani. Dalam UU Nomor 24 Tahun 2013, Pasal 64 ayat 5 menyebutkan, bagi penduduk yang agama belum diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan atau bagi penghayat kepercayaan tak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat dalam database kependudukan.

 

Picu konflik

Dalam 25 tahun, Sumatera kehilangan hutan 9 juta hektar. Tahun 1990, tutupan hutan Sumatera masih lebih 20 juta hektar, pada 2015 tinggal 11 juta hekar, atau sekitar 44%.

Dari analisis citra satelit lansat TM VIII oleh Warsi, pada 2015 lahan kritis atau areal terbuka naik jadi 556%. Peningkatan perkebunan 141%, hutan tanaman industri naik 381%.

Diki Kurniawan, Direktur KKI Warsi mengatakan, kehilangan hutan ini membawa dampak nyata bagi warga yang hidup di dalam dan sekitar hutan. “Kehidupan mereka jadi sulit. Akses dan keterlibatan masyarakat mengelola hutan makin sempit,” katanya.

Kondisi ini, menyebabkan konflik sosial antara kelompok masyarakat. Catatan Warsi, ada 14 Orang Rimba meninggal sia-sia karena abentrok dengan masyarakat sekitar.

“Kejadian-kejadian ini memberi alarm pada kita, ada ketimpangan di alam, perlu ada upaya segera pemulihan mengantisipasi dampak lebih luas.”

 

 

 

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , ,