Sampah Plastik, Harus Ada Inovasi Pemanfaatannya

 

Inilah contoh paving dan aspal jalan yang menggunakan campuran limbah plastik buatan tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia

 

Sampah plastik merupakan persoalan serius yang harus ditangani. Selain sulit hancur di alam, limbah ini juga menimbulkan pencemaran pada tanah dan air, yang ujungnya mengancam tatanan ekosistem lingkungan. Apa yang harus dilakukan?

Dalam diskusi bertema “Inovasi Pengurangan Sampah Plastik untuk Hilirisasi Industri dan Masyarakat” di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, akhir Agustus 2017, terungkap adanya potensi sampah plastik untuk dijadikan produk bermanfaat. Yaitu, sebagai campuran bahan konstruksi bangunan.

Peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sigit Tri Wicaksono mengutarakan, limbah plastik sebenarnya bermanfaat untuk bangunan. Sebut saja untuk membuat material konstruski, seperti paving, bata untuk dinding, atap, dan lain sebagainya.

Sigit bersama tim ITS dalam dua bulan terakhir, coba memanfaatkan sampah plastik untuk membangun sebuah rumah contoh. “Rencana kami, target akhirnya bisa membuat prototype rumah, rumah sungguhan yang seluruhnya dari limbah plastik. Mulai dari lantai, dinding, atap, konektor-konektornya, pintu, dan engsel,” ungkapnya.

 

Baca: Aliansi Zero Waste Menilai Jalan Aspal Plastik Belum Bisa Jadi Solusi Berkelanjutan. Kenapa?

 

Pemanfaatan limbah plastik, kata Sigit, tentunya melalui proses pemilahan yang peruntukannya sesuai konstruksi yang dibutuhkan. Pemakaian plastik sebagai agregat akan mengurangi pasir, koral, maupun semen.

“Limbah plastik pastinya dipilah, harus memenuhi spesifikasi khusus. Tidak semua plastik dicampur. Misalnya untuk dinding, kita pilih yang PVC karena kuat, begitu juga untuk paving atau lantai kita buat dengan mencampur pasir atau tidak,” ujar Sigit.

Pemanfaatan sampah plastik, tentunya disesuaikan dengan komposisi produk yang dibutuhkan. Menurut Sigit, dibandingkan dengan produk yang ada saat ini, dipastikan produk yang menggunakan limbah plastik tidak jauh beda mutunya.

“Kelebihan buatan kami itu lebih ringan. Sebab, massa jenis beton yang ada pasir, batu, semen itu jauh lebih besar dibandingkan plastik. Sehingga, akan menghemat beban yang ditanggung bangunan.”

Sigit tidak menyangkal bahwa produk konstruksi yang dikerjakannya ini perlu kajian lebih lanjut, khususnya dampak lingkungan dari material plastik yang digunakan. “Intinya, limbah plastik bisa dimanfaatkan untuk membuat rumah dan semua produk konstruksi. Namun, dari segi lingkungan perlu terus dilakukan kajian. Sementara dari sisi pengambil kebijakan, perlu kelonggaran dalam hal produksi dan pemasaran,” jabarnya.

 

Baca juga: Limbah Plastik Digunakan untuk Aspal Jalan, Ternyata Berisiko. Kenapa?

 

Peneliti ITS lainnya, Freddy Kurniawan mengungkapkan, untuk menekan jumlah sampah plastik yang dibuang sembarangan ada baiknya penggunaan kemasan plastik pada produk makanan dan minuman dikurangi. Selanjutnya, plastik kemasan diganti dengan bioplastik, atau plastik yang terbuat dari bahan pangan nasional, seperti singkong, jagung, dan porang.

“Tim kami telah membuat bioplastik dari bahan baku porang yang dapat digunakan untuk kapsul dan kemasan permen.”

Meski begitu, menurut Freddy, pengembangan biopastik harus diimbangi dengan penyiapan bahan baku agar tidak mengurangi bahan pangan yang ada sekarang. Pemerintah perlu mengembangkan bahan baku bioplastik dengan meningkatkan produk pangan, termasuk memberi insentif pada petani yang mengembangkannya. “Bahan baku harus dipersiapkan karena jumlah yang dibutuhkan pasti menyerap atau mengurangi bahan pangan yang ada,” terangnya.

 

Sigit Tri Wicaksono menunjukkan bahan konstruksi yang dibuat menggunakan limbah plastik. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia

 

Aspal jalan

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah melakukan upaya pengurangan sampah plastik dengan inovasi pembuatan jalan aspal menggunakan campuran limbah plastik.

Tahun 2015 – 2019, pemerintah akan membangun 2.600 kilometer jalan nasional, 1.000 kilometer jalan tol dan pemeliharaan jalan di semua wilayah, dengan kebutuhan aspal mencapai 1,5 juta ton per tahun. Kondisi ini, yang dapat dimanfaatkan dengan penggunaan limbah plastik sedikitnya sekitar 6 persen dari kadar aspal, atau sekitar 0,45 juta ton per tahun untuk konstruksi jalan.

Kepala Balai Perkerasan Puslitbang Jalan dan Jembatan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Nyoman Suaryana mengungkapkan, pemakaian limbah plastik untuk material pembuat jalan telah dilakukan uji coba. Pengerjaannya pada salah satu jalan di kawasan Universitas Udayana, Bali.

“Kondisi yang dilihat dan dikerjakan di Bali, tampak bagus. Sama dengan aspal biasa,” kata Nyoman kepada Mongabay Indonesia.

Nyoman memastikan, jalan aspal dengan campuran limbah plastik tidak kalah kuat dibandingkan jalan aspal murni. Pemakaian plastik, telah digunakan sebelumnya dalam pengerjaan jalan beraspal, yaitu material polimer khusus, sehingga tidak ada masalah.

“Dari sisi kekakuan lebih bagus. Sebenarnya, untuk memperbaiki kekuatan aspal sudah biasa dipakai polimer, tapi polimer yang terkontrol. Misalkan, produk khusus untuk aspal polimer. Plastik ini kan polimer juga, hanya bedanya plastik tidak homogen, ada yang warna merah, putih, hitam. Untuk itu, harus dibatasi pemakaiannya,” terangnya.

 

Monster Tas Kresek bersama aktivis Komunitas Nol Sampah melakukan sosialisasi diet tas kresek atau kantong plastik di salah satu mall di Surabaya. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia

 

Meski tidak sepenuhnya material jalan adalah plastik, Nyoman menegaskan perlu pengaturan komposisi limbah plastik yang digunakan untuk campuran aspal jalan. Limbah plastik yang dijadikan campuran, tentu saja telah dicacah atau dipotong-potong sesuai ukuran yang diperlukan. “Misalkan jalannya satu kilometer, lebar tujuh meter, ketebalan empat sentimeter, akan menyerap dua hingga empat ton limbah plastik.”

Selain di Bali dan Bekasi yang dikerjakan September ini, Kementerian PUPR juga akan membangun jalan memanfaatkan limbah plastik di Cilincing (Jakarta), Gempol-Pasuruan, dan Makassar. “Setelah itu akan dievaluasi, kalau bagus akan di programkan lagi di tahun mendatang,” tandasnya.