Ada Kadal Merah Tak Berkaki dari Hutan Batang Toru? Berikut Video dan Foto-foto Penampakannya…

Kadal merah dari hutan Batang Toru. Foto: Chairunas Adha Putra/Mongabay Indonesia

 

Kabar mengejutkan datang dari hutan Batang Toru, Sumatera Utara (Sumut), Indonesia, setelah sejumlah peneliti dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), berhasil menemukan satwa langka yang belum banyak diketahui. Apakah itu? Satwa ini adalah kadal merah tanpa kaki, atau bahasa ilmiahnya  Dopasia wegneri  (dulu Ophisaurus). Satwa ini ditemukan pertama kali oleh Mistar Kamsi, peneliti YEL bersama tim di bentang Batang Toru.

Kadal merah tak berkaki yang menyerupai ular ini pertama kali publis sekitar puluhan tahun lalu, persisnya 1959, oleh Mertens dalam bahasa Jerman, kala ada temuan di hutan Bukit Tinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Temuan kedua ini, membuat sejumlah peneliti berambisi meneliti lebih lanjut, salah satu peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Mistar juga Wakil Direktur Biodeversity Monitoring Unit, YEL, dan telah meneliti amfibi reptil di Batang Toru sejak 1999. Kepada Mongabay, dia mengatakan, famili kadal tanpa kaki beranggotakan satu marga di Indo-Australia yaitu Dopasia, beranggotakan sekitar delapan jenis, yaitu D.buettikoferi, D. formosensis, D. gracilis, D.hainanensis, D. harti, D. ludovici, D. sokolovi, dan D.wagneri.

Dari kedelapan jenis ini, menurut studi, D.formosensis, dan D. harti, adalah sinonim, dan di Pulau Sumatera terdapat satu jenis serta beberapa peneliti masih meragukan status endemiknya.

Lokasi Harangan Batang Toru, adalah temuan penting kedua sejak publikasi pertama pada 1959 oleh Mertens.

Temuan spektakuler dan bukti hidup kadal merah ini jadi bukti hidup pertama, bahwa satwa langka ada dan hidup di Sumatera bagian utara sesuai temuan pertama pada 2010.

Temuan ini bukanlah usaha mudah, dan perlu proses pencarian panjang selama 170 kilometer berjalan kaki menelusuri hutan serta menemukan kadal merah di perbukitan jauh dari air. Tim terus meriset satwa langka yang masih minim literatur ilmiah ini hingga sekarang.

Menurut Mistar, banyak peneliti mempertanyakan dimana spesimennya. Namun, dia tak mengambil bagian tubuh satwa sangat langka ini, karena khawatir membahayakan mereka.

 

Kadal merah. Foto: Chairunas Adha Putra/Mongabay Indonesia

 

Dia membuat sebuah buku panduan soal amfibi dan reptil yang ada di Batang Toru.  “Kami ingin menyampaikan kalau temuan kadal merah ini harta karun yang harus dijaga dan dihormati,” katanya.

Tujuan mereka menyampaikan ke publik, katanya, agar bermanfaat bagi dunia pendidikan. “Bukan untuk diburu.” Ada kekhawatiran soal mereka kemungkinan perburuan dan perdagangan ilegal hingga enggan publikasi lebih luas.

Menurut Mistar, ciri-ciri kadal merah tanpa kaki ini bersisik halus, kecuali bagian ekor. Warna dorsal didominasi merah menyala, dengan garis biru melintang tak beraturan. Ventral kekuningan, dengan ukuran tubuh jantan mulai dari moncong hingga ventral sekitar 136 mm, dan ukuran ekor 331 mm.

“Kalau kadal merah tanpa kaki yang kita temukan di hutan Batang Toru ini, semua jantan, belum ada temuan betina,” katanya.

Satwa langka ini ditemukan di hutan primer pegunungan dataran rendah. Sejauh ini hanya di dua lokasi, yaitu hutan Bukit Tinggi, Sumbar, seabad lalu, dan hutan Batang Toru, Sumut,  pada 2010.

Dari beberapa foto yang berhasil mereka ambil, kadal ini biasa hidup dalam lubang atau liang.

YEL sendiri, katanya, sudah mendiskusikan dengan dua peneliti, yaitu Joko Iskandar dari ITB dan ada Andre Coh dari Jerman, penulis buku amfibi reptil di Sulawesi.  “Harapannya, ada jurnal ilmiah lebih banyak tentang kadal merah ini.”

 

Kadal merah. Foto: YEL/ Mongabay Indonesia

 

Kadal merah tak berkaki dari Sumut. Foto: Yayasan Ekosistem Lestari/ Mongabay Indonesia

 

Kadal merah dari hutan Batang Toru, Sumut. Foto: YEL/ Mongabay Indonesia