Juq Kehje Sewen, Pulau Buatan untuk Orangutan di Kalimantan Timur

 

Hutan Juq Kehje Sewen yang berarti Pulau Orangutan. Foto: BOSF

 

Sebanyak 10 individu orangutan menjalani proses pra-pelepasliaran di sebuah pulau buatan bernama Juq Kehje Sewen. Artinya, Pulau Orangutan. Uniknya, pulau yang ditumbuhi pepohonan besar ini masuk kawasan perkebunan kelapa sawit PT. Nusaraya Agro Sawit (NAS) seluas 82,84 hektare.

Terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), Juq Kehje Sewen berdekatan dengan Hutan Kehje Sewen yang dikelola PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI). Pulau tersebut dikelilingi sungai sedalam tiga meter yang dipastikan, orangutan tidak dapat keluar dari kawasan itu.

Seluruh orangutan ini sudah lulus sekolah hutan (SH) di Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Samboja Lestari. Mereka adalah, Sakura, Arnold, Derek, Josta, Kikan, Lesli, Louis, Menur, Mouri, dan Totti.

 

Baca: Puluhan Pulau Buatan Disiapkan untuk Orangutan, Tujuannya?

 

CEO BOSF, Jamartin Sihite mengatakan, Juq Kehje Sewen merupakan pulau buatan untuk orangutan terluas di Kaltim. Dipastikan, pulau tersebut menjadi babak baru bagi kehidupan 10 orangutan yang akan belajar bertahan di alam liar. Juga, berkesempatan membentuk keluarga baru.

“Pulau buatan yang ada memang ditujukan untuk proses rehabilitasi orangutan tahap lanjut. Dari SH 1, mereka magang di pulau-pulau kecil yang ada di Samboja. Lalu dari Samboja mereka magang lagi di Juq Kehje Sewen. Setelah itu, mereka siap dilepasliarkan di hutan belantara Kehje Sewen.”

 

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran orangutan di Juq Kehje Sewen. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia

 

Untuk menuju Juq Kehje Sewen, seluruh orangutan ditempatkan di kandang. Mereka dinaikkan mobil bak terbuka yang dikawal polisi hutan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim. Setelah menempuh perjalanan darat lebih dari 12 jam, 10 orangutan tersebut langsung dilepaskan dari kandang untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

“Pepohonan di pulau ini besar-besar, mereka akan belajar mengenali dahan yang kuat untuk bergantung. Setelah keluar dari pulau ini, mereka akan lebih cepat beradaptasi di hutan belantara. Proses ini merupakan terobosan baru BOSF dalam merehabilitasi orangutan yang tak lagi menggunakan kandang,” jelas Jamartin.

Sebelum membentuk pulau buatan, BOSF dan PT. NAS lebih dulu melakukan survei lokasi yang dibutuhkan. Hutan yang dipilih merupakan hutan berkualitas, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, tidak ada populasi orangutan liar, cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi, pakan yang cukup, dan mampu menampung sekitar 40 orangutan.

“Kita tidak boleh terus-terusan bergantung dengan kandang. Kalau dilihat kebutuhan, kami masih butuh beberapa pulau lagi untuk orangutan yang mengantri untuk dilepaskan,” ungkapnya.

Menurut Jamartin, lokasi pra pelepasliaran ini masuk kawasan perkebunan kelapa sawit. Pola kemitraan untuk koservasi orangutan dengan perusahaan kelapa sawit menjadi terobosan baru pelestarian orangutan. Sebab, selama ini perusahaan kelapa sawit dikenal sebagai musuh orangutan.

“Harapan kita adalah sawit tidak hanya sebagai sumber masalah, tapi juga sumber solusi ke depan, agar orangutan selamat. Kita harapkan ini bukan akhir dari persoalan tapi awal bagaimana kita menyelesaikan persoalan,” katanya.

 

Hidup orangutan memang di hutan, habitat alami yang harus dipertahankan. Foto: BOSF

 

Kepala BKSDA Kaltim, Sunandar Trigunajasa mengatakan, Juq Kehje Sewen merupakan solusi di tengah masalah keterbatasan hutan sebagai habitat orangutan yang ada di Kaltim. Ratusan orangutan yang mengantri untuk dilepasliarkan di BOSF Samboja Lestari, akan mendapat jatah pelepasliaran tanpa harus masuk kandang lagi. Ini kabar baik untuk kelestarian orangutan.

“Ini tanggung jawab besar untuk kita. Untuk mewujudkan kelestarian orangutan, tentu kita tidak dapat bekerja sendiri. Harus ada peran dari swasta dan masyarakat. Bentuk kerja sama ini, merupakan pencapaian luar biasa yang menjadi solusi untuk orangutan di Kaltim,” ujarnya.

Sementara itu, pimpinan PT. NAS Angelica, menegaskan pihaknya ingin ikut melestarikan orangutan bersama yayasan konservasi yang bergerak untuk penyelamatan orangutan. Angelica mengatakan 82,84 hektare bisa dimanfaatkan untuk kehidupan orangutan di alam liar. “Orangutan harus dilestarikan. Pulau Juq Kehje Sewen adalah milik orangutan. Bersama BOSF, kami ikut memantau perkembangan orangutan di sana,” tuturnya.

Sebagai informasi, orangutan menjalani proses rehabilitasi hingga mencapai 7 hingga 8 tahun sebelum dilepasliarkan ke hutan, habitat alaminya. Proses rehabilitasi dimulai dari nursery hingga tingkatan kehidupan seperti manusia, yang dirancang agar memiliki keterampilan hidup. Bagian akhir proses panjang ini tentunya membutuhkan pulau alami yang memberikan kesempatan orangutan untuk hidup di habitat aslinya. Saat ini, BOSF merawat lebih dari 600 individu orangutan dengan dukungan 440 karyawan yang berkomitmen untuk melindungi orangutan borneo beserta habitatnya.