Mengintip Pemulihan Hutan Bukit Mas, Seperti Apa?

 

Bukit Mas, Resort Sei Betung, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), sempat kena rambah masyarakat. Wilayah ini, satu jalur dengan Resort Sekoci dan Barak Induk, yang dimasuki masyarakat–warga korban konflik Aceh.

Berdasarkan data Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Bukit Mas menyambung ke Damar Hitam, Skocil, Barak Induk hingga ke Lapangan Tembak, kena rambah sekitar 10.000 hektar.

Pembukaan TNGL di Sekoci dan Barak Induk mendorong warga masuk juga ke Bukit Mas. Beruntung, Bukit Emas berhasil ditangani oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), dibantu tim YOSL-OIC, kemudian restorasi.

Panut Hadisiswoyo, Direktur YOSL–OIC, kepada Mongabay di lokasi restorasi Bukit Mas, mengatakan, area sudah kembali hampir 150 hektar, 50 hektar ditanami tanaman hutan dan semusim yang bisa dikelola warga. Dengan catatan, di sekitar tanaman semusim mereka harus menanam pohon hutan.

Dalam pemulihan Bukit Mas, ada dua sistem pendekatan yaitu restorasi penuh dengan tanam pohon hutan, dan partisipatif—warga yang membuka hutan boleh tanam tanaman semusim seperti semangka, pisang, dan lain-lain selama empat tahun. Setelah itu, tak lagi mengelola tanaman semusim, dan tak ada pengakuan lahan.

Masyarakat, katanya, cukup aktif dan berpartisipasi baik serta konsisten dalam perawatan, maupun penanaman tanaman hutan. Tim OIC terus memantau penanaman di Bukit Mas ini.

“OIC melibatkan masyarakat setempat dalam mengelola dan menjaga TNGL Bukit Mas ini. Kita berharap ada kesadaran lokasi lain agar lahan TNGL bisa direstorasi.”

 

Restorasi partisifatif. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

 

YOSL–OIC sudah merestorasi TNGL setidaknya 1.100 hektar, di Sei Betung, Halaban (500 hektar), Cinta Raja (300 hektar), Bukit Mas (150 hektar), dan Ketambe 200 hektar.

Proses restorasi, katanya, tidaklah mudah. Banyak kendala mulai penanaman hingga konflik fisik dengan warga yang menduduki.

Tim OIC, harus berpikir keras mengembalikan pemulihan tanah. Sebelum restorasi, di beberapa lokasi sempat ditanami sawit.

Hambatan lain, banyak perambah dendam karena lahan diambil untuk restorasi. Mereka membakar pondok persiapan restorasi di Bukit Mas dan Ketambe, lalu bibit disisipi ganja dan tanaman ilegal dengan target mengusir tim restorasi dan menguasai kembali lahan. Bersyukur, semua upaya tak berhasil karena sudah diantisipasi.

“Dengan restorasi, kami pastikan tak ada lagi perluasan perambahan di Bukit Mas,” katanya. Pendudukan lahan di Sekoci dan Barak Induk masih terjadi, bahkan ada dua perusahaan sawit bercokol.

“Kita berharap BBTNGL bisa mengusut dan menyelesaikan ini.”

Misran, Kepala Balai Besar TNGL, mengatakan, operasi pemulihan TNGL terus berjalan. Dia berharap, sepanjang TNGL, Langkat bersih dari perambahan.

Balai, katanya, bikin pemetaan untuk mengetahui permasalahan mengenai perambahan kawasan jadi perkebunan sawit maupun karet.

Dari TNGL di Sumatera Utara, mulai arah Karo hingga perbatasan Sumut-Aceh yaitu Aceh Tamiang, sudah bersih dari perambahan. Tapal batas TNGL 83 kilometer dari Karo hingga Aceh Tamiang.

Upaya penanganan perambahan mulai dari hulu, dan telah restorasi TNGL jadi kebun sawit, seperti Halaban, dan Pantai Buaya. Dengan restorasi dan operasi pemulihan, perambahan sangat berkurang.

Dia bilang, kini perambahan terakomodir hanya di Skoci, Sei Minyak, dan Barak Induk, Kabupaten Langkat, sekitar 10.000 hektar.

“Ini sudah lama, mulai eks pengungsi korban konflik Aceh. Tahun depan diharapkan penanganan khusus menangani masalah di tiga titik itu,” ucap Misran.

Menekan kejahatan kehutanan baik perambahan hingga perburuan satwa dilindungi dalam TNGL, mereka terus meningkatkan patroli (Smart Patrol), hingga ke batas-batas wilayah terluar TNGL.

Jumlah ada 20 tim dengan petugas antara 10-12 orang, termasuk melibatkan mitra TNGL seperti WCS, OIC dan lain-lain.

 

Jeruk, jadi salah satu tanaman restorasi warga di TNGL. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh
, , , , , , , , ,