Energi Arus Laut Indonesia, Potensi yang Belum Terjamah

Kajian arus laut di NTT. Pola aliran arus saat pasang dan saat surut di perairan Selat Boleng. Gambar: KESDM

 

Indonesia memiliki potensi energi arus laut sekitar 41 gigawatt yang dapat menghasilkan daya listrik hingga 240.000 megawatt. Potensi besar ini belum termanfaatkan, baru satu perusahaan Belanda menawarkan investasi tahun ini.

Surya Darma, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mengatakan, selama ini pemanfaatan energi arus laut di Indonesia baru sebatas kajian (feasibility study). Pemanfaatan energi yang mengadopsi teknis pembangkit listrik tenaga angin ini, terkendala teknologi dan investasi besar.

Baca juga: RI-Belanda Kerjasama Bangun Pembangkit Listrik Arus Laut di NTT

Kondisi inilah, katanya, bikin tawaran harga beli listrik dari pembangkit ini lebih mahal dari energi lain.

Seiring waktu, teknologi mampu memangkas biaya produksi hingga hasilkan harga jual listrik kompetitif untuk Indonesia.

“Teknologi lima tahun lalu berbeda dengan sekarang. Sekarang lebih efisien hingga bisa dijual lebih murah,” katanya di sela perhelatan Indo EBTKE Conex 2017, pekan lalu di Jakarta.

Lampu hijau pembangkit listrik arus laut di Indonesia ditandai diterimanya penawaran Tidal Bridge BV, perusahaan Belanda berkongsi dengan Strukton International dan Dutch Expansion Capital.

Kerja sama ini bermula dari kesepakatan ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte April 2016. Saat itu,  kedua pemimpin negara sepakat kerjasama pembangunan Jembatan Pantai Paloh-Tanah Merah (Palmerah) yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara di atas Selat Gonzalo, Larantuka.

Setelah kesepakatan, Tidal Bridge BV uji kelayakan untuk proyek US$200 juta tahap pertama selama dua tahun.

Akhir 2016, Tidal Bridge mendatangi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempresentasikan hasil kajian pertama mereka dan menawarkan tarif dasar listrik US$16 sen per kwh.

Menteri ESDM Ignasius Jonan menilai, harga lebih US$10 sen tak kompetitif untuk industri listrik dalam negeri, seketika menolak perusahaan ini.

“Kalau lebih US$10 sen silakan Anda minum lalu pulang,” katanya dalam acara sama.

Beberapa bulan kemudian, Tidal Bridge kembali dengan hasil kajian kedua. Kali ini, menurut kajian mereka tarif dasar listrik dapat ditekan hingga US$7,16 sen per kwh.

“Saya tidak tawar lagi,” katanya menerima.

Kajian pertama mencatat arus laut di bawah 2,8 meter per detik. Kajian kedua ditemukan arus laut menghasilkan kecepatan empat sampai lima meter per detik. Dengan hasil ini, katanya, PLN bisa membangun pembangkit hingga 20 mw di Nusa Tenggara Timur.

Tahap pertama proyek terdiri dari konstruksi jembatan sepanjang 800 meter dengan pembangkit listrik terintegrasi di bawah dengan kapasitas 18-23 Mw. Pembangkit ini bisa menyuplai listrik lebih 100.000 orang.

Setelah konstruksi pertama selesai, pembangunan lanjut dengan penambahan dan finalisasi pembangkit berkapasitas 90-115 Mw yang bisa termanfaatkan lebih setengah juta orang. Proyek dengan durasi empat tahun ini mencapai nilai kontrak hingga US$550 juta.

Tidal Bridge menyatakan proyek akan berkontribusi terhadap pengembangan wilayah timur Indonesia dan hubungan antara pulau-pulau dengan perbaikan infrastruktur. Selain itu, akan berdampak langsung pada perikanan dan agro budidaya di daerah.

Jembatan yang terkoneksi dengan pembangkit listrik ini akan merangsang pariwisata dan memperbaiki akses terhadap pendidikan dan perawatan kesehatan dalam jangka panjang.

Desain Jembatan Pancasila NTT yang akan dibangun ini bakal dilengkapi turbin-turbin buat listrik tenaga arus laut. Foto: Dinas PU NTT

 

Arus laut jadi listrik

Pengembangan teknologi energi arus laut mengadopsi teknologi energi angin. Dengan mengubah energi kinetik arus laut jadi energi rotasi dan listrik. Daya yang dihasilkan turbin arus laut lebih besar dari turbin angin karena massa air laut hampir 800 kali rapat massa udara.

Beberapa negara sudah pakai teknologi ini antara lain Skotlandia, Swedia, Perancis, Norwegia, Inggris, Irlandia Utara, Australia, Italia, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, menurut Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan KESDM kecepatan arus pasang surut di pantai Indonesia sekitar 1,5 meter per detik kecuali di selat antara Bali, Lombok dan Nusa Tenggara bisa 3,4 meter per detik.

Arus terkuat tercatat di selat antara Pulau Taliabu dan Mangole di Kepulauan Sula, Maluku Utara, kecepatan sampai lima meter per detik dengan durasi dua sampai tiga jam perhari.

Pengembangan arus laut penting sebagai pembangkit listrik karena relatif stabil, periodik dan pola dan karakteristik dapat diprediksi.

KESDM berharap,  pada 2025 energi arus laut dari PLTA laut akan menunjang pencapaian proporsi 5% berbagai energi terbarukan dari sasaran kebijakan energi 25% bauran energi Indonesia.

Dalam Permen ESDM No 50/2017, menggantikan Permen 12/2017, pemerintah mengatur harga beli listrik dari PLTA laut  maksimal 85% dari biaya pokok produksi (BPP) setempat. Seperti pembangkit energi terbarukan lain PLTA laut pakai sistem build, own, operate and transfer (BOOT) di mana setelah masa kontrak habis pembangkit akan dialihkan jadi milik pemerintah.