Kebakaran Lahan Saat Naiknya Status Gunung Agung Jadi Siaga

Gunung Agung, Bali, tampak cukup jelas dengan tutupan awan dari pos pemantauan gunung berapi Rendang, Karangasem, Selasa (19/9). Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Sedikitnya 11 titik api terpantau di lereng Gunung Agung pada Selasa (19/09/2017) siang. Sebelumnya pada Senin malam sekitar pukul 19.30 WITA, warga sekitar lereng mendengar suara lalu lalang mobil pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api yang dengan mudah menyulut ranting dan ilalang kering.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status aktivitas Gunung Agung dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) terhitung mulai Senin malam pukul 21.00 WITA.

PVMBG merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Agung dan wisatawan tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di seluruh area dalam radius 6 km dari kawah puncak atau pada elevasi di atas 950 meter dari permukaan laut. Ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km. Zona ini harus kosong dari aktivitas masyarakat.

(baca : Warga Diminta Tak Beraktivitas Radius 3 Km dari Gunung Agung)

Masyarakat di sekitar Gunung Agung diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan. Tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Agung yang tidak jelas sumbernya.  PVMBG Badan Geologi terus berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang kegiatan Gunung  Agung. Masyarakat diimbau menyiapkan tas yang berisi pakaian, makanan, barang berharga yang akan digunakan untuk mengungsi jika sewaktu-waktu Gunung Agung meletus.

 

Laporan aktivitas vulkanis Gunung Agung Bali. Sumber : PVMBG

 

Rapat koordinasi membahas tentang kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat menghadapi letusan Gunung Agung dipimpin Gubernur Bali Made Mangku Pastika di kantor BPBD Karangasem.

Sejumlah foto sebelumnya beredar di media sosial mengenai adanya hujan abu pada Senin malam. Pada Selasa pagi, Mongabay mengonfirmasi hal ini di pos pemantauan gunung berapi yang berlokasi di Rendang, Karangasem, sekitar 2 jam berkendara dari Kota Denpasar. Petugas pos tidak memantau adanya hujan abu.

Pos inilah yang menjadi salah satu sentra pengamatan utama walau aktivitas gunung juga bisa diidentifikasi di pos pengamatan gunung berapi lainnya. Gunung Agung terlihat dengan cukup jelas karena cuaca cerah berawan.

Warga terus berdatangan ke pos ini untuk ikut melihat langsung dari radius aman, mereka juga tertarik membaca peta dampak letusan dan informasi lainyang tersedia. Banyak yang ingin memastikan apakah desanya termasuk di radius berbahaya jika terjadi erupsi.

Kasbani, Kepala BVMBG yang sedang bertugas di Bali mengatakan gempa vulkanik meningkat drastis dari 14 September saat status waspada yakni 26 kali menjadi 134 pada 17 September kemudian 363 kali keesokan harinya. “Kegempaan meningkat tajam dalam 5 hari terakhir,” katanya. Ini salah satu alasan ditingkatkan statusnya.

 

Sejumlah guru minta penjelasan apakah desanya terdampak jika Gunung Agung erupsi di pos pemantauan gunung berapi Rendang, Karangasem, Selasa (19/9). Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyebut berdasarkan laporan dari PVMBG dan pantuan visual dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, belum terjadi hujan abu. “Gunung Agung belum meletus dan tidak mengeluarkan hujan abu. Kemarin terjadi gempa 2,8 SR kedalaman 10 km dengan pusat gempa di sekitar Gunung Agung. Masyarakat merasakan guncangan gempa dengan intensitas ringan,” katanya.

Analisis dari pantauan satelit Himawari dari BMKG juga menunjukkan bahwa belum terdeteksi adanya hujan abu di sekitar G.Agung. Terdeteksi anomali suhu di kawah akibat aktivitas Gunung Agung. Namun tidak ada hembusan abu dan sebaran abu yang keluar dari kawah.

Hasil analisis satelit Aqua dan Terra dari Lapan awalnya menunjukkan adanya 3 hotspot kebakaran hutan dan lahan di sekitar Kubu Kab Karangasem (sebelah utara-timur laut) kawah Gunung Agung kemudian menjadi 11 titik pada Selasa siang. “Kemungkinan abu dari material lahan yang terbakar ini terbawa oleh angin dan jatuh ke permukaan,” jelas Sutopo.

Jro Mangku Widiarta, Bendesa Adat Besakih, salah satu pemimpin adat di desa yang termasuk radius siaga datang k epos untuk minta penjelasan kondisi terakhir. Ia menyebut wisatawan masih ada yang melancong ke kawasan pura Besakih, pura terbesar di Bali yang berada di lereng Gunung Agung.

“Kami ngayah imbau masyarakat jangan terlalu resah dengan isu yang menyulut, mari bersama sejuk,” katanya. Pihaknya bersama desa-desa adat lainnya di sekitar Gunung Agung akan melaksanakan ritual untuk peneduh bumi, mendinginkan suasana dan berdoa pada 20 September esok. “Semoga tidak terjadi letusan,” katanya.

 

Peta desa terdampak Gunung Agung, Bali. Sumber : BNPB

 

Gunung Agung meletus terakhir 54 tahun lalu pada 1963. Letusan vulkanik membawa material jutaan kubik seperti pasir dan kerikil yang masih ditambang sampai saat ini untuk bahan bangunan. Bahkan pada Selasa masih banyak terlihat truk-truk pengangkut pasir hilir mudik di salah satu jalur penambangan.

Trauma dengan banyaknya korban meninggal saat letusan lalu masih membayangi sejumlah warga. Pada Senin malam setelah status siaga diumumkan dan isu hujan abu, puluhan warga mengungsi ke sejumlah lokasi.

Sekitar 44 orang dari Dusun Lebih, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem mengungsi di 3 lokasi di wilayah Kabupaten Klungkung, kabupaten tetangga Karangasem. Terbanyak di Polres Klungkung sebanyak 35 orang dari 7 KK. Lainnya di rumah kerabatnya.

Kompol Nyoman Suarsika, Kabag Operasional Polres Klungkung yang ditemui di kantornya mengatakan warga takut dan bermalam di sebuah ruangan Polres. “Paginya langsung balik ke rumah masing-masing,” ujarnya. Warga datang dengan kendaraan sendiri.

I Made Selamat, warga yang aktif melaporkan suasana Gunung Agung dan kebakaran lahan dari rumahnya di Tulamben, Kecamatan Kubu ini menyebut pihak keamanan meminta warga tenang. Pihak BPBD mengumumkan saluran penting untuk konfirmasi status dan kondisi Gunung Agung untuk menghindari berita bohong, yakni BPBD Karangasem (0363-22173) dan Pusdalops BPBD Bali (0361-251177) serta website vsi.esdm.go.id.

Data dari website Badan Geologi PVMBG memperlihatkan saat ini sedikitnya ada 20 gunung berapi aktif di Indonesia. Gunung Sinabung dengan status awas (level IV) karena sudah erupsi dengan peningkatan aktivitas sejak Juni. Berikutnya Gunung Agung status siaga (level III), dan 18 gunung lainnya status waspada (level II), di antaranya Dieng, Rinjani, anak Krakatau, Merapi, dan lainnya. Gunung berapi lain status normal (level I).