Mengapa Suksesi Karang di Perairan Barat Sumatera Butuh Waktu Lama?

Skeleton karang mati berukuran sekitar satu meter, bukti karang berukuran besar dan umur ratusan tahun pernah ada di Pulau Laut. Foto: Ofri Johan

Kawasan terumbu karang Pulau Pieh telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan. Pulau yang berada di bagian pulau terluar perairan Padang ini, secara administratif masuk Kabupaten Padang Pariaman.

Terumbu karang di pulau ini pernah mencapai kondisi terbaik disekitar tahun 1995-1996, dimana tutupan karangnya saat itu mencapai 76 persen, yang berarti dalam kondisi sangat baik. Tempat ini pun dikenal dengan kerapunya yang hidup di gua-gua dan ikan napoleon (Chelinus undulatus) yang dulu pernah menjadi raja di kawasan laut ini.

Hal sama terjadi dengan perairan Pulau Laut.

Pulau yang terletak sekitar limabelas mil laut dari muara Padang ini menjadi saksi komunitas karang kompleks yang pernah ada. Namun, saat ini kondisinya amat berbeda jauh dengan tahun 1997. Sejak kematian massal karang, yang ditengarai merupakan dampak pemanasan global, hanya puing-puing yang tersisa yang menandakan hewan-hewan laut tersebut pernah eksis di sini.

Baca juga: Inilah Fenomena Penyakit yang Muncul Sebagai Lanjutan Pemutihan Karang yang Terjadi

Berbagai bukti sejarah mendukung bahwa ditempat ini dulu pernah ditumbuhi jenis terumbu karang berukuran sangat besar berusia ratusan tahun. Skeleton terbesar yang pernah dijumpai di daerah ini berukuran lebih dari satu meter.

Karang-karang ini pun turut mengalami kematian akibat peristiwa bleaching, yang terjadi pada tahun 1997 serta 2010 yang lalu.

Bukti lain yang mendukung pulau ini pernah memiliki biota yang komplek berusia tua adalah penemuan skeleton kima berukuran sekitar satu meter. Skeleton tergeletak diantara karang hidup, masih lengkap dengan kedua belah cangkangnya.

Kima ini terindikasi baru mati beberapa tahun yang lalu. Posisinya berada di permukaan yang  tidak tertimbun pasir. Kima ini dijumpai diantara karang-karang kecil yang baru mulai bertumbuhan di hamparan substrat dasar. Merupakan suatu hal yang teramat langka, kima seukuran ini dapat dijumpai di perairan Sumatera Barat.

 

Cangkang kima berukuran besar (>1 meter) ditemukan di Pulau Laut, bukti hewan ini pernah hidup di daerah ini. Saat ini cangkangnya sudah ditumbuhi oleh karang. Foto: Ofri Johan

 

Masa suksesi yang panjang

Sejak kematian massal karang pada tahun 1997, karang di perairan Padang mengalami suksesi atau masa adaptasi dengan kondisi habitat baru yang panjang.

Beragam survei yang pernah dilakukan di tahun 2001, 2007 dan 2008 hanya menjumpai karang-karang berukuran kecil. Pada survey di tahun 2014, baru terlihat karang yang tumbuh pada semua strata kedalaman yaitu 3 m, 5 m, 10 m dan 15 m.

Apa yang menyebabkan lamanya suksesi jenis karang ini? Penulis berpendapat ada beberapa faktor penyebab berpengaruh.

Pertama, kondisi substrat yang labil. Kematian massal karang menyebabkan banyaknya patahan-patahan karang (rubble) yang tinggi dan panjang di sebuah lokasi.

Pada saat terjadi arus, rubble pun berpindah. Kondisi ini lalu menyebabkan juvenile karang yang sudah menempel disubtrat akan stress dan mudah mati. Akibatnya, karang tidak berhasil hidup dan tumbuh optimal menjadi ukuran besarnya.

Kedua, kematian massal mengakibatkan langkanya indukan, sehingga harus menunggu larva yang datang dari daerah lain. Diperkirakan larva di perairan ini berasal dari Nias yang menurut laporan tidak terdampak parah kematian massal 1997.

Tentu saja dibutuhkan perjalanan panjang dan transit beberapa kali hingga karang mampu tumbuh dewasa dan mengeluarkan larva saat mencapai perairan Padang. Acropora misalnya, memerlukan waktu sekitar dua tahun hingga dewasa untuk siap mengeluarkan larva baru. Sementara itu, untuk jenis karang lain membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Ketiga, kondisi substrat stabil dipengaruhi oleh bantuan alga (coraline algae) yang mengikat antara substrat satu dengan substrat lain. Apabila kondisi ini terus terjadi, maka dengan recruitment larva baru, tingkat keberhasilan hidup karang menjadi lebih tinggi.

Kompetisi ruang tentu akan terjadi. Di fase awal, karang berpertumbuhan cepat akan memenangkan kompetisi ini. Dalam tahap ini, perairan hanya didominasi beberapa jenis karang saja (jenis relatif homogen yang baru pulih dari kematian massal).

Namun sejalan waktu, karang berpertumbuhan lambat akan bertambah ukuran. Sistem kompetisi terjadi. Karang berpertumbuhan lambat mengeluarkan unsur bio-aktif, yang menghambat pertumbuhan karang lain untuk tumbuh dan berkembang.

Sistem persaingan mencari ruang antara jenis karang yang berbeda pun akan menciptakan keseimbangan ekologi dalam tingkat keragaman yang tinggi.

 

Bulu seribu sedang memakan karang. Foto: Ofri Johan.

 

Indikator Karang Masif

Para peneliti umumnya menggunakan indikator karang Porites yang bentuk pertumbuhannya massive (CM) dan dapat mencapai usia ratusan tahun. Sampel karang jenis ini sering digunakan untuk penelitian usia karang, serta perubahan kondisi lingkungan yang terjadi selama ratusan tahun.

Jenis karang Porites di Pulau Laut tidak lagi ditemukan. Demikian juga karang lain dengan pertumbuhan CM, seperti Montastrea, Diploastrea, Goniastrea dan jenis lain yang belum tumbuh kembali sejak kematian massal 1997 dan terakhir 2016.

Dari sekian banyak pulau yang diamati di perairan Padang, masa adaptasi suksesi belum berhenti. Saat ini tidak lagi dapat ditemukan karang hidup berukuran besar yang umurnya berusia ratusan tahun.

Semua karang yang hidup dan tumbuh bisa dipastikan hanya berusia dibawah lima tahunan, berjenis cepat tumbuh dan riskan terhadap perubahan lingkungan. Adapun jenis-jenis karang ini disukai oleh predator seperti Acanthaster plancii atau bulu seribu yang sekarang banyak ditemukan di Pulau Laut.

Bahkan, di pulau tetangga yaitu Pulau Toran dan Pandan kelimpahan bulu seribu-nya tergolong tinggi, yang dapat diklasifikasikan sebagai kondisi outbreak (ledakan populasi) berdasarkan hasil survei Agustus 2017.

Keadaan sebaliknya, malah dapat dijumpai di pulau lainnya.

Di Pulau Pieh, karang Porites sudah mulai tumbuh kembali. Tentu ini cukup menggembirakan, karena dapat mengindikasikan bahwa masa suksesi di perairan ini sudah berakhir. Selanjutnya, yang sedang dinanti adalah munculnya larva-larva jenis karang lain yang mampu menciptakan kestabilan ekosistem dengan tingkat keragaman hayati tinggi.

 

* Dr. Ofri Johan, M.Si. Penulis adalah peneliti pada Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Badan Riset dan Sumberdaya Manusia, KKP. Artikel ini merupakan opini penulis.