Sistem Peringatan Dini Siaga Bencana Gunung Agung Belum Bagus. Kenapa?

 

Warga Desa Nongan, tetangga desa-desa rawan bencana siaga III Gunung Agung menyiapkan bale banjar dan rumah warga secara swadaya untuk pengungsi. Foto: Anton Muhajir/Mongabay Indonesia

 

Bencana alam sulit diprediksi. Salah satu mitigasi bencana adalah dengan memastikan adanya sistem peringatan dini (early warning system) jika Gunung Agung, Bali, erupsi.

Evakuasi warga, iring-iringan pengungsi membuat Kota Amlapura, ibukota Kabupaten Karangasem, lokasi Gunung Agung ini macet, Jumat (22/9/2017) malam. Kendaraan pribadi dan truk mengangkut pengungsi menuju lokasi aman. Pasca peningkatan status dari siaga jadi awas, radius 9-12 km dari kawah diminta steril.

Hingga Sabtu (23/9) kota Amlapura terlihat lengang. Toko, supermarket, dan sekolah tutup. Kota ini di luar radius 9 km namun terdampak lahar dingin dan debu vulkanik saat erupsi 1963.

(baca : Gunung Agung Status Awas, Radius Evakuasi Jadi 9-12 km)

Salah satu rombongan dipimpin Ketut Agus Dwi Adnyana, 25 tahun, Kelian (kepala banjar) Dusun Bukit Paon, Desa Bhuana Giri, Bebandem. Salah satu desa di lingkaran terdekat kawah selain Sebudi, Jungutan, dan Dukuh. Jumat sore ia sudah turun dari kampung yang berada sekitar 6 km dari kawah. Situasi jalanan terutama di persimpangan sekitar kota Amlapura macet. Suasana makin mencekam.

Untungnya saat situasi makin ramai, rombongan dusun ini sekitar 128 orang sudah berhasil tiba di pos pengungsian Desa Nyuhtebel. “Kami nyasar dulu, diarahkan ke lapangan Nyuhtebel, bingung nyari,” urai pria muda ini ditemui di lokasi mengungsi Sabtu (23/9).

Tidak ada lokasi bernama lapangan Nyuhtebel. Pos pengungsian ternyata ada di balai-balai banjar di Desa Nyuhtebel. Jadilah mereka menuju salah satu banjar. Dusun lain dari desa yang sama juga menyebar di banjar-banjar sekitarnya. Mereka mengelompok per dusun di tempat yang sama, kecuali kapasitas tak cukup.

 

Kota Amlapura, ibukota Karangasem, Bali, terlihat lengang pada Sabtu (23/9) ditinggal warganya mengungsi setelah status Gunung Agung menjadi awas pada Jumat (22/9) malam. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

 

Dwi menyebut jumlah warganya Dusun Bukit Paon 518 orang. Namun sebagian lagi memilih mengungsi mandiri ke rumah kerabat di lokasi lebih aman. “Masih ada yang di kampung, mungkin 10 orang, jaga-jaga atau mungkin jaga ternak,” lanjutnya.

Kepala Desa Nyuhtebel Ketut Mudra yang siaga melayani pengungsi menyebut benar ada kesalahan penyebutan tempat pengungsian. Di desanya tidak ada lapangan.

Jadilah balai-balai banjar desa Nyuhtebel jadi tempat pengungsian. “Perlu ada SOP (prosedur standar) distribusi logistik dari pos induk,” kata Mudra. Menurutnya menyulitkan jika kepala desa yang harus mengambil bantuan di pos induk. Di awal kedatangan pengungsi, Mudra diminta menalangi pembelian logistik dahulu seperti beras. Untungnya, ada sejumlah donatur yang menyumbang bahan makanan dan minuman.

Merujuk data, Nyuhtebel dipersiapkan menjadi semacam sister village dari pengungsi Desa Bhuana Giri, Bebandem. Dari desa ini ada 15 dusun dengan sekitar 8040 jiwa yang dialokaskan di balai-balai banjar kawasan Nyuhtebel, Sengkidu, dan Tenganan Pegringsingan.

Cerita perjalanan evakuasi ini memberi catatan, lokasi pengungsi harus jelas dan detail agar tidak menghabiskan waktu di jalan dan menimbulkan kepanikan. Juga ketersediaan logistik sebelum pengungsi tiba. Sementara soal informasi, mereka mengaku terbantu dengan informasi lewat ponsel dari petugas mengenai instruksi evakuasi dan status Gunung Agung.

(baca : Kebakaran Lahan Saat Naiknya Status Gunung Agung Jadi Siaga)

Nah bagaimana dengan warga yang masih bolak balik pos pengungsi-dusun tempat tinggal selama periode pengungsian ini? Ni Komang Ari, perempuan dengan satu anak yang mengungsi di pos terkoordinir pemerintah, GOR Swecapura, Kabupaten Klungkung mengatakan para lelaki dan yang memiliki kendaraan masih menengok rumah. “Malam baru di sini,” katanya.

 

Kondisi pengungsi di salah satu pos pengungsian utama di pusat kota Semarapura, Kabupaten Klungkung, Bali pasca status awas Gunung Agung pada Jumat (22/9) malam. Foto: Luh De Suriyani

 

Apa peringatan dini yang bisa segera diketahui mereka yang sedang dalam radius kawasan rawan bencana (KRB) jika Gunung Agung erupsi?

Hal ini jadi salah satu pembahasan dalam rapat koordinasi penanganan di kantor Bupati Karangasem, Sabtu (23/9) sore. Hadir Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei, perwakilan sejumlah kementerian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), instansi pemerintah daerah Bali, dan lainnya.

“Kita harus siap menghadapi yang terburuk. Agar mobilisasi sumber daya lebih mudah,” kata Willem. Misalnya early warning system jika akan erupsi, harus siap 24 jam sehari. Ia menanyakan apakah sudah ada radio komunikasi.

Peringatan disebarkan ke masyarakat. “Bagaimana sosialisasi? Apa dan siapa yang lakukan?
Sistem alarm, bagaimana? Kita akan lengkapi loudspeaker, lampu penerangan, jalur evakuasi bencana, tolong cek apa sudah dipasang?” Willem memastikan.

Warga dalam KRB sudah harus meninggalkan tempat. Perlu penyisiran warga yang masih berada di radius evakuasi.

Sistem peringatan dini dinilai penting karena jika erupsi, Gunung Agung sifatnya eksplosif. Kepala PVMBG Kasbani memaparkan jangkauan awan panas sampai 400-600 derajat sampai sekitar 14 km ke arah Utara. Potensi awan panas dari kasus erupsi 1963, jelajahnya 12-14 km. Sementara semburan abu tergantung arah angin.

Ada ancaman sekunder seperti lahar dingin yang mengikuti alur sungai terbawa hujan, ini timbul belakangan setelah erupsi terjadi.

“Sejak 1963 detak jantung Gunung Agung sebulan bisa dihitung jari. Sejak Agustus mulai 2-3. September puluhan dan meningkat konsisten,” jelas Kasbani. Akhirnya pada 14 September ditetapkan sebagai level II (waspada) lalu level III (siaga) pada 18 September, dan dengan cepat jadi level tertinggi, IV (awas) pada 22 September.

Dalam level awas, rekomendasinya adalah radius 9 km melingkar dari kawah. Secara sektoral diperluas menjadi 12 km.

Desakan material di bawah gunung mulai bergejolak, dalam perutnya ada dapur magma. “Mengeluarkan gas, tiba-tiba ‘muntah’ sedikit,” Kasbani mengilustrasikan. Karena itu dalam level ini sudah ditentukan jarak evakuasi agar tak kena manusia.

Radius bisa diperluas terutama awan panas setelah pengamatan pasca erupsi. “Harus dikosongkan, teknisnya oleh BNPB dan Pemkab,” urainya.

( baca : Warga Diminta Tak Beraktivitas Radius 3 Km dari Gunung Agung)

 

Data kondisi Gunung Agung, Bali dan pengungsi sampai Sabtu (23/09/2017) pukul 18.00 WITA. Sumber : BNPB

 

Dandim 1623 Karangasem Letkol Infantri Fierman Sjafirial kini jadi Komandan Satgas Siaga Tanggap Darurat Erupsi Gunung Agung. Ia mengatakan sudah menyiapkan sistem peringatan dini namun perlu diujicoba.

“Sudah kita siapkan early warning system. (Aparat) dari desa ada Babinsa sampai camat. Kami sudah kumpulkan pihak desa, untuk penjelasan zona dan mulai evakuasi,” katanya. Fungsi Babinsa mendata dan membantu sosialisasi.

Sejumlah kasus evakuasi bermasalah karena menurutnya ada yang menentukan titik pengungsian sendiri. Komunikasi juga belum efektif. Masyarakat saat siang naik untuk melihat ternak. Ini berisiko saat erupsi terjadi.

Untuk radio komunikasi, yang bisa menyentuh desa belum ada. “Bisa Orari, tapi satu desa harus satu. Tiap instansi punya radio tapi tak terintegrasi. Kami sudah minta Kominfo radio ini harus saling sambung,” jelasnya.

Willem meminta jika pakai sirine atau kentongan yang bunyinya dimengerti, misal harus kembali ke titik pengungsian. Medium tradisional masih penting. Ia menyontohkan bencana di Fukushima di Jepang, banyak yang meninggal karena peringatan lewat tv sementara listrik padam. “Jangan sampai terjadi di sini. Sekitar 35% selamat karena kapasitas individu, 32% keluarga, dan lainnya,” katanya soal statistik kebencanaan.

Peringatan dini juga diharap jangan sampai membuat panik dan kecelakaan di jalan. Peristiwa kepanikan pada Jumat malam saat status jadi awas menjadi contoh. Sejumlah pihak melaporkan tak hanya warga, petugas rumah sakit juga ada yang pergi karena panik.

Pemerintah melaporkan, hingga 23 September pukul 18.00 WITA, jumlah pengungsi sekitar 17.551 jiwa di 139 titik 22 kecamatan dan seluruh kabupaten/kota di Bali. Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi seperti gempa vulkanik dangkal, dalam, dan gempa tektonik berpusat di Karangasem.