Begini Pesan Konservasi dari Lereng Timur Gunung Slamet

Ratusan warga Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) pada Kamis (21/9) antri mengambil air di mata air Sikopyah yang dimasukkan ke 777 lodhong. Tradisi tahunan pengambilan air Sikopyah, tiga tahun terakhir masuk dalam agenda budaya Festival Gunung Slamet (FGS) Pemkab Purbalingga. Foto : L Darmawan

 

Langkah Tarpiah (54) agak pelan saat mendaki perbukitan di lereng timur Gunung Slamet yang masuk wilayah Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) pada Kamis (21/9) lalu.

Sejak pagi, bersama dengan ribuan warga desa setempat, mereka telah berkumpul di salah satu masjid di desa setempat. Kemudian mereka bergerak menyusuri jalan setapak yang cukup menanjak menuju ke mata air Sikopyah.

Tarpiah bersama ribuan warga lainnya tengah mengikuti prosesi pengambilan air Sikopyah yang dihelat setahun sekali. Warga baik laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian adat berjalan naik bukit sejauh 2,5 kilometer. Di sepanjang perjalanan, tidak ada canda maupun tawa. Semuanya hening.

Sesampai di lokasi mata air Sikopyah, tetua ada mulai memanjatkan doa sebelum pengambilan air dimulai. Suasana begitu syahdu, ketika warga melantunkan salawat berbarengan dengan pengambilan air di mata air yang berada di tengah rimbunan pepohonan besar.

Satu per satu lodhong atau bambu sepanjang dua meter diisi air yang berasal dari mata air Sikopyah itu. Airnya jernih dan tetap mengalir meski saat sekarang merupakan puncak kemarau.

Satu per satu lodhong diberi air untuk dibawa turun kembali ke desa. Ada 777 lodhong yang dibawa oleh warga baik baik laki-laki dan perempuan. Pada saat perjalanan turun, mereka berbaris satu per satu dan diselang-seling, laki-laki kemudian perempuan dan seterusnya.

 

Sesepuh Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah mengambil air di lokasi mata air Sikopyah. Foto : L Darmawan

 

Setelah melewati hutan perbukitan dan ladang sayuran milik penduduk, mereka berhenti di jalan desa. Perjalanan ke desa didahului tetua adat dan kepala desa, kemudian diikuti pembawa gunungan nasi beserta lauk-pauk. Di belakangnya adalah pembawa lodhong, bagian kanan laki-laki dan kiri perempuan.

Sesampai di halaman Balai Desa Serang, bambu-bambu yang terisi air tersebut dikumpulkan untuk disemayamkan. “Perjalanan cukup jauh, ya lumayan lelah. Tetapi ini adalah ritual yang harus dijalani warga di sini. Membawa air dari Tuk (mata air) Sikopyah. Jadi ya harus dijalani,” tutur Tarpiah.

Sesepuh Desa Serang Samsuri mengungkapkan bahwa air yang masuk dalam lodhong tersebut disemayamkan sebagai simbol agar pelestarian air terus dilakukan. “Air disimpan mengandung makna melindungi. Baru setelah dua hari atau pada Sabtu (23/9), air tersebut dibagi-bagian kepada warga. Air dari Tuk Sikopyah dipercaya dapat menyuburkan areal pertanian milik warga. Air dari mata air tersebut juga dipercaya membuat awet muda,” ujarnya.

Setelah dua hari disemayamkan, digelar prosesi pembagian air kepada seluruh warga Desa Serang. Sebanyak 777 lodhong yang disemayamkan itu diarak menuju Kawasan Lembah Asri Serang untuk dilakukan ruwatan dan dibagikan kepada warga serta pengunjung.

Kepala Desa Serang Sugito mengatakan prosesi pengambilan air Sikopyah telah menjadi tradisi sejak lama. Namun, dalam tiga tahun terakhir masuk dalam agenda budaya Festival Gunung Slamet (FGS).

“Upaya ini tidak lain adalah untuk kampanye penyadaran secara massif kepada warga mempunyai rasa memiliki. Apalagi, mata air Sikopyah tersebut keberadaannya sangat vital bagi warga. Karena tidak hanya mencukupi kebutuhan air bersih melainkan juga irigasi lahan pertanian milik warga. Ada sejumlah desa yang memanfaatkan air dari Sikopyah selain Serang, yakni Desa Kutabawa, Siwatak dan satu desa di Kabupaten Pemalang yakni Desa Gombong dengan jumlah total warga penerima manfaat sebanyak 10 ribu orang,”kata Sugito.

 

Warga Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jateng membawa bambu berisi air dari mata air Sikopyah menuju balai desa. Foto : L Darmawan

 

Gerakan Peduli Lingkungan

Sugito menambahkan kalau sebetulnya prosesi pengambilan dari dari “Tuk” Sikopyah itu hanya merupakan sebagian dari gerakan konservasi atau peduli lingkungan. “Secara aturan, kami juga telah menerbitkan peraturan desa (Perdes). Dalam Perdes tersebut mewajibkan seluruh komponen warga untuk menjaga kelestarian lingkungan di antaranya tidak menebang pohon sembarangan. Misalnya, kalau ada aksi penebangan pepohonan di sekitar mata air Sikopyah, maka akan diberi sanksi berupa denda Rp5 juta. Sebab, kalau tidak demikian dan terjadi penebangan pepohonan di sekitar Sikopyah, maka akan berdampak buruk bagi mata air tersebut,” tegas Kades.

Dalam kaitan FGS 2017, juga diselenggarakan penghijauan untuk wilayah-wilayah yang masih kosong dengan pohon suren (Tonna sureni merr). “Pohon suren merupakan salah satu pohon keras yang diminati oleh warga Serang. Sehingga saya yakin, nantinya warga akan merawat pohon suren tersebut,” tambahnya.

Bupati Purbalingga Tasdi mengatakan bahwa upaya pelestarian lingkungan memang menjadi salah satu fokus pemerintahannya. “Kita bisa lihat, kalau gelaran FGS 2017 merupakan kegiatan yang menggerakkan masyarakat agar peduli terhadap lingkungan. Salah satunya adalah dengan mengajak peran serta seluruh masyarakat mulai anak-anak muda sampai orang tua turut serta dalam prosesi pengambilan air Sikopyah. Inilah upaya mengajak mereka berperan dalam melestarikan lingkungan untuk masa depan. Konsep pembangunan Purbalingga adalah membangun hari ini untuk menyelamatkan masa depan,” ujarnya.

Bupati juga mengatakan kalau kegiatan lainnya dalam FGS adalah melakukan penanaman 35 ribu pohon suren di lima desa. “Memang di wilayah lereng timur Gunung Slamet dikembangkan desa wisata, tetapi basisnya adalah wisata alam. Sehingga setiap tahunnya, kami juga terus menggalakkan penanaman pohon keras, termasuk dalam FGS 2017, ada penanaman 35 ribu pohon suren,” kata Tasdi.

Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengapresiasi upaya Pemkab Purbalingga yang terus mendorong gerakan peduli lingkungan. “Sebagai bentuk apresiasi kepada Purbalingga, kami membantu sebanyak 267 ribu bibit pohon,” kata Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung KLHK Hilman Nugroho.

Menurutnya, KLHK menyediakan bibit-bibit pohon secara gratis sebanyak 1-2 juta bibit yang disiapkan untuk masing-masing provinsi di Indonesia. “Khusus untuk Purbalingga, disiapkan 267 ribu bibit pohon yang terdiri dari 35 bibit pohon suren, kemudian 27,5 ribu bibit buah-buahan, 100 ribu pohon keras seperti pinus, jati, mahoni dan lainnya,” katanya.

Dia berharap agar wilayah lereng lereng dan perbukitan di Purbalingga tidak senasib seperti Dieng yang gundul. Oleh karena itu, dalam satu hektare (ha) lahan, ditanami 100 pohon tahunan. Di Purbalingga, ada sekitar 16-17 ribu ha lahan kritis, sehingga perlu diwaspadai. “Sebab, kalau hujan turun maka dapat berakibat erosi dan menjadi sumber sedimentasi pada sungai. Olah karena itu, perlu ada penanganan secepatnya,”kata Hilman.