Kala Darah Naga Jadikan Pembalak Liar Pelestari Hutan Bukit Betabuh (Bagian 2)

 

 

Setelah 1,5 jam melewati kebun sawit plasma PT Tri Bakti Sarimas, kami lalu menyusuri hulu Sungai Putat. Air jernih dan dangkal, dasar sungai bisa terlihat. Tak lama, saya bersama dua warga Desa Air Buluh, tiba di pondok Kelompok Tani Hutan (KTH) Bukik Ijau, akhir Agustus lalu. Kami tiba menjelang senja di pondok yang berdiri tepat di kawasan inti Hutan Lindung Bukit Betabuh ini.

Malam itu, kami berbincang tentang program pembibitan jernang.  Sekitar pukul 20.00, tiba-tiba terdengar bunyi mesin kendaraan. Suara makin malam makin kencang dan ramai. Bukan saja suara kendaraan, terdengar juga suara mesin sinsaw. Para pembalak liar beraksi.

Pembibitan dan penanaman 2.500 jernang di zona inti awal Agustus, kini terancam pembalakan liar.

“Susah (diberantas). Sekarang aja dah di mana-mana, ada semua. Kalau ndak percaya besok pagi sekitar pukul 10.00 dengar aja mobil dari sana itu. Sinsaw sudah bunyi semua di  sekitar lokasi yang kita bikin ini,” kata Sunarto, anggota Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau.

Hutan Lindung Bukit Betabuh seluas 44.000 hektar. Kawasan ini habitat penting satwa dilindungi terancam punah seperti harimau Sumatera dan gajah Sumatera. Selain itu, ada trenggiling, kucing hutan, landak, tapir, beruang madu dan lain-lain. Beragam jenis burung juga ada seperti punai, kuau, ayam hutan, murai batu, elang dan rangkong serta gagak.

Kekayaan flora seperti kayu-kayu bernilai tinggi juga tumbuh , seperti  meranti, kempas, punak, mersawa, bentangur, durian dan keruing. Sejak beberapa tahun terakhir, penghancuran Hutan Lindung Bukit Betabuh berlangsung, tak saja karena tekanan sawit ilegal skala kecil dan besar, juga pembalakan liar.

Pagi harinya, saya berangkat ke lokasi illegal logging di zona inti Bukit Betabuh. Kami berangkat berlima. Setelah satu jam menyusuri hulu Sungai Putat, raungan mesin-mesin penghancur hutan terdengar lebih nyaring.

Jalan logging dibangun para pembalak liar dari Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, selebar lima meter dan masuk sekitar tiga kilometer ke zona inti mulai perbatasan di Desa Timpeh, Sawahlunto.

 

Pondok KTH Bukik Ijau, Air Buluh di zona inti HL Bukit Betabuh, Kuantan Singingi, Riau, akhir Agustus 2017. Sebagian besar anggota kelompok petani hutan ini adalah pembalak liar yang kini beralih menjadi penjaga hutan dengan menanam jernang. Foto: Zamzami/ Mongabay Indonesia

 

KPH Lindung Kuantan Singingi Selatan juga mengawasi Hutan Lindung Bukit Betabuh pernah mengusir pembalak itu beberapa pekan sebelum ini. Bahkan eskavator milik pembalak diperintahkan menggali badan jalan sedalam dua meter untuk memutus akses ke dalam.

Saat saya ke lokasi di jalan itu, ternyata sudah ada jembatan. Dua balok kayu besar diletakkan menjembatani dua sisi lubang. Di bagian jalan zona inti pun terdapat jejak kendaraan.

Sunarto, Firman, Rusdi dan Ded, anggota KTH Bukik Ijau geram melihat jalan sudah diputus kembali tersambung. Mereka langsung memalang jalan dengan kayu dan menanam dua bibit jernang tepat di tengah jalan. Dua bibit jernang itu baru diambil dari hutan. Mereka juga mencat kayu yang masih tergeletak di pinggir jalan dengan tulisan “dilarang merusak hutan” dan “KTH Bukik Ijau”.

Pas pemerintah operasi, ada efek sedikit. Cuma berhenti sebentar. Sudah itu masuk lagi tapi ndak sama alat (berat). Jadi orang itu sinsaw kayu jadi pecahan ditarik pakai Honda (motor). Dulu, bawa gelondongan sekarang bawa pecahan. Banyak akalnya,” kata Sunarto.

Sunarto dulu adalah pelaku pembalak liar di Hutan Lindung Bukit Betabuh. Sejak 2001 berhenti. Dia memilih berkebun karet. Dulu saat penebangan hutan marak, sedikitnya 50 sawmill  berjejer di sepanjang lintas Lubuk Jambi dan Air Buluh. Sekarang sawmill itu masih ada dan aktif terutama di Kasang dan Lubuk Jambi.

Dia sadar, membalak kayu tidak membuat kaya. Sebaliknya, ada utang berserak di setiap sawmill. Setiap kali ke hutan, dia dan anggota pinjam uang antara ratusan ribu hingga Rp2 juta. Uang itu untuk beli minyak, beras dan makanan selama seminggu di hutan juga membiayai keluarga di desa.

“Ini kalau dijalankan terus-terusan ndak bikin kaya. Yang ada malah utang.”

Firman, di usia sekolah telah bekerja mengangkut kayu-kayu balak yang dialirkan lewat sungai ke truk. Dia lakoni selama 1,5 tahun, dengan memindahkan kayu-kayu berdiameter 70 sentimeter untuk bawa ke sawmill. Dia dapat Rp300.000 dibagi enam orang anggota. “Kadang-kadang ada tiap hari,” katanya.

Ayah satu anak ini kini lebih memilih kerja motong karet atau menjadi sopir carteran. “Motong karet di kebun orangtua setengah hektar. Per minggu Rp200.000-300.000. Cukuplah untuk makan anak istri,” katanya.

 

Anggota KTH Bukik Ijau saat patroli di kawasan inti HL Bukit Betabuh, Kuantan Singingi, Riau akhir Agustus lalu. jalan yang pernah diputus buat menghambat perambah malah sudah terpasang jembatan. Foto: Zamzami/ Mongabay Indonesia

 

Firman dan Sunarto, sudah tak menebang kayu. Mereka justru aktif melestarikan Hutan Lindung Bukit Betabuh yang dulu pernah hancur. Mereka bergabung dalam KTH Bukik Ijau. Kelompok tani hutan ini menanam jernang (Daemonorops draco). Ia jauh lebih masuk akal dan menentramkan hati mereka.

“Lebih asikan sekarang, bikin ladang karet. Kalau dulu merusak, sekarang ndak. Ingat anak-anak, cucu kita besok. Besok-besok ini ndak ada lagi hutan,” kata Sunarto.

Mengapa jernang? Menurut Firman, Hutan Lindung Bukit Betabuh adalah habitat jernang, terlebih harga jual tinggi. Harapannya, bisa menambah pendapatan keluarga.

Jernang adalah sejenis resin berwarna merah dari tumbuhan rotan atau biasa juga dikenal darah naga. Di tangan pengumpul atau toke, getah jernang kini dihargai hampir Rp5 juta per kilogram. Harga cangkang yang sudah diambil getah Rp50.000 per kilogram. Jika cangkang digiling, harga jauh lebih mahal Rp1,1 juta per kilogram.

Kini jernang makin langka. Bukan saja karena tutupan hutan hilang dampak pembalakan liar dan perkebunan sawit, juga persaingan para pencari jernang dari provinsi tetangga, Sumatera Barat.

“Dulu, itu satu kg pernah dapat satu minggu. Kalau sekarang sudah susah dapat sekilogram . Satu ons pun dah susah satu hari. Karena dah banyak mati di hutan itu karena banyak cari kayu. Orang ambil kayu kan asal tumbang, kena jernang dah susah tumbuh. Kalau cari harus lebih luas lagi,” ucap Firman.

Hendri Yanto, Ketua KTH Bukik Ijau mengatakan, anggota mereka 33 orang. Delapan perempuan, termasuk istrinya sendiri. Sejak dulu, mata pencarian Hendri cari getah jernang. Kini,  dia bersama warga Air Buluh sepakat membentuk kelompok KTH pada paruh kedua 2016.

“Kami bentuk kelompok supaya kelompok ini bisa mencegah illegal logging yang mau masuk,” katanya.

Sejak memulai pembibitan jernang di hutan seluas 25 hektar, petani hutan ini membentuk tim patroli. Tim inilah yang akan mengawasi perkembangan pembibitan dan penanaman . Tim juga yang akan menyisip bibit baru jika ada yang mati. Dana operasiona dari sumbangan anggota. Tim ini juga akan melaporkan setiap penghancuran hutan kepada pemerintah (KPHL).

Perkembangan kelompok Bukik Ijau cukup maju membuat iri warga lain. Dulu, Hendri dan anggota kelompok sempat dicemooh warga lantaran membibit rotan jernang. Sekarang, justru ada dua atau tiga kelompok tani hutan lagi yang ingin dibentuk.

Dia berharap,  pemerintah membantu masyarakat yang sudah berkomitmen menjaga hutan lindung ini dengan menyediakan mesin penggiling cangkang jernang. Dengan penambahan kelompok petani hutan, katanya,  bisa jadikan desanya sebagai sentral jernang di Riau.

Sejauh ini,  bantuan datang dari LSM HutanRiau dan KPH Lindung Kuantan Singingi Selatan.

“Rencana dibentuk dua atau tiga kelompok lagi. Kelompok ingin punya mesin giling. Kita berharap pemerintah juga membantu kami yang menjaga hutan ini,” ucap Hendry.

Para petani hutan Air Buluh seperti diburu waktu. Perluasan penanaman bibit jernang sangat perlu di tengah pembalak liar terus menggerogoti kawasan inti Bukit Betabuh hingga kini.

Harapan memperbaiki ekonomi dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu dari Bukit Betabuh bisa saja mentok jika mesin-mesin gergaji para penebang kayu lebih cepat mendekati kawasan pembibitan mereka. Jernang sendiri hidup di bawah kanopi hutan. Pertumbuhannya sangat bergantung kelestarian hutan alam.

Perambahan masif ini telah diketahui Bupati Kuantan Singingi Mursini. Info ini sudah dilaporkan ke Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup Wilayah II Sumatera. Raungan itu tetap menderu-deru mengusik ketentraman hutan Sumatera dan membuat para petani hutan Air Buluh, was-was. Habis

 

Buah jernang (Daemonorops draco) di HL Bukit Betabuh, Kuantan Singingi, Riau, akhir Agustus 2017. Foto: Zamzami/ Mongabay Indonesia
Anggota KTH Bukik Ijau saat patroli di kawasan inti HL Bukit Betabuh, Kuantan Singingi, Riau akhir Agustus lalu. Mereka khawatir karena masih banyak yang mau menjarah hutan. Foto: Zamzami/ Mongabay Indonesia