Batik Jambi Gambarkan Ragam Hayati dari Sentral Sumatera

Kain khas Jambi dengan motif beragam hayati lokal. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia

 

Nurlaini, Kasi Pengelolaan Koleksi di Museum Siginjai, di Kota Jambi, lumayan lama mempelajari batik Jambi. Dia juga menulis beberapa buku soal tengkuluk atau kuluk—kain penutup kepala perempuan—Jambi.

Flora fauna, katanya,  menjadi motif utama batik kuno Jambi ini. Mengapa? “Seni batik Jambi dipengaruhi budaya India,” katanya.

Gujarat terkenal dengan kain tenun bermotif angsa atau disebut ‘hamsa’, motif kuno dalam kesenian India. Batik Jambi juga dominan dengan warna merah dan biru gelap, sama persis dengan motif Patola.

“Moti-motif lama itu ada bunga tapuk manggis, duren pecah, bunga tanjung, bunga duren, daun pinang, kepak lepas, merak ngeram, burung kuau, macam-macam,” katanya. Ada juga bunga kangkung, cengkih, dan lain-lain.

Tema batik di Kabupaten Tebo dan Muara Bungo, banyak menggambarkan ragam satwa endemik seperti burung kuau (Argusianus argus) dan merak. Sementara daerah pinggiran sungai, seperti Sarolangun lebih dominan motif tumbuhan, seperti daun pakis dan pucuk rebung.

“Semua di alam sekitar menjadi motif batik di Jambi. Kalau di Padang ada Alam Takambang jadi guru, di Jambi gitu juga.”

Belakangan, motif batik Sarolangun kian beragam, ada seluang (Rasbora-boraptensis), kantong semar (Nepenthes edwardsiana) gunung kembang dan bukit bulan.

Sekitar abad 18 budaya Jawa mulai masuk ke Jambi, mempengaruhi adat budaya terutama di wilayah pesisir pantai seperti Kuala Tungkal, dan daerah pinggiran sungai: Sarolangun dan Muara Bungo.

Namun budaya Jawa tak mengubah motif batik Jambi. Sejak masuk ajaran Islam, motif hewan mulai ditinggalkan, batik Jambi cenderung menggambarkan dedaunan dan bunga.

Selain pengaruh Hindu dan Buddha, batik Jambi juga terpengaruh Tionghoa, terbukti di sentra batik di Seberang Kota Jambi ada burung hong atau fenghuang, di Mesir dikenal sebagai phoenix.

Era 90’an, motif batik Jambi mulai berkembang. Ada motif Sungai Batanghari, daun keladi, bunga kopi  dan motif angso duo yang menjadi ikon Jambi kini.

Nurlaini, mengatakan, batik Jambi punya 46 lebih motif, dan lebih dari 30 menggambarkan ragam hayati. “Masih banyak yang belum terungkap,” katanya.

Keunikan lain dari seni batik Jambi terletak pada kesederhanaan bentuk motif dan pewarnaan khas. Motif batik Jambi tidak berangkai atau ceplok-ceplok.
Pewarna alami

Tangan Nafisah begitu lentur menuangkan malam panas dari canting, mengikuti setiap detail gambar yang tercetak pada kain putih sepanjang hampir dua depa. Dia betah duduk berjam-jam, menutupi  sebagian gambar dengan lilin panas, sebelum akhirnya dicelupkan dalam air pewara.

Lima belas tahun membatik membuat dia begitu terlatih. Batik dua puti, milik Nafisah menjadi satu sentra batik di Sebrang Kota Jambi,  yang terkenal dengan batik tulis dan warna alami.

Ragam hayati tak hanya menjadi obyek lukisan, tetapi sumber warna untuk menciptakan beda di setiap gambar seni batik. Beberapa jenis dedaunan dan kayu menjadi bahan utama pewarna alam.

Kayu secang, biasa untuk membuat warna kuning kemerahan. Kayu lambato untuk warna kuning, dan kayu ramelang untuk merah kecoklatan. Masyarakat juga menggunakan kayu nilo dan daun indigo untuk menciptakan warna biru.

Nafisah memanfaatkan tanaman di sekitar rumah untuk pewarnaan batik.  Dia pakai air dari kulit jengkol untuk membuat warna coklat.

Untuk warna coklat tua, dia menggunakan air rendaman kayu bulian. “Kalau dicelup berulang-ulang warnonyo jadi merah,” katanya.

Akar mengkudu, kayu rengas juga bisa untuk menciptakan warna merah tua. “Paling bagus itu jernang.”

Dia juga pakai duan inai yang umum dipakai para pengantin untuk mewarnai tangan dan kuku mereka menjadi merah. Pada kain batik warna menjadi coklat muda. Warna coklat juga bisa dari buah pinang yang direbus.

Warna kuning bisa dibuat dari kayu nangka. “Kalau warna ijo, sayo pakek daun mangga, atau daun pokat. Kalau daun mangga ijonyo lebih mudo,” ucap Nafisah.

Warna hijau juga bisa didapatkan dari rendaman daun jambu biji. Perlu dua sampai dua hari untuk menciptakan warna alami.

Nafisah lebih menyukai pewarnaan alami dibanding sintetis, meski sebagian orang mengaku pewarnaan alam lebih sulit.

 

Proses membatik. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia

 

Dia suka bereksperimen untuk menciptakan warna baru. “Pewarnaan alam itu asyik, bisa uji coba. rasonyo tu senang kalau biso nemuin warna-warna baru.”

Untuk membuat warna hitam, Nafisah menggunakan rendaman air serutan kayu bulian dicampur dengan tunjung dan kapur—dulu untuk menyirih. Saat ini, dia mencoba membuat warna baru dari ubi ungu. Warna dari bahan alam cenderung terlihat lebih lembut.

Katanya, pelanggan lebih suka bila setiap warna batik ada ceritanya. “Ini ijonya dari daun mangga, ini dari pokat. Pembeli itu lebih seneng, mereka juga bisa cerita ke orang. Warna alami ini tidak berbahaya, cocok untuk kulit sensitif. Makin lama disimpan warna makin bagus.”

Tak banyak pembatik di Seberang yang menggunakan pewarna alami, karena untuk membuat satu warna saja harus bersabar. Pencelupan tidak bisa sekali, dua kali, tetapi berkali-kali,  berbeda dengan pewarnaan sintetis bisa sekali celup.

Bahkan, untuk membuat satu kain batik dengan pewarnaan alam, Nafisah perlu waktu dua sampai tiga bulan. “Sekali celup itu 30 menit, makin lama makin bagus.”

Pada dasarnya, batik Jambi punya warna khas: merah, biru, hitam dan kuning. Umumnya, hanya tiga warna. Satu kain batik, dengan pewarnaan alami bisa dijual Rp 3,5 juta. Makin banyak warna, harga makin mahal.

 

Sulit didapat

Sejak banyak konversi hutan menjadi perkebunan dan tanaman industri, kayu pewarnaan alam makin sulit bahkan sebagian sudah hilang, seperti kayu lambato.

“Kalau sekarang beli dari Jogja. Di sini sudah susah,” kata Nafisah.

“Kadang, kalau kayu bulian itu minta serbuk gergaji di tukang somil,” katanya seraya bilang dulu kayu pewarnaan alam masih gampang di pasar.

Kurun satu setengah dekade terakhir, luas hutan Sumatera hilang hampir dua juta hektar. Tahun 2000,  luas hutan Sumatera mencapai 15, 3 juta hektar, pada 2016, tinggal 13,4 juta hektar, atau 29% dari luas Sumatera. Pembukaan perkebunan monokultur dan pemukiman ditengarai menjadi sumber hilangnya tutupan hutan Sumatera.

“Sekarang, kalau untuk bahan pewarnaan paling ngambil dari tanaman di kampung, mangga, jengkol, daun inai masih banyak. Kalau kayak kayu lambato dak ado lagi, cari di pasar juga susah,” kata Nafisah.