Sepucuk, Lahan Gambut yang Kini Dipenuhi Nanas dan Tidak Terbakar Lagi

Potensi Ekonomi di Lahan Gambut

 

Sumarjito menunjukkan nanas yang dihasilkan di lahannya seluas 6 hektare. Sumarjito dikenal sebagai petani lahan gambut yang menggunakan sistem Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di Kabupaten Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Foto: Indra Nugraha/Mongabay Indonesia

 

Saat Sumatera Selatan dilanda kebakaran besar, di lahan gambut pada 2015, Presiden Jokowi langsung meninjau Sepucuk di Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Sepucuk merupakan kawasan gambut yang dijadikan perkebunan sawit, yang dikelola oleh sejumlah perusahaan dan perorangan. Dua tahun berlalu, bagaimana kondisinya saat ini?

Saat ini, ribuan hektare kebun sawit tersebut dipenuhi nanas yang ditanam pemilik maupun penjaganya. Dan, hampir semua kebun sawit yang ditanami nanas, tidak terbakar pada 2017 ini. “Hampir dua tahun ini nanas dari Sepucuk dijual ke Lampung, Palembang, atau di sekitaran OKI. Dapat dikatakan, Sepucuk sekarang dikenal sebagai sentra nanas,” kata Letkol Inf Seprianizar, Komandan Kodim 0402 Kabupaten OKI, kepada sejumlah anggota Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumatera Selatan, awal Oktober 2017.

Kodim 0402 memiliki tugas melakukan pengawasan terhadap kawasan Sepucuk yang sebelumnya hampir setiap tahun mengalami kebakaran. Selain pengawasan, Kodim 0402 juga melakukan pendampingan terhadap kelompok tani di Pedamaran Timur.

“Kini lahan gambut yang dikuasai masyarakat, yang selama ini sering terbakar, ditanami nanas atau sayuran. Nanas dipilih karena tanaman ini tidak perlu penataan lahan secara khusus, sehingga tidak mengubah karakter gambut. Selain itu, pasarannya jelas dan permintaan dari Lampung cukup tinggi,” kata Seprianizar saat menunjukan lahan gambut di Desa Menang Raya.

 

Baca: Kebun Sepucuk OKI Model Restorasi Gambut Berbasis Ekonomi di Sumsel

 

Desa Menang raya memiliki luas lahan perkebunan sekitar 680 hektare, baik karet maupun sawit. Perkebunan ini dimiliki perorangan. Selain berkebun, masyarakatnya juga memilihara sapi, kerbau, dan pengrajin purun. Tapi kini, sebagian sudah menanam sayuran dan membesarkan ikan.

Menurut Seprianizar jika masyarakat hidup makmur, lahan gambut pasti akan terjaga. “Mereka sendiri menjaganya sebab kalau terbakar tanaman mereka akan rusak,” jelasnya.

 

Tanaman nanas di sela-sela pohon sawit. Tahun 2015 lalu, lahan di Sepucuk ini, terbakar saat musim kemarau. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

 

Sepucuk merupakan satu kawasan gambut yang terletak di Pedamaran Timur dan sebagian kecil di Kecamatan Kayuagung. Di wilayah Pedamaran, baik Pedamaran dan Pedamaran Timur, lahan gambutnya seluas 150 ribu hektare, tapi sekitar 120 ribu hektare telah dijadikan perkebunan sawit. Sebelumnya, kawasan gambut ini merupakan lokasi HPH.

Eko Mustanto, Ketua Kelompok Tani Mekar Sari, bersyukur adanya dukungan penanaman nanas ini. “Kami merasakan dampak positifnya, ternyata lahan gambut itu bukan hanya dapat ditanam sawit juga nanas yang penghasilannya lumayan,” katanya.

Berapa besar penghasilan dari berkebun nanas? “Saat ini belum diketahui secara pasti. Para petani hanya menanam, misalnya, menanam seribu bibit bukan berdasarkan luasan. Mungkin kalau sudah tertata, semuanya dapat dihitung secara pasti. Ini kan baru memulai, dan sudah ada yang memanen,” katanya. Nanas yang dijual petani saat ini berkisar Rp1.000 hingga Rp1.500 per buah.

 

Nanas dari Sepucuk yang dijual di pinggir jalan. Ukurannya lebih kecil, tapi rasanya manis. Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia

 

Siapkan pengolahan

JJ Polong dari Spora Institute yang juga akademisi dari Universitas Sriwijaya mengatakan, pengembangan budidaya nanas di lahan gambut sangat baik karena tidak merusak lahan. “Tapi, pemasarannya jangan hanya mengandalkan dalam bentu buahn. Sebab, jika produksi meningkat harga cenderung menurun. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan pengelolaan,” katanya.

Selain dapat dijadikan selai, kata Polong, juga bisa dibuat diolah menjadi sari buah, saus, keripik, kerupuk, hingga puree atau fruit leather. “Penting sekali dibuat industri pengelolaan hasil nanas sehingga para petani memiliki masa depan dan jaminan pemasaran,” kata Polong.

Najib Asmani, Koordinator TRG Sumsel, menjelaskan saat ini pihaknya dengan dukungan BRG melakukan pembinaan terhadap para petani di sekitar lahan gambut, termasuk penanaman nanas. “Tahun ini atau mungkin tahun depan akan diupayakan pengelolaannya. Alangkah bagusnya jika ada pengusaha yang mau mengembangkan industri ini, yang tentunya mereka membeli nanas dari petani dengan harga bagus,” jelasnya.