Masyarakat Punan Adiu, Setia Menjaga Kearifan Lokal dan Hutan Adatnya

 

Pepohonan begitu padat di hutan adat Dayak Punan Adiu. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

 

Gelak tawa anak-anak Desa Punan Adiu, Kecamatan Malinau Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), memecah keheningan pagi di awal Oktober 2017. Waktu baru menunjukkan pukul 07.00 Wita, namun generasi penerus bangsa ini telah bergegas, menuju Sekolah Dasar (SD) Negri 005 yang berada di desa sebelah yakni Desa Long Adiu, Malinau Selatan Hilir.

Jarak Punan Adiu dan Long Adiu hanya 500 meter. Namun, untuk urusan fasilitas dan sekolah, hanya didirikan di Long Adiu. Sebab, jumlah keluarga di Punan Adiu tidak banyak, hanya 33 KK dari 109 jiwa. Meski begitu, desa ini paling dikenal dengan kearifan lokalnya. Bahkan, Punan Adiu satu-satunya desa yang berhasil mempertahankan hutan adat warisan nenek moyangnya.

“Ayo segera ke sekolah, kita mau ikut lomba. Ada kakak-kakak dari ibu kota yang bawa hadiah,” teriak Devit seraya melambaikan tangan ke arah kawan-kawannya. Devit adalah anak pedalaman Suku Dayak Punan Adiu yang merupakan siswa SD 005 Long Adiu. Total, hanya 36 siswa di sekolah ini.

Bersama 35 siswa lain, Devit akan mengikuti berbagai perlombaan yang diadakan Non Timber Forest Product – Exchange Programme Indonesia (NTFP-EP). Lomba ini bertujuan untuk mengenalkan kearifan lokal Suku Dayak Punan. NTFP-EP Indonesia merupakan jaringan kerja sama antarorganisasi masyarakat sipil dan komunitas lokal dan adat yang berbasis hasil hutan bukan kayu.

 

Baca: Ketika Dayak Punan Siapkan “Senjata” Melawan Penghancuran Hutan Adat

 

Di Punan Adiu, NTFP-EP bertugas memperkuat kapasitas komunitas, yaitu hasil hutan bukan kayu untuk pengelolaan sumber daya alam yang lestari. Terutama, hasil Hutan Adat Punan Adiu.

“Jarang ada lomba di sekolah, kalau ada kegiatan seperti ini, kami senang sekali,” ujar Devit.

Sebelum perlombaan dimulai, murid-murid berkumpul di balai adat sekolah. Mereka menonton tayangan film kartun, yang menceritakan tentang hutan, dan lingkungan yang harus dijaga. “Hutan sangat penting untuk kehidupan kami, karena kami berburu di sana. Kalau hutan gundul harus ditanami lagi,” tutur Devit.

Tak banyak yang tahu, keunikan suku adat Punan Adiu. Walau termasuk subsuku yang kecil, namun Punan Adiu berhasil menjaga hasil-hasil hutannya sendiri. Mereka hanya mengandalkan hasil hutan sebagai bahan pangan. Meski demikian, mereka kerap mengikuti tren makanan moderen dengan olahan bahan-bahan hutan.

 

Hutan adat Dayak Punan Adiu yang terus dipertahankan masyarakatnya yang merupakan warisan nenek moyang mereka. Foto: Christopel Paino/Mongabay Indonesia

 

Warga Desa Punan Adiu yang juga guru SD 005 Long Aidu, Ursula mengatakan, kebiasaan Suku Dayak Punan Adiu umumnya sama dengan sub-sub Suku Dayak lainnya. Berburu, memancing, berladang, dan masuk hutan untuk mencari sumber-sumber pangan dan ekonomi keluarga.

Warga Punan Adiu juga tidak pernah memercayakan bahan pangan pada produk-produk instan yang dijual bebas di pasaran. Sebab, hasil hutan adat mereka sudah memenuhi itu semua. “Kami punya 17 ribu hektare hutan alami yang tidak boleh disentuh industri. Di dalamnya adalah surga makanan yang tidak bisa didapat di tempat lain,” katanya.

Ursula kemudian menunjuk olahan tepung ubi, yang menjadi salah satu bahan perlombaan. Tepung ini murni berbahan dasar singkong meski sekilas tampak seperti tapioka. “Kalau tapioka ada campurannya dan diolah dengan moderen, kalau ini murni singkong parut yang diendapkan. Saya buat berbagai kue dari tepung ini,” ungkapnya.

Ada juga bahan perasa makanan yang dinamakan ‘kay’. Sejenis daun-daunan yang bila dicelupkan ke makanan, akan menghasilkan rasa seperti penyedap instan. “Coba masukkan daun ini ke semua olahan bahan makana Hasilnya, jauh lebih nikmat dari penyedap,” ujarnya.

Ursula juga menunjukkan buah-buahan padat berwarna coklat kekuning-kuningan yang disebut lempessu. Buah itu banyak ditemukan di hutan adat Punan Adiu. Mereka menggunakan lempessu sebagai pengganti asam pembuatan rujak, atau pengganti jeruk nipis dalam olahan ikan agar tidak berbau amis. “Rasanya kecut. Kami biasa ambil di hutan, kalau dapat banyak, bisa dijual di kota,” sebutnya.

Ada juga umbut rotan yang bisa dimakan mentah, umbut aren, yang termasuk dalam bahan makanan utama, keladi sebagai bahan karbohidrat, padi gunung, jagung manis, bawang dayak, dan berbagai sayuran hutan. Semua bahan makanan tersebut dijadikan bekal perlombaan siswa SD 005.

“Perlombaan seperti ini paling ditunggu anak-anak, karena mereka kembali mengenali bahan-bahan makanan yang biasa mereka dapat di hutan. Ini menyenangkan sekali, sebab lombanya sangat mudah dan hadiahnya banyak. Sebagai anak pedalaman, mereka harus menjaga kearifan lokal agar tidak tergerus zaman,” harap Ursula.

 

Masyarakat Punan Adiu tetap mempertahankan kearifan lokal, seperti mengolah makanan yang berbagai bahannya mereka peroleh dari hutan. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia

 

Hutan adat

Conservation Officer NTFP-EP, Natasya Muliandari mengatakan, ini adalah belajar bersama tentang hutan melalui pendidikan lingkungan hidup bagi siswa SD. Program ini menggandeng LP3M Malinau. “Kegiatan diikuti seluruh siswa dan guru. Siswa diajak menonton film pendek, menggambar serta bermain sambil belajar. Tujuannya, mengenalkan sejak dini sumber makanan dari hutan.”

Dijelaskan Tasya, Punan Adiu adalah masyarakat yang bergantung pada hutan. Secara adat, mereka adalah pemburu dan pengumpul, sehingga sumber pendapatan utama dari pertanian dan berburu. Menanamkan kecintaan anak-anak pada hutan adalah hal yang penting dilakukan. Sebab, adat-istiadat bisa punah jika tidak dilestarikan.

“Kearifan lokal Punan Adiu terjaga baik. Meski anak-anak nantinya melanjutkan pendidikan ke kota, mereka tidak melupakan adat budayanya. Setiap pulang ke desa, mereka akan ikut berburu di hutan atau mengumpulkan bahan makanan,” jelasnya.

 

Tampak siswa SD diminta menyebutkan nama makanan khas mereka, Punan Adiu, dengan mata ditutup. Sejak dini, anak-anak diajarkan untuk mengenal lingkungan dan hutan adat mereka. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia

 

Kepala Bidang Statistik Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Malinau, Aan Hartono menyebutkan, menjaga kelestarian hutan melalui pemeliharaan, perbaikan, dan penghijauan dapat meningkatkan nilai ekonomi hutan dan lingkungan. Termasuk, kepada masyarakat yang tinggal disekitar hutan. “Ketergantungan warga adat di Malinau pada pemanfaatan sumber daya hutan dapat dilihat dari berbagai bentuk kearifan hidup mereka,” sebutnya.

Tidak hanya dikonsumsi sendiri, hasil hutan juga sering mereka jadikan sumber ekonomi. Umumnya, mereka membawa hasil-hasil hutan ke kota dan menjualnya di pasar-pasar tradisional atau di pinggir jalan. “Ini menariknya, meski di pedalaman, semua warga desa di Malinau bisa memutar ekonomi sendiri.”

Aan menyebut, basis pengelolaan hutan yang diterapkan masyarakat adat di Desa Punan Adiu, telah membawa dampak positif bagi kelestarian hutan mereka. “Sesuai program Gerakan Desa Membangun oleh Bupati Malinau Yansen, pembangunan ekonomi dan kelestarian hutan di Malinau telah meningkat. Pelestarian hutan adat oleh warga adat Punan Adiu, merupakan contoh nyata yang patut diteladani,” pungkasnya.