Adaptif Perubahan Iklim, Padi SRI Diperkenalkan untuk Wilayah Bercurah Hujan Rendah

Perempuan tani Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang sedang memasukan padi yang sudah digiling ke dalam karung. Lahan sawah ini mempergunakan metode SRI. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Tantangan pengembangan budidaya padi di lahan yang curah hujannya rendah seperti Nusa Tenggara Timur adalah ketersediaan air untuk area persawahan yang minim. Hal ini menyebabkan hanya sebagian kecil petani saja mengerjakan lahan basah. Padahal potensi pertanian lahan basah masih sangat besar yaitu sekitar 214 ribu hektar.

Sistem yang saat ini dicobakan adalah budidaya padi  lewat SRI (System of Rice Intensification) yang mampu meningkatkan hasil panen dengan kebutuhan air yang lebih sedikit. Hasil penelitian di berbagai negara SRI meningkatkan produktivitas padi hingga 100 persen seperti di Madagaskar, 65% di Afghanistan, 42% di Irak, dan 11.3% di Tiongkok.

Dalam uji coba demplot di Desa Baumata, Tabenu dan Tarus, Kabupaten Kupang, buah kerjasama Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), sistem ini sukses diterapkan.

Jika rata-rata metode konvensional menghasilkan 5-6 ton/ha, dengan metode SRI di Baumata mampu menambahkan produktivitas padi 3 ton/ha dari cara konvensional. Di Desa Tarus yang semula rata-rata hasil panen padi 5,6 ton/ha, menjadi 12 ton/ha dengan metode SRI pada satu musim tanam, yaitu musim hujan awal tahun.

‘’Metode SRI merupakan sebuah inovasi untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus sebagai upaya adaptasi untuk mengantisipasi perubahan iklim,” jelas Tonny Wagey, Direktur Eksekutif ICCTF kepada Mongabay Indonesia di lokasi panen Desa Tarus (21/10).

Sistem SRI kata Tonny, merupakan metode berkelanjutan untuk pertumbuhan tanaman dengan menggunakan bibit berumur muda (7 hari setelah pembenihan), jarak tanam lebar, pupuk organik, irigasi terputus-putus dan beberapa penyiangan, yang memiliki produktivitas padi lebih tinggi dibandingkan dengan pengelolaan sistem konvensional.

“Kalau sistem konvensional menggunakan bibit 25 hari setelah pembenihan, penggenangan air secara terus-menerus, jarak tanam rapat dan pemakaian pupuk kimia yang tinggi,” jelasnya.

Tonny menambahkan, untuk memantau dan merekam data cuaca di wilayah pertanian pihaknya memperkenalkan teknologi telemetri untuk analisis iklim mikro seperti hujan, suhu, dan kelembapan tanah yang dapat diakses oleh kelompok tani di lokasi program. Alat telemetri memiliki daya jangkau 100 hektar untuk lahan datar sementara lahan berbukit cakupannya 10 hektar.

 

Padi yang ditanam dengan metode SRI (System Of Rice Intensification) di lahan petani Desa Baumata. Seorang petani sedang memantau sawahnya setelah usai hujan deras Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

 

Cocok Bagi NTT

Budidaya padi SRI memiliki kelebihan yaitu hemat air, hemat bibit, hemat biaya, hemat waktu, dan organik sehingga rendah emisi dan ramah lingkungan. Budidaya ini cocok diterapkan di wilayah seperti NTT yang beriklim kering dan dipengaruhi angin musim. Curah hujan di NTT berdasarkan pengamatan rerata adalah 1.300-1.500 mm/tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produktivitas petani padi provinsi NTT berada dibawah rata-rata nasional. Tahun 2015 hanya sebesar 3,56 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar atau 67 persen dibawah produktivitas nasional yaitu 5,34 ton/hektar. Bahkan masih kalah dengan provinsi tetangga seperti NTB yang 5,17 ton/hektar atau Maluku dengan 5,57 ton/hektar.

“Program di NTT ini merupakan satu dari 42 proyek yang dikembangkan di Indonesia. Satu-satunya dan pertama di luar Jawa. Tantangan terbesarnya bagaimana memasukan program ini dalam kegiatan pemerintah,” ungkap Tonny.

Demplot SRI kerjasama ICCTF-FTP UGM sendiri, dilaksanakan mulai musim tanam kedua bulan Mei 2016 dan berlangsung sampai sekarang. Penanaman padi dilakukan 2 kali dalam setahun dan hasil demplot menunjukkan terjadi peningkatan produktivitas padi dengan metode SRI.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya yang hadir dalam perayaan panen padi SRI ini memberikan apresiasinya. Dia menyebut sistem ini patut dicontoh dan diimplementasikan di wilayah lain NTT.

“Masyarakat NTT selama ini melihat sawah itu selalu banyak air. Sistem ini bisa mengubah cara pandang masyarakat tentang sawah yang tidak butuh banyak air. Perlu sosialisasi terus menerus agar bisa meyakinkan petani,” jelasnya.

Saat ini program SRI diterapkan bersamaan di 18 provinsi di Indoensia dengan fasilitasi dari ICTTF. Diluar itu masing-masing provinsi sudah menjalankan kegiatannya lewat arahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Bappenas.

“Ini sudah menjadi komitmen Presiden Jokowi untuk menugaskan Bappenas mengkordinasikan penyusunan program nasional adaptasi perubahan iklim,” jelas Rohmad Supriadi, Kepala Biro Perencanaan, Organisasi dan Tatalaksana (Renortala) Kementerian PPN/Bappenas.

Dia menyebut dampak perubahan iklim akan berpengaruh kepada kelompok masyarakat seperti petani yang tergantung pada sumberdaya alam. Petani ujarnya, perlu beradaptasi dengan perubahan curah hujan, suhu udara, dan ketersediaan air yang menentukan waktu tanam, varian tanaman dan pola tanam.

 

Para petani sedang memanen padi yang ditanam dengan metode SRI di lahan demonstrasi plot (Demplot) Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

 

Coba untuk Dikembangkan

Dr. Murtiningrum, dari FTP-UGM menyebut pemilihan desa dilakukan dengan cermat. Seperti Baumarta, jelasnya dipilih karena desa berpenduduk 2.442 jiwa ini memiliki jalur irigasi pertanian yang tidak permanen. Akibatnya resiko kegagalan panen desa ini besar di masa lalu.

“Tercatat di tahun 2015, dari 146 hektar lahan pertanian di Desa Baumata, 34,5 hektar mengalami gagal panen akibat salah memprediksi musim sehingga menyebabkan gagal tanam dan gagal panen,” ungkapnya.

Dalam sistem SRI pun petani diperkenalkan dengan “tanam maju” alih-alih “tanam mundur” yang lebih dikenal umum. Menurutnya dengan “tanam maju” tidak merusak garis-garis tanam yang telah dibuat.

“Juga dalam metode SRI menggunakan bibit muda, jarak tanam lebar sekitar 30 sentimeter, pemberian air lebih hemat dan pemberian pupuk kompos sebanyak mungkin agar tanah lebih sehat,” terangnya.

Petani juga diperkenalkan dengan membaca data di lapangan, seperti alat telemetri.

“Alat Telemetri untuk membaca data untuk menentukan musim tanam serta data-data lainnya terkait cuaca dan selama seminggu sekali data yang terbaca akan dianalisa dan disampaikan kepada petani saat pertemuan mingguan di kelompok,” jelas Dr. Polce Nainiti, dosen Universitas Kristen Arta Wacana yang juga terlibat dalam proyek ini.

Niko Too petani asal Baumata mengakui, telah menguji coba di lahan sawah miliknya. Jelasnya untuk satu hektar hasilnya antara 11-12 ton, dua kali lipat dengan metode biasa yang hanya 5-6 ton. Hal sama disampaikan Yanes Sain petani asal Tarus. Dia menyebut dari 10 are lahan biasanya hasil panen sebesar 600 kg gabah, namun sejak menggunakan metode SRI produksi padi meningkat seratus persen menjadi 1.200 kg.

Awalnya sebut Yanes, petani masih ragu, karena pola tanam 1 anakan ala SRI dianggap beresiko, namun setelah melihat hasilnya petani mulai tertantang untuk belajar menerapkan di lahan sawah.

“Bila melihat hasilnya kami merasa tertarik tapi metode ini pantasnya diterapkan saat musim kemarau di saat debit air berkurang. Saat musim hujan tentu debit air mencukupi. Kami akan coba juga saat musim hujan, tapi air harus disesuaikan,” ujar Ishak Neo, Ketua Kelompok Rukun Tani Desa Tarus.

Dia berharap petani dapat terus didampingi dan diarahkan agar terbiasa dengan metode baru, sebab jelasnya petani banyak yang masih menggunakan cara tanam tradisional atau konvensional.

Meski terbilang sukses, belum semua petani beralih ke SRI. Untuk petani yang memiliki lahan satu hektar menanam padi, misalnya hanya sekitar ¼ hektar lahan milik yang menggunakan sistem SRI. Sementara lahan sisanya ditanami padi Ciherang dengan sisitem tanam jajar legowo. Padahal meski hasil produksinya sama, namun biaya produksi lebih besar sebab banyak mengkonsumsi pupuk urea.

Namun Polce Nainiti tidak berkecil hati. Menurutnya petani sedang beradaptasi dan berproses dengan sistem baru ini. Dia menyebut orientasi akan berlangsung sejalan dengan pengetahuan petani.

“Ada dua kunci suksesnya sebuah metode; yakni rekayasa sains dan rekayasa sosial atau kemampuan petani untuk mulai berubah dan mengembangkan teknik pertanian yang benar,” jelasnya.