Atlas Dunia Bawah Tanah, Bagaimana Wujudnya?

 

Inilah atlas dunia bawah tanah. Sumber: Jurnal Tectonophysics, edisi 18 Oktober 2017

 

Lasciate ogni speranza, voi ch’entrate, itulah tulisan di pintu gerbang ke Inferno (api yang menyala). Siapapun yang masuk ke sini, tinggalkanlah semua harapan, atau cara halus untuk mengatakan “Selamat Datang di Neraka.”

Inferno adalah bagian pertama dari puisi-puisi terkenal karya Dante Aleghieri dari abad ke-14 dalam kumpulan epik Divine Comedy. DI sini digambarkan dunia bawah tanah yang ternyata adalah neraka yang dipenuhi dengan kengerian luar biasa.

Tentu saja itu adalah fiksi. Meski begitu, ada dunia bawah yang nyata, dan para ilmuwan sedang mengerjakan peta komprehensif tentang itu.

Bumi juga adalah rumah bagi dunia yang terkubur, jauh di bawah permukaannya (underworld). Dunia bawah tanah ini terbuat dari lempeng-lempeng tektonik mati, yang dulunya adalah permukaan Planet Bumi, dan seiring waktu terdorong ke bawah secara terus menerus hingga ke inti.

Dunia tersembunyi inilah yang sedang dipetakan oleh para ilmuwan, yang kini disebut sebagai “Atlas Dunia Bawah Tanah” sebagaimana dipublikasikan dalam Jurnal Tectnophysics, edisi 18 Oktober 2017.

 

Gambaran Atlas of the Underworld. Sumber: Atlas of the Underworld.org

 

Lempeng-lempeng tektonik (yang sering disebut slab), ‘mengambang’ di atas lapisan inti bumi, dan bergerak secara bebas. Namun, pergerakan-pergerakan slab yang disebabkan oleh gempa bumi, pergeseran benua, dan kejadian-kejadian lain -sebuah proses yang disebut subduksi- bisa mengakibatkan satu lempeng meluncur dan menyelip di bawah lempeng lain, dan mendorongnya ke lapisan inti bumi. Beberapa dari lempeng tektonik ini turun jauh ke bawah hingga 2.900 km di bawah permukaan bumi.

Ilmuwan-ilmuwan Belanda; Douwe van der Meer, Douwe van Hinsbergen, dan Wim Spakman dari Utrecht University, sebagaimana dikutip dari Ars Technica, telah memetakan 94 lempeng tektonik purba di lapisan inti. Lalu, menghubungkannya dengan kejadian-kejadian geologis saat lempeng-lempeng tersebut masih di permukaan bumi ratusan juta tahun lalu.

Sementara beberapa lempeng di bawah subduksi sekitar 300 juta tahun yang lalu, terlacak pada patahan-patahan aktif seperti yang ada di sepanjang pantai barat Amerika Serikat.

Para ilmuwan menggunakan semacam CT scan di Bumi, gelombang seismik untuk menemukan ‘slab-slab’ ini di berbagai kedalaman. “Ini adalah pertama kalinya lempeng di seluruh dunia dipetakan,” kata Wim Spakman.

Diperlukan peneliti hampir 15 tahun untuk mengumpulkan data geologi dari seluruh dunia, yang mencakup sejarah bumi ratusan juta tahun lalu untuk membangun atlas dunia bawah tanah. “Sebagian besar informasi sudah tersedia, namun sebagian besar adalah dalam bentuk proyek-proyek penelitian yang terpisah. Kami telah mengumpulkan semua potongan tersebut, seperti sebuah jigsaw,” Spakman menambahkan.

Atlas of Underworld adalah pencapaian signifikan yang menghubungkan struktur lapisan inti bumi saat ini dengan sejarah tektonik lempeng planet kita,” Jonny Wu dari University of Houston, yang tidak terlibat dalam penelitian atlas bawah tanah, sebagaimana keterangannya kepada ArsTechnica. “Seperti peta genom manusia, hal ini  akan memberi landasan bagi penemuan masa depan tentang planet kita.”

Selain menyediakan gambaran akurat tentang lokasi, kedalaman dan umur lempengan dan bagaimana kaitannya dengan  gunung berapi yang aktif atau tidak aktif, atlas ini juga dapat membantu menjelaskan evolusi mantel, lapisan inti Bumi. Periset juga menggunakan peta ini untuk mengembangkan metode baru untuk mendeteksi endapan mineral.

Salah satu peneliti, Van de Meer, menggunakan peta tersebut untuk menghitung berapa banyak karbon dioksida yang telah dipancarkan oleh gunung berapi di masa lalu. Dengan informasi ini, para ahli geofisika telah memberikan informasi berharga bagi kita semua bagaimana inti Bumi bekerja. Inilah hasil dari bagaimana 94 lempeng tektonik berhasil diungkap, dan Atlas of Underworld berhasil dibuat.

 

Alur interpretasi wilayah Australasia. Sumber: Jurnal Tectonophysics, edisi 18 Oktober 2017

 

Para peneliti masih berusaha mengungkap lebih banyak data untuk ditambahkan ke atlas dunia bawah tanah. Mereka berhasil mengidentifikasi lempeng 95 dan 96. “Kami telah menemukan dua lagi di wilayah timur Mediterania. kami akan menerbitkannya  tahun depan dan akan ditambahkan ke Atlas,” kata van Hinsbergen. “Di dalam lapisan inti bumi di bawah Antartika, mungkin ada beberapa lempeng tambahan, namun model tomografi saat ini memiliki resolusi yang tidak memadai untuk membuat kami yakin 100 persen.”

Kurangnya data geologi permukaan di beberapa daerah juga menyebabkan beberapa penundaan. “Di Australasia tenggara, di mantel bawah yang lebih dalam, kita melihat lebih banyak lapisan, namun tidak ada cukup literatur geologi yang tersedia sampai saat ini,” kata van der Meer.

“Penelitian geologi di seluruh dunia niscaya akan menghasilkan data yang menunjukkan bahwa beberapa interpretasi kita tentang planet bumi mungkin perlu disesuaikan. Kami akan sangat senang menerima informasi baru tentang hal tersebut, dan telah membuat situs web di mana semua orang orang dapat melihat interpretasi geologis kami, dan memberikan feedback,” tegas Van der Meer.

Peneliti juga menemukan bahwa di dalam “kuburan” lempeng tektonik ini, setidaknya ada dua gumpalan cair misterius yang berada di bawah Samudera Pasifik dan Benua Afrika. Ada kemungkinan gumpalan-gumpalan ini adalah lempeng tektonik tua yang sangat panas. Jika benar, dikhawatirkan, suatu saat nanti, bisa berubah menjadi “superplumes”  yang akan naik ke permukaan dan menghancurkan kerak Bumi. (Berbagai sumber)