Titik Api Kembali Bermunculan di Aceh, Apa Penyebabnya?

 

Masyarakat Aceh Barat harus menggunakan masker akibat kebakaran yang terjadi di lahan gambut. Kebakaran merupakan bencana tahunan yang belum terselesaikan hingga kini. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Sejumlah titik api kembali muncul di Aceh. Di Kabupaten Aceh Barat, titik api yang bersumber dari pembukaan lahan untuk perkebunan dengan cara dibakar, menyebabkan jalan nasional yang menghubungkan kabupaten tersebut dengan Kabupaten Aceh Jaya dan Kota Banda Aceh diselimuti asap.

“Sore atau pagi hari, asapnya sangat tebal, jarak pandang sangat terbatas. Warga sangat terganggu dengan kebakaran ini,” sebut Dedi Gunawan, warga Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, pada 24 Oktober 2017.

Dedi mengatakan, kebakaran hutan khususnya hutan gambut di Aceh Barat sudah sering terjadi. Asap muncul akibat pembakaran hutan gambut untuk dijadikan kebun kelapa sawit. “Penegakan hukum untuk pelaku harus dilakukan, banyak warga yang harus menanggung akibatnya,” tambahnya.

 

Baca: Api Berkobar di Lahan Gambut Aceh Barat, Bencana Tahunan yang Kembali Terulang

 

Kepala BPBD Aceh Barat, Syahluna Polem kepada wartawan menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti beberapa daerah di Kabupaten Aceh Barat terjadi karena kebakaran lahan gambut. “Ada pemilik lahan yang membersihkan dengan cara membakar. Petugas BPBD Aceh Barat dibantu kepolisian dan TNI telah memadamkan api di beberapa tempat, khusunya di Kecamatan Kaway XVI dan Johan Pahlawan,” terangnya kemarin.

Syahluna menambahkan, dibeberapa tempat, tim pemadam kesulitan memadamkan api karena lokasi yang jauh dari jalan. Tidak ada sumber air yang bisa diambil. “Pompa air jadi tidak berguna karena tidak ada sumber air, akhirnya tim memamdamkan api dengan cara manual,” ujarnya.

 

Memadamkan api yang berkobar di lahan gambut bukan pekerjaan mudah. Bencana kebarakan ini merupakan agenda tahunan yang terus terulang. Sampai kapan terjadi? Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Titik api akibat pembersihan lahan gambut untuk dijadikan kebun juga terdeteksi di hutan gambut Rawa Tripa, Kabupaten Nagan Raya, dan di hutan gambut Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

Di Rawa Singkil, titik api yang jumlahnya belasan, tersebar di Kecamatan Trumon Selatan, Kabupaten Aceh Selatan. Titik api paling banyak terlihat di Desa Ie Meudama, yang sebagian besar telah menjadi perkebunan sawit. Pada Juni 2017, belasan hektar hutan SM Rawa Singkil juga dibakar di desa ini. “Lahan itu memang sengaja dibakar untuk dijadikan kebun sawit, umumnya sang pemilik berasal dari luar Trumon,” sebut Imran, warga setempat.

 

Baca juga: Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Gambut yang Terus Dirambah

 

Pembukaan lahan di Suaka Margasatwa Rawa Singkil ini diakui oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo. Di depan kepala desa yang berbatasan langsung dengan SM Rawa Singkil, Sapto menyebutkan, dirinya menemukan warga yang mengaku membuka lahan, karena tidak memiliki lahan. Tapi, setelah lahan dibuka, dijual ke pengusaha.

“Saya memiliki bukti kejadian, pembukaan lahan dilakukan untuk mencari keuntungan dengan menjual ke orang lain. Setelah itu, warga kembali mengaku butuh lahan pertanian atau perkebunan,” terangnya, pada 19 September 2017.

Sapto menambahkan, Rawa Singkil merupakan hutan gambut layaknya sponse yang ketika air datang akan diserap dan di simpan. Namun, saat tidak ada air, sedikit-sedikit air dilepaskan. Keberadaannya sangat penting, salah satunya untuk menjaga agar daerah tersebut tidak banjir.

“Jika Rawa Singkil terus rusak akibat pembukaan lahan, banjir lebih parah akan terjadi. Belum lagi daerah-daerah itu akan kekurangan air saat kemarau,” ujarnya.

 

Kondisi SM Rawa Singkil yang terbakar. Wilayah ini secara terang-terangan dirambah. Foto diambil 13 Juni 2017. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Pantauan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh mengungkapkan, pada Selasa, 24 Oktober 2017, tercatat ada 60 titik api yang tersebar di 12 kabupaten/kota di Aceh.

“Nagan Raya (16 titik), Aceh Barat (15 titik), Aceh Tengah (10 titik), Bireun (7 titik), dan Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Selatan (4 titik),” jelas Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Blang Bintang, Zakaria.

Sementara, hasil pantaun satelit yang dilakukan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) mencatat dari 16-23 Oktober 2017, di Aceh muncul sekitar 662 titik api yang tersebar di 17 kabupaten/kota.

Sekretaris HaKA, Badrul Irfan mengatakan, jumlah titik api tersebut diketahui berdasarkan data yang didapat pada portal Global Forest Watch (GFW). Portal ini dapat diakses siapapun untuk memantau jumlah titik api.

“Titik api dipantau melalui data Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS). HAkA mendeteksi menggunakan satelit Suomi-NPP. Sementara nama produknya adalah VIIRS yang melengkapi data MODIS,” jelasnya.

Badrul mengatakan, dari 662 titik api, jumlah terbanyak terdeteksi di Nagan Raya, yaitu 107 titik. Disusul Aceh Barat (106 titik), Aceh Tengah (86 titik), Aceh Selatan (72 titik) dan Gayo Lues (53 titik). “Pemerintah dan semua pihak harus terus menekankan larangan pembakaran lahan di musim kemarau seperti sekarang ini,” tandasnya.