Ada Ratusan Jenis Anggrek dari Hutan Batang Toru

Bulbophyllum variabile, anggrek sebaran baru di ekosistem Batang Toru. Foto: Gabriella Fredriksson/ Mongabay Indonesia

 

Sekitar 205 jenis anggrek ditemukan di hutan Batang Toru, didominasi marga Bulbophyllum, diikuti Dendrobium dan Eria. Bulbophyllum terbanyak, sekitar 30 jenis.

“Surganya bunga anggrek itu di hutan Batang Toru. Banyak temuan jenis anggrek baru disana. Ini harus tetap dijaga, hutan jangan sampai rusak agar surga anggrek ini bisa tetap ada, tak habis karena ekosistem rusak,” kata Dewi Kurnia Arianda, Analis Bunga Anggrek Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), baru-baru ini.

Survei YEL selama tiga tahun lebih dilakukan para peneliti dan analisis anggrek yang tersebar di tiga kabupaten, yaitu Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Sumut).

Ratusan bunga anggrek ini ditemukan di sembilan lokasi dalam ekosistem Batang Toru, terbagi dalam beberapa wilayah yaitu hutan Batang Toru  blok barat, blok timur, beberapa di cagar alam. Lima antara lain, sebagai jenis anggrek baru termasuk marga Coelogyne, Bromheadia, dan Renanthera.

Dari berbagai jenis anggrek itu, ada yang telah teridentifikasi di Indonesia, ada jenis hanya tumbuh di Sumatera.

Selama ini, katanya,  di Toba Samosir sudah berhasil mengidentifikasi setidaknya 112 jenis anggrek. Setelah penelitian, ternyata ada jenis baru dan lebih banyak dari Toba Samosir.

Secara garis besar anggrek dapat tumbuh di berbagai tempat yang memungkinkan seperti tanah berhumus, rawa, batu cadas, pohon dan akar tumbuhan lain.

Anggrek berdasarkan sifat tumbuh terbagi dua, epifit dan teresterial. Epift merupakan jenis paling banyak dan menarik ditemukan di ekosistem hutan Batang Toru. Anggrek ini tumbuh di batang pohon namun tak merusak inang. Anggrek jenis ini tumbuh di batang pohon untuk fotosintesis.

Dari sembilan lokasi survei, bukan hanya hutan-hutan Batang Toru,  blok barat salah satu paling banyak jenis anggrek unik dalam spesies baru serta endemik Sumatera.

Lokasi lain tak kalah menarik hutan Batang Toru blok timur. Setidaknya, 36 jenis anggrek, dan satu jenis anggrek baru dari marga Coelogyne.

Selain itu, ada temuan baru masuk catatan baru (new record) dalam persebaran tumbuh, yaitu Bromheadia rupestris Ridl, Bulbophyllum variabile Ridl., Corybas holttumii J. Dransf. & G. Sm, dan Odontochilus macranthus Hook.f. Dimana B. rupestris, B. variabile, C. holttumii dan O. macranthus termasuk jenis sangat jarang ditemukan.

Menurut literatur, keempat jenis ini hanya tumbuh di Semenanjung Malaysia. Setelah berbagai survei, ternyata B. Rupestris, B. Variabile, C. holttumii dan O. Macranthus juga ada tumbuh di hutan Batang Toru. “Ini jadi pertama di wilayah Sumatera.”

Di ekosistem Batang Toru, kata Dewi juga ada beberapa jenis endemik Sumatera yang menarik, seperti Dendrobium igneoniveum J. J. Sm., Paphiopedilum superbiens (Rchb. f.) Stein., dan Paphiopedilum tonsum (Rchb. f.) Stein dan P. tonsum.

 

Coelogyne sp. Foto: Gabriella Fredriksson/ Mongabay Indonesia

 

“Banyak hal lain yang unik selama survei. Informasi cukup luas makin memperbanyak perbendaharaan kita bahwa ekosistem Batang Toru memiliki jenis anggrek unik dan cantik, ” kata Dewi.

Salah satu anggrek temuan di hutan Batang Toru dari marga Gastrodia. Anggrek ini hidup sebagai saprofit, memiliki batang tetapi tak berdaun.

Anggrek ini memiliki akar di atas permukaan tanah ataupun serasah-serasah daun.  Jenis Gastrodia temuan ini ada perbedaan bentuk dengan Gastrodia effusa.

“Kita akan identifikasi lanjutan untuk jenis Gastrodia ini. Semoga hasil mantap” kata alumni Biologi Universitas Sumatera Utara (USU) ini.

Gabriella Fredriksson, biasa disapa Gaby, Koordinator Program Batang Toru – Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP, PanEco – YEL), mengatakan mendukung berbagai upaya perlindungan flora fauna di ekosistem Batang Toru.

Untuk spesies anggrek, masih dideskripsikan secara reguler, namun dengan menemukan tiga jenis anggrek Coelogyne yang besar dan cantik dari sungguh menakjubkan.

“Lebih 200 spesies anggrek telah diidentifikasi. Harus ada upaya untuk melindungi, salah satu menjaga dari perusakan ekosistem dan alih fungsi kawasan hutan Batang Toru,” ucap Gaby.

 

Vanda sp, sudah banyak budidaya. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia