Ibrahim, Ahlinya Tumbuhan dan Satwa Liar Leuser

 

Ibrahim yang mengenal sekitar seribu jenis tumbuhan di Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Namanya singkat, Ibrahim, seringkas pendidikan formalnya yang hanya tamatan SD (Sekolah Dasar). Namun, bagi peneliti dan aktivis lingkungan yang melakukan kegiatan di hutan Leuser, Provinsi Aceh, justru memanggil pria paruh baya ini dengan gelar kehormatan Profesor.

Profesor yang disematkan di depan nama Ibrahim bukan tanpa alasan. Keahlian lelaki kelahiran Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara, 1964 ini, jarang dimiliki orang lain meskipun berpendidikan tinggi. Di Aceh, Ibrahim satu-satunya sosok yang mengenal berbagai jenis tumbuhan hutan dan satwa liar yang makan buah atau daun tumbuhan tersebut. Bahkan, Ibrahim tahu kapan pohon itu berbunga dan berbuah.

“Ada sekitar 1.000 jenis tumbuhan yang saya kenal nama lokalnya dan sebanyak 400-an tumbuhan dengan nama ilmiah. Termasuk, siklus tumbuhan dan satwa yang memakan buah atau daunnya,” jelasnya.

 

Baca: Stasiun Riset Ketambe, Bukan Orangutan Sumatera Saja yang Bisa Diteliti

 

Ibrahim mampu menggunakan hampir semua metodologi penelitian tentang kawasan hutan. Sebut saja metode grid cell, kamera jebak, focal animal sampling, pengambilan sampel primata, identifikasi jejak mamalia besar, dan ikan air tawar. Termasuk juga mengoperasikan global positioning system (GPS) dan navigasi hutan.

Sudah tidak terhitung, jumlah peneliti yang dibantu Ibrahim menyelesaikan pendidikan S1, S2, S3, bahkan untuk meraih gelar profesor. Belum lagi, riset yang dilakukannya dengan lembaga swadaya masyarakat tentang isu lingkungan dan satwa.

 

Ibrahim dberi gelar Profesor oleh para peneliti dan pegiat lingkungan di Leuser karena kemampuannya yang luar biasa akan tumbuhan dan satwa liar di Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Kaya pengalaman

Pria yang menetap di pinggir Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) atau di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, ini memang tidak menempuh pendidikan formal untuk memahami seluk beluk tumbuhan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Pengetahuan itu diperoleh dari orangtuanya dan beberapa ahli pendahulunya.

Ketambe merupakan daerah yang sering didatangi pelancong asing untuk menikmati indahnya hutan Leuser dan juga peneliti. “Awalnya di Ketambe, saya hanya jadi petani, banyak waktu saya habiskan di kebun. Namun, karena banyak wisatawan dan peneliti, saya tertarik untuk menemani mereka,” tutur Ibrahim kepada Mongabay Indonesia, saat menelusuri hutan di Stasiun Riset Soraya, Kabupaten Subulussalam, Aceh.

Ibrahim “terjerumus” penelitian hutan Leuser pertama kali pada 1986. Saat itu, dia menjadi asisten untuk penelitian siamang dan gibbon, yang dilakukan oleh salah satu universitas di California, Amerika Serikat.

“Penelitian tersebut dilakukan enam bulan. Setelah itu, saya kembali bertani dan sesekali menjadi guide untuk wisatawan yang berkunjung ke Leuser,” sebutnya.

 

Baca: Soraya, Stasiun Penelitian yang Penuh Tantangan

 

Sambil menemani wisatawan dan belajar dari orang-orang tua di tempat tinggalnya, Ibrahim perlahan mengenal beragam tumbuhan lokal dan satwa di Leuser. Salah satu gurunya adalah almarhum Aman Bugam yang pernah mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto, saat itu.

 

Banyak peneliti di Leuser yang dibantu Ibrahim untuk menyelesaikan studinya. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Pada 1991-1992, Ibrahim kembali terlibat dalam riset botani bersama peneliti dari Utrech, Belanda, yang fokus pada keragaman tumbuhan di Ketambe. Berikutnya, pada 1993, Ia menemani peneliti Belanda, Carel Van Schaijck, yang melakukan riset orangutan di hutan Suak Belimbing, Kabupaten Aceh Selatan. Ibrahim mengikuti orangutan sumatera berhari-hari dan mencatat semua perilaku dan apa yang dimakan.

“Saya sangat terkejut, ketika melihat orangutan sumatera bisa makan menggunakan alat, berupa kayu untuk mengambil madu. Ini hal yang sangat menarik.”

Setelah itu, Ibrahim melanglang buana ke sejumlah hutan di Indonesia. Tahun 2000, dia terlibat sebagai konsultan penelitian mikro hidro di Lampung. “Pada 2013, bersama WWF, saya melakukan penelitian jenis pakan badak di Kalimantan Timur. Saya juga diikutkan mencari jejak badak di sana,” ungkapnya.

Pekerjaan yang dilakukan Ibrahim tidak sia-sia. Pada bulan ke enam pencarian badak sumatera itu, Ibrahim dan tim peneliti WWF Indonesia berhasil menemukan satwa langka yang terancam punah tersebut. “Kalau melacak satwa, yang paling sulit adalah badak. Kalau satwa langka lainnya di Sumatera, saya sudah pernah melihat langsung di habitat alaminya.”

Selain meneliti badak di Kalimatan Timur dan Kalimantan Tengah, Ibrahim juga terlibat meneliti satwa di Samar Kilang, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh bersama WWF Program Aceh. Ibrahim juga fokus pada penelitian tumbuhan di Stasiun Riset Soraya dan beberapa tempat lainnya di Aceh bersama Forum Konservasi Leuser (FKL).

 

Ibrahim adalah sosok yang rendah hati, ia terus membantu para peneliti muda Indonesia untuk menyelesaikan risetnya di Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Rendah hati

Meski sering mendampingi peneliti-peneliti ternama seperti Carel Van Schaijck, Nico Van Strein, Elizabeth Fox, dan Ian Singleton, Ibrahim tetap rendah hati. Ia selalu bersedia mendampingi peneliti-peneliti muda Indonesia.

Ridha Abdullah misalnya, alumni Fakultas MIPA Biologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini, penelitian skripsinya dibantu Ibrahinm setahun lamanya. Saat itu, Ridha meneliti badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di hutan Leuser. “Beliau tidak segan membantu peneliti muda seperti saya, berbagi ilmu, bahkan menganggap saya layaknya anaknya sendiri. Wawasannya sangat luas,” jelasnya.

Hal serupa diungkapkan Maidina Fitriana, mahasiswa Unsyiah yang sebulan melakukan Kuliah Kerja Praktek (KKP) di Stasiun Riset Soraya. Menututnya, Ibrahim merupakan orang yang senang berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan.

“Saya KKP tentang fenologi, beliau banyak memberikan pengetahuan baru kepada saya. Caranya menjelaskan tentang tumbuhan begitu mudah dipahami. Hanya sebentar melihat suatu tumbuhan, ia bisa mengenali nama dan jenisnya.”

 

Orangutan sumatera hidup damai di wilayah Stasiun Riset Ketambe. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Direktur Forum Konservasi Leuser Rudi Putra mengatakan, Ibrahim adalah sosok pilih tanding yang memahami semua tumbuhan di hutan Leuser. Menariknya lagi, beliau adalah masyarakat lokal yang hidup di pinggir hutan paru-paru dunia itu. ”Di Indonesia, sangat sedikit orang seperti Ibrahim yang dapat mengidentifikasi tanaman hingga 1.000 jenis.”

Rudi mengatakan, dirinya bersama pegiat lingkungan terus mendorong generasi muda yang tinggal di sekitar hutan Leuser, untuk mengikuti jejak Ibrahim atau berkemampuan seperti Ibrahim. “Sangat sulit menemukan figur seperti Ibrahim. Pengetahuannya sangat layak untuk dibukukan, agar tidak hilang,” tuturnya.

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) merupakan hutan hujan alami yang membanggakan Indonesia dan dunia. Wilayahnya membentang seluas 2,6 juta hektare di dua provinsi. Di Aceh, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan, sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), No.190/Kpts-II/2001, luasnya sekitar 2.255.577 hektare. Sedangkan di Sumatera Utara, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.10193/Kpts-II/2002, luas kawasan hutan dan areal penggunaan lainnya sekitar 384.292 hektare.

 

Badak sumatera, satwa langka dilindungi yang hidup di Leuser. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

 

KEL adalah rumah bagi satwa langka dunia seperti gajah, orangutan, badak, dan harimau sumatera. Di dalam KEL terdapat Taman Nasional Gunung Leuser, kawasan suaka alam, hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, dan hutan produksi yang dapat dikonversi.

Terkait kondisi Leuser saat ini, Ibrahim menyatakan sedih melihat hutannya yang rusak akibat berbagai kegiatan ilegal. Satwanya diburu, padahal hutan ini sangat penting untuk kehidupan umat manusia. “Kita jangan serakah atau pura-pura lupa, bencana akan terjadi jika hutan terus dihancurkan,” tegasnya.